Archive for December, 2010

Nabi SAW Mengajar Saidina Ali RA Cara Hafaz Qur’an

December 13, 2010

Abdullah bin Abbas ra berkata, Saya pergi ke majlis Nabi saw dan di sana Ali ra telah datang dan berkata : Wahai Rasulullah, saya mengorbankan ayah dan ibu saya untuk Tuan, ayat-ayat al-Quran tidak melekat pada hati saya. Apa-apa sahaja yang saya hafal tidak kekal dalam ingatan.

 

Nabi saw bersabda : Hendakkah saya memberitahu kamu dan kepada sesiapa yang kamu akan sampaikan tentang hal ini serta apa-apa sahaja yang kamu pelajari akan terpelihara dalam ingatanmu?

 

Di atas permintaan Ali ra, Nabi saw memberitahu :

Apabila tiba malam Jumaat, sekiranya kamu mampu, bangunlah pada satu pertiga bahagian akhir malam. Masa itu adalah masa yang paling baik kerana masa itu adalah masa para malaikat turun ke bumi dan masa yang khusus untuk penerimaan doa. Untuk menunggu masa tersebutlah Ya’akub as berkata kepada anak-anaknya yang bermaksud : Tidak lama lagi aku akan memohon keampunan untuk kamu daripada Tuhanku (yakni malam Jumaat).

 

Sekiranya susah untuk bangun pada malam itu,  maka bangunlah pada pertengahan malam. Sekiranya itupun anda tidak mampu, maka berdirilah berdirilah mengerjakan solat sunat empat rakaat pada permulaan malam. Caranya ialah :

 

Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah Yaasin.

Pada rakaat kedua setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah ad-Dukhaan.

Pada rakaat ketiga setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah Alif-lam-mim al-Sajadah.

Pada rakaat keempat setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah al-Mulk.

 

Setelah memberi salam, pertama kamu hendaklah memuji Allah swt sebanyak-banyaknya kemudian hendaklah kamu berselawat ke atasku. Selepas itu beristighfarlah untuk semua orang mukmin dan semua saudara Islam yang telah meninggal dunia sebelum anda. Selepas itu bacalah doa ini :

 

”Ya Allah, rahmatilah daku sehingga daku dapat meninggalkan segala maksiat selama Engkau menghidupkan daku. Rahmatilah daku supaya daku tidak menanggung apa-apa beban yang tidak memberi manfaat kepadaku. Kurniakanlah kepada daku pandangan keredhaanMu. Wahai Tuhan yang mencipta langit dan bumi, wahai Tuhan yang memiliki kehebatan dan kemuliaan serta kehormatan yang tidak mungkin dapat dicapai oleh sesiapapun. Wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah, aku memohon dengan kehebatan dan nur wajahMu supaya Engkau menetapkan hatiku untuk menghafal kitabMu sebagaimana Engkau telah mengajarku. Dan kurniakanlah (taufik) supaya daku dapat membaca al-Quran dengan cara yang menyebabkan Engkau redha terhadapku. Wahai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang memiliki kehebatan, kemuliaan dan kehormatan yang tidak dapat dicapai (oleh sesiapapun), wahai Allah dan wahai Tuhan yang Maha Pemurah, aku memohon dengan kehebatan dan nur wajahMu supaya Engkau mencahayakan penglihatanku dengan nur kitabMu dan Engkau menggerakkan lidahku untuk menyebut al-Quran dan Engkau menghilangkan kesempitan hatiku dengan keberkatan al-Quran dan Engkau melapangkan dadaku dengan keberkatan al-Quran (daripada kekotoran dosa) kerana sesungguhnya tiada pembantu bagiku ke atas perkara yang haq (benar) kecuali Engkau dan tidak ada yang mengurniakan perkara haq itu (kepadaku) kecuali Engkau. Dan tiada daya (untuk melakukan sebarang kebaikan) dengan tiada upaya (untuk menjauhi sebarang kejahatan) kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

 

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda : ”Wahai Ali, lakukanlah amalan itu sama ada tiga kali Jumaat, lima kali atau tujuh kali, insya-Allah doa kamu pasti akan dikabulkan. Demi zat yang mengutuskan daku dengan kebenaran, doa ini tidak akan ditolak daripada mana-mana mukmin”.

 

Abdullah bin Abbas ra berkata : Setelah berlalu lima atau tujuh minggu, maka Ali ra telah datang ke majlis Nabi saw dan berkata ”Wahai Rasulullah, dahulu saya membaca lebih kurang empat ayat, itupun saya tidak dapat mengingat sedangkan sekarang saya membaca empat puluh ayat dan ayat-ayat itu dapat saya ingati sehingga seolah-olah al-Quran terbuka di hadapan saya. Dahulu saya mendengar hadith dan selepas itu saya cuba mengulangi hadith itu namun, hadith itu tidak kekal dalam ingatan saya. Sekarang, setelah saya mendengar hadith, apabila saya ingin menyampaikan hadith itu kepada orang lain, satu huruf pun saya tidak tertinggal”

 

SILA SHARE UTK PENGETAHUAN BERSAMA. AMPUNKANLAH YA ALLAH….

Rindu pada Pemuda Shalih

December 2, 2010

Sengaja saya mengutip penggalan bait dari lagu Audy yang berjudul Menangis Semalam. Lagunya sebenarnya tentang cinta, dan saya sebenarnya tidak pernah menikmati lagu-lagu seperti ini. Hanya sepintas saja, ketika mendengarnya di siaran televisi, atau radio ketika berkendara menembus kemacetan Jakarta.

Tapi semalam, tiba-tiba lagu ini muncul dalam otak saya, mengalun seperti menjadi soundtrack ketika saya membaca sebuah artikel dalam sebuah buku. Lagu ini muncul tidak secara utuh, hanya bagian di atas saja.

 

 

Tahukah kau

Semalam tadi aku menangis

Mengingatmu mengenangmu

 

Lalu saya mengangkat tangan dan berdoa, untuk seorang sahabat yang sangat saya rindukan, tapi dalam waktu dekat, mustahil untuk bertemu. Entah kapan, saya berdoa pada Allah untuk dipertemukan dengannya, di tempat yang sangat mulia dan dalam kondisi yang sangat bercahaya.

Buku yang saya baca berkisah tentang seorang anak muda, yang sedang menunggu adzan Subuh di Masjidil Haram. Dia membaca al Qur’an setelah menunaikan shalat malam. Lalu tibalah adzan Subuh berkumandang. Diletakkannya al Quran dan dia maju mengisi shaff kosong untuk mendirikan shalat qabliyah Subuh yang menurut Rasulullah saw, berbobot lebih berat dibanding dunia dan seisinya. Rasulullah begitu mengistimewakan shalat dua rakaat sebelum Subuh ini. Dari Aisyah, beliau mengatakan mengatakan, ”Tidak pernah Rasulullah saw sangat mewanti-wanti (sangat perhatian) atas sesuatu yang sunat melebihi pada dua rakaat qabla subuh.” Sahih Al-Bukhari, I : 393, Sahih Muslim, I : 501

Bahkan, Rasulullah sendiri pernah mengatakan, dari Ibnu Sailan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda, ”Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat qabla Subuh walaupun seekor kuda mencampakkan kalian”. Musnad Ahmad, II : 405, Sunan Abu Daud, II : 20, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, II : 470 dan Malik

Kembali pada kisah awal, sang pemuda lalu mendirikan shalat dua rakaat sebelum iqamat. Meski shalat ini dilaksanakan dengan ringan, tapi penuh kekhusyu’an. Usai mendirikan shalat, sang pemuda menunggu iqamat. Dan ketika pemuda ini berdiri untuk mencari shaff yang perlu diisi setelah iqamat dikumandangkan, tiba-tiba dia terjatuh lunglai, lemas tak bertenaga. Jamaah shalat Subuh segera menolongnya, melarikan sang pemuda ke rumah sakit yang tersedia.

Rupanya, sang pemuda mengalami penyumbatan pembuluh darah ke jantung. Fajar itu, ruangan unit gawat darurat sibuk mengambil langkah penyelamatan. Seorang perawat diminta untuk mendampingi sang pemuda, sementara dokter jaga dan spesialis jantung menyiapkan operasi yang mungkin harus diputuskan segera. Tapi tiba-tiba sang pemuda, meminta perawat yang di dekatnya, untuk lebih mendekat lagi. Dibisikkannya sebuah kalimat, lalu sang pemuda memiringkan badannya ke sebelah kanan, pelahan mengucapkan kalimat, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Hanya Engkau Tuhan yang patut disembah, dan sungguh aku bersaksi bahwa Muhammad hádala Rasul-Mu yang mulia.”

Begitu saja, lalu sang pemuda menutup mata, napas terakhirnya usai sebelum dokter melakukan apa-apa. Sang perawat bergetar, lututnya tak mampu menahan berat tubuhnya. Ia jatuh terkulai di tepi ranjang. Para dokter sibuk menanyai, tapi tak sepatah kata mampu keluar dari lisannya. Setelah semua tenang, baru sang perawat bisa bercerita, kalimat apa yang dibisikan oleh sang pemuda.

Pada perawat sang pemuda berkata, “Katakan pada dokter, tak perlu susah, ajalku sudah tiba. Dari sini aku bisa melihat tempatku di surga.” Itulah kalimat sebelum dia berbalik kanan dan mengucapkan syahadat dengan tarifan napas terakhir. Kalimat itulah yang membuat lututnya bergetar hebat dan tak bertenaga.

Tahukah kau

Semalam tadi aku menangis

Mengingatmu mengenangmu

Lalu bait lagu itu muncul di dalam otak saya. Mengenang seorang sahabat, yang nyaris sama perjalanan akhir hidupnya. Namanya Dichiya Zoraya, panggilannya Dicky, usianya beberapa tahun di bawah saya. Dia memanggil saya Mas Herry, dan saya memanggilnya adik. Kami bertemu pertama kali dalam sebuah perjalanan umrah di tahun 2002. Dan sejak itu, kami sangat akrab, disatukan oleh banyak kesamaan dan perbedaan.

Salah satu kesamaan kami adalah wisata kuliner, terutama masakan Timur Tengah. Kami menjelajah berbagai rumah makan Timur Tengah yang ada di Jakarta, mulai dari kelas tenda biru, sampai rumah makan mewah. Kesamaan lain, di suka membaca dan belajar. Kami sering bertukar hasil bacaan dan berdiskusi tentang banyak hal. Kesamaan yang lain lagi, kami berdua sangat senang bertemu orang. Dia juga suka menulis. Terakhir Dicky bekerja sebagai salah satu editor penerbit ternama di Jakarta.

Saya membawanya ke dunia baru yang belum dalam dikenalnya. Saya mendorongnya untuk kenal dengan pengajian. Mempromosikan namanya pada sang calon murabbi. Bahkan saya pernah mengajaknya silaturahim ke dalam penjara, menjenguk Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Rumah Tahanan Salemba pada tahun itu. Dia memperkenalkan saya pada dunia yang juga baru. Pada teman-temannya yang gaul pada periode sebelumnya. Pada bahasa-bahasa yang tak pernah saya pahami sebelumnya. Dan dia berniat mewujudkan satu halaqah di kampusnya yang menurutnya sangat borju dan sekuler itu.

Dicky berhasil memprovokasi dan mengumpulkan teman-teman untuk ngaji bersama. Lumayan banyak untuk pertemuan pertama, 15 orang berkumpul di aula. Ia konsisten mengajak teman-temannya untuk turut mengaji bersama, bahkan ketika satu per satu peminat pengajian mahasiswa di kampus ini mundur teratur. Dari 15 orang susut menjadi delapan, lalu empat, lalu tinggal Dicky seorang. Tapi ia tetap datang. Keinginannya untuk ikut mengaji sampai terbawa-bawa dalam mimpi. Karena itu pula saya berusaha untuk membantu Dicky bertemu murabbi.

Empat hari sebelum Dicky meninggal, di bulan Agustus 2006, dia ingin memperkenalkan saya kepada editor-editor lain di tempatnya bekerja. Dan sedang berusaha dan mencoba mempromosikan tulisan-tulisan saya. ”Kita bisa sama-sama memasukkan nilai dakwah nanti, mas,” saya masih ingat betul kata-katanya.

Saya masih ingat senyumnya, tulus sekali. Jika senang, tawanya pecah. Dan setiap kali bertemu, selalu bercerita tentang keponakannya yang lucu-lucu. Setelah lulus dari kampusnya yang pertama, Dicky melanjutkan belajar pasca sarjana di Universitas Indonesia, jurusan Hubungan Internasional. Dan sudah aktif mengaji untuk beberapa lama.

Dari sang murabbi, saya mendengar kisah tentang keshalihan Dicky. Semalam, sebelum meninggal, Dicky masih sempat berkumpul dengan teman-temannya untuk mengaji. Bahkan, ia pulang pukul sepuluh malam. Dan baru saja, di pengajian kecil itu, mereka saling mengevaluasi diri, terutama kualitas ibadah. Sang murabbi kepada saya bercerita, bahwa Dicky menempati ranking pertama dalam muttaba’ah amal. Dalam tiga bulan terakhir, ia tak pernah meninggalkan shalat jamaah, target-target tilawah pun, sempurna. Shalat malam ia kerjakan, puasa sunnah ia tunaikan.

Subuh di hari ia meninggal, ia masih shalat berjamaah di masjid depan rumahnya, di Duren Sawit, Jakarta Timur. Bahkan, setelah Subuh, ia masih menyempatkan untuk tilawah. Kemudian ia jatuh tertidur, dan malaikat menjemputnya dalam keadaan sedang berpuasa sunnah. Saat saya mengangkat jenazahnya, sebelum dimandikan, saya masih melihat bibirnya tersenyum. Saya hanya bisa menyebut, Allah, Allah, Allah, dan menahan tangis dalam dada. Saya mengusap tangannya, mengusap dahinya. Dan itu membuat pundak saya semakin terguncang oleh tangis yang tak tertahan.

Tahukah kau

Semalam tadi aku menangis

Mengingatmu mengenangmu

Semalam saya mengingatnya kembali. Saya menangis dan berdoa. Sangat singkat perjumpaan kami, hanya beberapa tahun saja. Dan semalam sangat merindukannya. Saya merindukan orang-orang muda yang berjerih payah mencari ridha-Nya. Saya merindukan anak-anak muda yang memiliki fikrah jernih, cerdas, sekaligus santun dan penuh sayang pada sesamanya. Saya berdoa kepada Allah, semoga Dicky juga telah melihat tempatnya yang mulia di sisi Allah azza wa Jalla. Dan semoga Allah mempertemukan saya di tempat yang mulia itu, dengan sahabat-sahabat saya yang mulia. Aku rindu padamu, dik! Sangat-sangat rindu.

Ketaqwaan Sayidina Umar Abdul Aziz

December 2, 2010

1. Sebaik sahaja beliau diangkat menjadi khalifah, beliau pulang ke rumahnya dengan wajah cemas dan menemui isterinya lantas berkata: ” Aku kini seperti memikul gunung. Segala beban umat sudah tertanggung ke atas aku. Aku sudah tiada masa lagi untuk bersama denganmu. Sekiranya kamu tidak sanggup demikian, nyatakanlah agar aku melepaskanmu secara baik. Andainya engkau ingin terus bersamaku, maka engkau adalah sebahagian dari diriku yang turut memikul beban umat.”

 

Menurut pengakuan isteri beliau, semenjak hari itu hingga wafatnya, tidak pernah tidur bersama dengannya.

 

2. Khadam (pembantu) kepada Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz merasa hairan kerana di malam hari titisan air mata khalifah itu sering jatuh menimpanya yang tidur di pangkin bawah.

 

Apabila khadam itu bertanya kepada Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz beliau menjawab, “Amanah Allah SWT yang dikurniakan kepada diriku seperti anggota tubuh, anak isteri dan sedikit harta benda. Aku cemas kalau-kalau aku tidak dapat menjawabnya di hadapan Allah SWT. Betapalah kini aku sedang memikul beban dan tanggungjawab umat Muhammad, seluruh urusan umat ini Allah SWT akan tanya kepada aku satu persatu, bolehkah aku melelapkan mata, lantaran aku menanggung segala beban umat ini.”

 

3. Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz setiap minggu akan duduk berkumpul bersama para ulama untuk mendengar nasihat dan tarbiyah terutamanya dari kalangan ulama sufi. Kerana ulama sufi sering sahaja bercerita mengenai kehidupan akhirat. Di sini juga memperlihatkan betapa di zaman beliau para ulama sangat jujur dan berperanan mendidik masyarakat termasuk kepada pemimpin.

 

Suatu hari seorang ulama sufi bercerita mengenai nasib tiap-tiap khalifah sebelumnya yang diperolehi melalui mimpi. Kata ulama tersebut: “Aku melihat dalam mimpi betapa Khalifah Abu Bakar melalui Siratal Mustaqim dan beliau melepasinya. Begitu juga aku melihat giliran Khalifah Umar r.a melalui Siratal Mustaqim dan beliau melepasinya dengan selamat. Diikuti pula oleh Khalifah Uthman dan beliau juga selamat. Khalifah Ali r.a juga aku lihat selamat melepasi Siratal Mustaqim.”

 

Sambungnya lagi: “Selepas itu aku lihat tiba pula giliran tuan untuk melalui Siratal Mustaqim…”Tiba-tiba saja Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz berkata, “Aku bagaimana yang engkau lihat?”Ulama sufi itu dengan tenang bercerita, “Aku lihat tuan…”

 

Belum habis ulama sufi itu bercerita, tiba-tiba Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz menjerit, “Allahu Akbar” lalu beliau jatuh pengsan.Beberapa ketika selepas itu beliau kembali membuka matanya dan bertanya, ” Terus ceritakan apa yang kamu lihat mengenai aku.”Ulama sufi itu mengulangi lagi cerita mimpinya, “Apabila sampai giliran tuan, aku lihat…”Sekali lagi Sayidina Umar Ibnu Abdul Aziz jatuh pengsan.

 

Setelah beliau kembali membuka mata dan bertanya mengenai nasib dirinya ketika melalui Siratal Mustaqim, ulama sufi itu tidak mengulangi ceritanya seperti sebelum ini. Sebaliknya ulama sufi itu menjawab dengan ringkas sahaja, “Tuan selamat.” 

Lelahkah engkau dijalan dakwah ini??

December 2, 2010

Sudah lelah kah kau kawan atas perjuangan dakwah ini??Hhmm mungkin jadwal syuro yang padat itu membuatmu lemah??Atau tak pernah punya waktu istirahat di akhir pekan yang kau gusarkan??

 

Atau pusingnya fikiranmu mempersiapkan acara2 bertemakan dakwah yang membuatmu ingin terpejam?? Atau panasnya aspal jalanan saat kau aksi yang ingin membuatmu “rehat sejenak”???atau sulitnya mencari orang yang ingin kau ajak ke jalan ini yang kau risaukan??Atau karena seringnya juniormu meminta infak2mu yang membuatmu ingin menjauh??

 

Dakwah kita hari ini hanya sebatas ‘itu’ saja kawan.hehebukan ingin melemahkan tapi izinkan saya showing kali ini….Taukahkau Umar bin Abdul Azis?? Tubuhnya hancur dalam rangka 2 tahun masa memimpinnya. ..2 tahun kawan, Cuma 2 tahun memimpin tubuhnya yang perkasa bisa rontok..kemudian sakit lalu syahid…sulit membayangkan sekeras apa sang khalifah bekerja…tapi salah satu pencapainya adalah..saat itu umat kebingungan siapa yang harus di beri zakat…tak ada lagi orang miskin yang layak di beri infak…

 

Apakah kau lelah berdakwah kawan…saat baru kau rasa ternyata selain indah dakwah itu banyak konsekuensinya. ..Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.Berjalan, duduk, dan tidurmu.

 

Tapi syekh Mustafa masyhur mengatakan “jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang tapi adalah jalan yang paling aman untuk mencapai RidhoNya” ya kawan, jalan ini yang akan menuntun kita kepada RidhoNya…saat Allah ridho..maka apalagi yang kita risaukan??Saat Allah ridho…semunya akan jauh lebih indah…karena Syurga akan mudah kita rasa..

 

Rasulallah begitu berat dakwahnya..harus bertentangan dengan banyak keluarga yang menentangnya. .mushab bin umair harus rela meninggalkan ibunya..Salman harus rela meninggalkanseluruh yang dia kumpulkan di mekkah untuk hijrah…Asma binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya dan Rasulallah,hanzholah segera menyambut seruan jihad saat bermalam pertama dengan istrinya,Kaab bin malik menolak dengan tegas suaka raja ghassan saat ia dikucilkan…

 

Billal, Ammar, keluarga yasir..mereka kenyang dengan siksaan dari para kafir,Abu Dzar habis di pukuli karena meneriakkan kalimat tauhid di pasar,Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di gurun hanya sendirian,Usman rela menginfakkan 1000 unta penuh makanan untuk perang tabuk,Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan Rasul Nya untuk keluarganya…Umar nekat berhijrah secara terang terangan,Huzaifah berani mengambil tantangan untuk menjadi intel di kandang musuh,

 

 

Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya,Zubair bin Awwan adalah hawarii nya rasul,Khansa merelakan anak2nya yang masih kecil untuk berjihad,Nusaibah yang walopun dia wanita tapi tak takut turun ke medan peran,Khadijah sang cintanya rasul siap memberikan seluruh harta dan jiwanya untuk islam, siap menenangkan sang suami dikala susah..benar2 istri shalihah ^_^

 

Atau mari kita bicara tentang Musa…mulutnya gagap tapi dakwahnya tak pernah pudar…ummatnya seburuk buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti…atau Nuh, 900 tahun menyeru hanya mendapat pengikut beberapa orang saja..bahkan anaknya tak mengimaninya…Ibrahim yang dibakar namrud,Syu’aib yang menderita sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru…Ismail yang rela di sembelih ayahnya karena ini perintah Allah…

 

Sekarang beranikah kita masih menyombongkan diri dengan dakwah yang kita lakukan…mengatakan lelah padahal belum banyak melakukan apa apa…bahkan terkadang…kita datang kepada dakwah dengan keterpaksaan, berat hati kita, terkadang menolak amanah, atau memilih amanah yang mudah2…

 

Kawan…dakwah kita hari ini hanya sebatas “itu2” saja.hehebukan untuk melemahkan…tapi menguatkan karena ternyata yang kita lakukan belum apa apa….

Tentang Wajah Hodoh Sebenar Demokrasi

December 2, 2010

HAKIKAT BURUK & BAHAYA DEMOKRASI

http://gp-uij.blogspot.com/2010/02/hakikat-buruk-bahaya-demokrasi.html

Demokrasi: Jalan Menuju Kehancuran Peradaban

http://gp-uij.blogspot.com/2010/02/demokrasi-jalan-menuju-kehancuran.html

Pagar Demokrasi, Menyesatkan!

http://gp-uij.blogspot.com/2010/02/pagar-demokrasi-menyesatkan.html

DEMOKRASI YANG MAHAL ITU GAGAL

http://gema-sumbar.blogspot.com/2009/03/buletin-edisi-16.html

MASIH PERCAYA DEMOKRASI…??!

http://gema-sumbar.blogspot.com/2009/03/buletin-edisi-20.html

Khurafat Demokrasi

http://www.suara-islam.com/news/pemikiran-islam/politik/1347-khurafat-demokrasi

Demokrasi : Akar Kuat Munculnya Tunas-tunas Berbagai Aliran Kepercayaan

http://gemakalsel.multiply.com/journal/item/9

Ancaman Bagi Wanita yang Membuka Auratnya

December 1, 2010

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda;
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].

Di dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawiy berkata, “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat kenabian. Sungguh, akan muncul kedua golongan itu. Hadits ini bertutur tentang celaan kepada dua golongan tersebut. Sebagian ‘ulama berpendapat, bahwa maksud dari hadits ini adalah wanita-wanita yang ingkar terhadap nikmat, dan tidak pernah bersyukur atas karunia Allah. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya, dan menyingkap sebagian tubuhnya yang lain, untuk menampakkan kecantikannya atau karena tujuan yang lain. Sebagian ulama lain berpendapat, mereka adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya (transparan)…Kepala mereka digelung dengan kain kerudung, sorban, atau yang lainnya, hingga tampak besar seperti punuk onta.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dengan redaksi berbeda.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِجَالٌ مَعَهُمْ أَسْوَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelumnya. Wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis, dan berlenggak-lenggok, dan kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk surga, dan mencium baunya. Dan laki-laki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia “[HR. Imam Ahmad]

Hadits-hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi wanita yang menampakkan sebagian atau keseluruhan auratnya, berbusana tipis, dan berlenggak-lenggok.

Kesimpulan
Syariat Islam telah mewajibkan wanita untuk menutup anggota tubuhnya yang termasuk aurat. Seorang wanita diharamkan menampakkan auratnya di kehidupan umum, di hadapan laki-laki non mahram, atau ketika ia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu yang mensyaratkan adanya satru al-’aurat (menutup aurat).

Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Seseorang baru disebut menutup aurat, jika warna kulit tubuhnya tidak lagi tampak dari luar. Dengan kata lain, penutup yang digunakan untuk menutup aurat tidak boleh transparan hingga warna kulitnya masih tampak; akan tetapi harus mampu menutup warna kulit.

Ancaman bagi yang tidak menurut aurat adalah tidak mencium bau surge alias neraka, karena tidak amanah, tidak tunduk kepada aturan sang Kholik.