SISTEM EKONOMI ISLAM

SISTEM EKONOMI ISLAM : Negara Wajib Memenuhi Keperluan Asas Setiap Rakyat

Menyelesaikan Masalah Kemiskinan Melalui Pengagihan yang Adil

Masalah kemiskinan sesungguhnya berpangkal pada buruknya pengagihan kekayaan di tengah masyarakat. Kerana itu, masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan tuntas dengan cara menciptakan pola distribution (pengagihan) yang adil. Di mana setiap warga negara dijamin pemenuhan keperluan asasnya dan diberi kesempatan yang luas untuk memenuhi keperluan sekundernya. Kesalahan sistem ekonomi Kapitalis yang diterapkan saat ini adalah, bahawa upaya penghapusan kemiskinan difokuskan hanya pada peningkatan production (pengeluaran), baik produksi total negara mahupun pendapatan per kapita, bukan pada masalah pengagihan. Maka, sistem ekonomi Kapitalis tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah kemiskinan kerana titik pusat persoalannya, iaitu pengagihan kekayaan, tidak ditata sebagaimana semestinya.

Akibatnya, pemerintahan yang datang silih berganti, termasuk di Malayesia, selalu mengarahkan pandangan mereka pada pertumbuhan produksi serta peningkatan pendapatan rata-rata penduduk, namun tidak pernah memberi perhatian pada persoalan bagaimana kekayaan tersebut diagihkan dengan adil di tengah masyarakat. Padahal, dari waktu ke waktu, seiring dengan meningkatnya produksi, telah terjadi penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. Pihak yang kuat meraih kekayaan lebih banyak melalui kekuatan yang mereka miliki. Sedangkan yang lemah semakin kekurangan, kerana kelemahan yang ada pada diri mereka. Hal ini tak ayal semakin menambah angka kemiskinan.

Islam memberikan penyelesaian masalah kemiskinan ini dengan cara yang unik. Intinya, harus ada pola pengagihan yang adil. Soal keadilan pengagihan ini disinggung dalam al-Quran. Allah SWT. berfirman:

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras syariatannya. (Qs. al-Hasyr [59]: 7)

Secara ekonomi, negara harus memastikan bahawa kegiatan ekonomi baik yang menyangkut produksi, pengagihan mahupun konsumsi dari barang dan servis/perkhidmatan, berlangsung sesuai dengan ketentuan syariah, dan di dalamnya tidak ada pihak yang menzalimi ataupun dizalimi. Kerana itu, Islam menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi (produksi, industri, pertanian, pengagihan, dan perdagangan), investasi, mata wang, percukaian, dll, yang memungkinkan setiap orang mempunyai akses untuk mendapatkan kekayaan tanpa merugikan atau dirugikan oleh orang lain.

Selain itu, negara juga menggunakan pola pengagihan non ekonomi guna mengagihkan kekayaan kepada pihak-pihak yang secara ekonomi tetap belum mendapatkan kekayaan, melalui instrumen seperti zakat, shadaqah, hibah dan pemberian negara. Dengan cara ini, pihak yang secara ekonomi ketinggalan tidak semakin disisihkan.

Rakyat Mendapatkan Keuntungan dari Sumberdaya Alam

Sistem ekonomi Kapitalis memberikan peluang kepada perusahaan swasta, baik dari dalam mahupun luar negeri, untuk mengambil keuntungan dari sumberdaya alam yang dimiliki sebuah negara melalui pemberian izin konsesi perlombongan, hak pengusahaan hutan, atau hak istimewa lain. Sementara, sumberdaya alam yang sudah dikelola oleh perusahaan negara juga tak luput dari sasaran. Cepat atau lambat semua akan dialihkan juga kepada perusahaan swasta melalui polisi penswastaan. Akibatnya, tentu saja hasil dari sumberdaya alam itu lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan swasta, sementara rakyat justeru harus menghadapi kesulitan. Setelah diswastakan pasti akan terjadi kenaikan harga satu jalan guna memungkinkan perusahaan swasta itu meraup untung lebih besar. Sebagai contoh, penelitian dari Universiti Indonesia menunjukkan adanya kenaikan harga komoditi energi sejak tahun 1992-2005 baik untuk minyak, gas maupun eletrik. Demikianlah, saat segelintir orang meraup keuntungan yang luar biasa besar dengan menguasai sumber-sumberdaya alam, khususnya sumber daya alam, masyarakat umum justeru terpukul oleh harga minyak yang semakin tak terjangkau. Setiap saat, warga negara harus bersiap menghadapi kenaikan harga minyak dan eletrik sehingga belanja untuk sektor yang semestinya tidak perlu itu justeru semakin hari semakin besar. Akibatnya, rakyat secara sistemik semakin dimiskinkan.

Islam menetapkan sumberdaya alam, khususnya energy (minyak,gas,eletrik) sebagai salah satu kekayaan milik umum. Rasulullah saw. bersabda:

Islam bersyarikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.  (HR. Ahmad)

Sebagai pemilik, maka seluruh rakyat harus dapat menikmati hasil dari sumberdaya alam tersebut. Kerana itu, negara wajib mengelola sumberdaya alam itu dengan sebaik-baiknya, boleh jadi melalui semacam perusahaan milik negara, untuk kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh sama sekali menyerahkan aset sumberdaya alam kepada pihak swasta. Sebab, tindakan ini sama saja dengan menyerahkan sesuatu yang bukan miliknya kepada pihak lain, yang tentu akan merugikan sang pemilik, iaitu rakyat. Daulah Khilafah akan memastikan bahawa rakyat boleh mendapatkan keuntungan dari sumber-sumberdaya alam miliknya itu, khususnya sumberdaya alam, dengan jalan memberikannya secara percuma atau dengan harga kos yang berpatutan bagi seluruh warganegara.

Penghapusan Cukai yang Menindas

Dalam sistem Kapitalisme, pendapatan utama negara adalah dari cukai. Negara akan terus berusaha meningkatkan perolehan cukai agar apa yang disebut biaya pembangunan semakin besar diperoleh. Berbagai upaya terus dilakukan. Objek cukai dan mekanisme cukai baru terus diciptakan. Hasilnya, rakyat tentu semakin terbeban. Cukai Penghasilan akan menggerogoti gaji dan pendapatan rakyat; Cukai Penjualan membuat beban belanja berbagai keperluan asas, termasuk makanan dan ubat-ubatan, menjadi semakin meningkat; sedangkan cukai atas bahan bakar minyak semakin mencekik para pelaku industri dan petani.

Islam memiliki cara tersendiri untuk mengatur pendapatan negara. Diantaranya diperoleh dari hasil kepemilikan umum seperti minyak dan gas; dari sektor pertanian seperti kharaj; dari sektor industri seperti zakat atas barang dagangan; dll. Dengan demikian, Khilafah mampu memperoleh pemasukan yang besar. Pada saat yang sama mampu mendorong aktiviti ekonomi yang luar biasa. Mengenai pajak, Islam membebaskan manusia dari beban cukai yang zalim. Kalaupun ada cukai, itu hanya dipungut dari orang yang masuk kategori kaya dan sifatnya hanya sementara hingga keperluan dana tercukupi. Rasulullah saw bersabda:

Tidak akan masuk syurga para pemungut cuka).  (Hr. Ahmad)

Investasi Dalam Negara Menggantikan Investasi Asing

Melalui penerapan sistem ekonomi Islam yang benar dan konsisten, Baitul Maal dari Daulah Khilafah diyakini akan mampu meraup dana yang cukup besar. Selanjutnya, dana tersebut akan dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan, khususnya sektor yang masuk pada apa yang disebut dengan istilah kewajiban layanan publik atau PSO (Public Service Obligation), yakni sektor pendidikan, kesihatan, dan inftrastruktur (jalan, jambatan, eletrik, air, telefon, dan lainnya).

Juga untuk membiayai industri berat, seperti industri persenjataan, industri berat, dan sebagainya, dan projek-projek besar, seperti pembangunan jaringan telekomunikasi di seluruh negara, pinjaman bebas bunga/riba untuk menggerakkan kegiatan ekonomi rakyat serta bantuan negara untuk rakyat yang memerlukan. Semua itu insya Allah akan dapat direalisasikan tanpa melibatkan investasi atau pinjaman asing.

Membebaskan Negara dari Terjebak dengan Hutang

Pada dasarnya Islam tidak melarang individu, perusahaan, dan negara meminjam wang dari pihak lain. Tapi pinjaman tidak boleh dilakukan dengan bunga dan tidak boleh dari negara penjajah atau lembaga internasional seperti IMF, World Bank dan lainnya, yang menjadi alat negara penjajah, apalagi dengan persyaratan-persyaratan yang menjerat. Bila Islam menolak segala bentuk penjajahan, maka Islam juga melarang segala bentuk hubungan atau perjanjian yang memberi jalan bagi penjajahan itu.

Menurut Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2007 pemerintah Indonesia dan swasta mempunyai total hutang Luar Negeri sebesar US$ 136.64 bilion. Pada 2009, pembayaran ansuran hutang pokok luar negara mencapai Rp 61.6 trilion. Ini sudah lebih besar dari pinjaman baru yang jumlahnya hanya Rp 52.2 Trilion. Hutang pemerintah keseluruhan sudah mencapai 35% dari Pendapatan Domestik Bruto, di mana 16% adalah hutang Luar Negara dan 19% adalah hutang Dalam Negara (dalam bentuk Surat Htang Negara, Obligasi dan sebagainya).

Sebagaimana negara-negara penghutang lain di seluruh dunia, Indonesia adalah negara umat Islam yang termasuk pada apa yang dikenali sebagai jerat hutang (debt trap). Indonesia telah membayar bunga pinjaman hingga bilionan dollar AS, yang pada hakikatnya lebih besar daripada hutang pokoknya, namun demikian Indonesia masih tetap terlilit hutang. Hutang-hutang seperti ini jelas haram kerana mengandungi riba dan memberi jalan bagi penjajahan atas negara-negara umat Islam. Allah SWT berfirman:

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.  (Qs. al-Baqarah [2]: 275)

Daulah Khilafah akan menolak dengan keras hutang atau pinjaman-pinjaman dana seperti itu, dan berusaha keras untuk membebaskan negeri-negeri Muslim dari jerat hutang. Juga akan membongkar kejahatan negara-negara Kapitalis yang menjajah negara-negara lemah melalui jeratan hutang. Khilafah juga akan membantu negara-negara miskin yang terlilit hutang untuk bersama-sama mengenyahkan kapitalisme global yang eksploitatif itu.

Menghapuskan Sumber Inflasi

Alasan utama di balik semakin beratnya beban kehidupan ekonomi masyarakat adalah makin tingginya biaya hidup akibat turunnya nilai mata wang yang berupa fiat money. Nilai mata wang domestik yang semakin lemah menyebabkan harga barang dan keperluan asas masyarakat terus naik.

Ditambah dengan terus terjadinya penurunan nilai rupiah terhadap dollar AS, membuat nilai rupiah terus mengalami penurunan terhadap mata wang asing, khususnya dollar AS. Keadaan ini sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional Barat, yang memproduksi barang-barang di Indonesia dengan biaya murah, kemudian mengeksportnya ke negara-negara Barat dengan harga yang lebih tinggi.

Inflasi dan penurunan mata wang yang membuat daya beli masyarakat terus mengalami penurunan, dapat diatasi dengan menetapkan mata wang yang tahan terhadap tekanan inflasi dan terhindar dari penurunan iaitu mata wang dinar dan dirham. Dengan menggunakan mata wang ini, keadaan ekonomi negara akan lebih stabil dan kekayaan masyarakat akan dapat dilindungi secara nyata dan terhindar dari inflasi.

Membangunkan Industri

Daulah Khilafah akan mengembangkan dua jenis industri utama yang terkait dengan kepentingan masyarakat luas. Pertama, industri-industri yang berkaitan dengan kekayaan milik umum, seperti kilang minyak dan pemurnian gas alam. Kerana minyak dan gas alam termasuk milik umum, maka status kepemilikan berbagai industri yang terkait dengan komoditi itu juga harus dikuasi oleh negara. Negara mengelolanya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Kedua, industri kereta dan persenjataan serta industri berat lain. Industri ini dibangun untuk menghasilkan ketenteraan yang kuat demi pertahanan negara yang kukuh.

Daulah Khilafah akan berupaya keras membangunkan kedua-dua jenis industri itu secara efisyen, yang tidak hanya dapat memenuhi keperluan negara, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Teknologi Ketenteraan

Hingga saat ini kekuatan ketenteraan Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi dari luar negara. Sementara itu, Amerika Syarikat sebagai negara paling unggul dalam industri ketenteraan ketika menjual peralatan ketenteraanya ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, tentu tidak sekadar untuk tujuan mendapat keuntungan finansial, tetapi juga untuk memperkuat pengaruh dan cengkamannya di Indonesia. Maka, AS pasti akan menetapkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pasukan peralatan dan teknologi ketenteraan dari AS. Persyaratan itu pasti terkait dengan kepentingan politik dan militer AS di Indonesia. Selanjutnya, AS akan menciptakan cara agar negara-negara pengimport peralatan ketenteraan itu akan terus bergantung kepadanya. Ketergantungan itu digunakan sebagai alat penekan saat kepentingan AS di negera itu terancam. Polisi embargo senjata AS ke Indonesia misalnya, adalah wujud dari politik persenjataan yang dimainkan oleh AS untuk menekan Indonesia. Disamping itu, AS juga tidak sungguh-sungguh membantu negara lain untuk menjadi kuat secara ketenteraan. Jadi yang boleh dikirim ke negara lain adalah peralatan ketenteraan biasa sahaja, bukan yang benar-benar canggih untuk perang yang sebenar.

Salah satu jalan untuk menjadikan Daulah Khilafah tidak bergantung secara ketenteraan kepada negara lain adalah dengan cara mengeluarkan dan mengembangkan teknologi dan industri ketenteraan sendiri. Polisi ini akan membuat Daulah Khilafah mandiri dan senantiasa memiliki persenjataan yang paling canggih dan paling kuat pada zamannya. Langkah tersebut juga menjamin Daulah Khilafah mempunyai senjata bila-bila masa saja diperlukan, termasuk untuk kepentingan psy-war dengan tujuan menggetarkan lawan, sebagaimana perintah Allah SWT:

persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.  (Qs. al-Anfaal [8]: 60)

Pengembangan Pertanian

Malaysia memiliki sumberdaya pertanian yang luar biasa, terutamanya tanah pertanian yang sangat luas. Tapi, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak orang yang memiliki tanah yang sangat luas, tapi tidak dikelola dengan benar, dan sengaja hanya dijadikan sebagai objek investasi spekulatif. Sementara bila ada orang yang mengerjakan tanah pertanian, dia hanya sebagai buruh tani, bukan pemilik tanah. Jadi, ada begitu banyak orang yang mengelola tanah pertanian, tapi mereka tidak memiliki tanah itu. Mereka hanya membayar sewa kepada pemiliknya.

Islam memandang bahawa persoalan pertanian pada hakikatnya berhubungan dengan pemanfaatan tanah pertanian itu sendiri. Dengan aturan yang jelas, Islam menyelesaikan persoalan tanah pertanian dengan menetapkan larangan pemisahan antara pemilik dan pengelola tanah pertanian. Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa memakmurkan (mengelola) tanah yang tidak menjadi milik siapa pun, maka dia berhak atas tanah tersebut.  (HR. Bukhari)

Islam juga menetapkan bahawa negara berhak menyita tanah pertanian dari pemiliknya jika tanah itu tidak dikelola selama tiga tahun berturut-turut. Ketentuan ini mendorong pemanfaatan tanah pertanian secara maksimum oleh pemilik tanah, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil pertanian. Daulah Khilafah akan memberikan bantuan atau pinjaman dana tanpa bunga untuk modal mengelola lahan pertanian dengan sebaik-baiknya. Apabila polisi seperti ini diterapkan di Malaysia, tentu akan dapat meningkatkan kemampuan pertanian negara, sehingga ketahanan makanan yang merupakan salah satu unsur penting dalam membangun kesejahteraan dan kemandirian dalam sebuah negara, benar-benar dapat diwujudkan.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: