Saatnya Menikah

“Saatnya Untuk Menikah”

Sebuah buku berjudul “Saatnya untuk Menikah” karya Mohammad Fauzil Adhim yang telah lama saya pinjam sebenarnya yang dipinjamkan dari seorang teman baru saja selesai saya baca.
Sebuah tulisan yang jelas-jelas memaparkan alasan-alasan mengapa anda harus menikah.
Saya mungkin bukan seseorang yang dapat bercerita dengan baik apa yang telah saya dapatkan. Tapi pada kesempatan kali ini saya hanya akan mengutip beberapa untai kata dan kisah yang terdapat didalamnya.
“Smoga apa yang ada dapat membuat jiwa kita menjadi sadar kapan saatnya kita menikah???”

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-nuur : 32)
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya…” (an-nuur : 33)

Bermula dari sebuah kisah tentang wanita mulia yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah saw.
Yang menawarkan dirinya kepada Nabi.
Dari Sahal bin As’ad as-Sa’idi, ia menceritakan bahwa telah datang seorang wanita kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk memberikan diriku kepada engkau.” Maka beliau pun melihatnya dengan menaikkan dan menepatkan pandangan kepadanya. Kemudian beliau menundukkan pandangan.
Ketika melihat bahwa beliau tidak memberikan keputusan, wanita itu pun tertunduk.
Selanjutnya, salah seorang sahabat berdiri seraya berucap, “Wahai Rasulullah, jika engkau tidak tertarik kepadanya, maka nikahkanlah aku dengannya.”
Beliau bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?”
Sahabat itu pun menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak memiliki apa-apa.”
Selanjutnya beliau berkata kepadanya, “Pergilah kepada keluargamu dan lihatlah, apakah mendapatkan sesuatu di sana?”
Sahabat itu pun pergi dan kembali seraya berkata, “Demi Allah, aku tidak mendapatkan apa-apa disana”
Beliau masih memerintahkan kepadanya, “Carilah, meskipun hanya sebuah cincin dari besi!”
Kemudian ia pun pergi dan kembali seraya berkata, “Ya Rasulullah, demi Allah aku tidak mendapatkan apa-apa meskipun hanya sebentuk cincin dari besi. Akan tetapi, aku mempunyai kain ini (Sahal mengatakan bahwa sahabat itu mempunyai selendang) untuk diberikan setengahnya kepada wanita itu.”
Beliau pun bertanya, “Apa yang akan kauperbuat dengan kainmu itu? Karena, jika kamu memakainya maka wanita itu tidak akan mendapatkan apa-apa dan jika ia memakainya maka kamu tidak akan mendapatkannya.”
Ia lalu duduk. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan Rasulullah saw. melihatnya melangkahkan kaki untuk pergi. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk memanggilnya. Ketika ia datang, beliau bertanya, “Surah apa yang engkau hafal dari Al-Qur’an?”
Ia pun menjawab. “Aku hafal surah ini dan itu”
Lalu ia pun membacakannya.
Beliau bertanya, “Apakah engkau bisa membacakan surah itu di hadapan wanita yang hendak engkau lamar dengan hafalanmu itu?”
Ia pun menjawab, “Bisa.”
Akhirnya beliau bersabda, “Pergilah, karena sesungguhnya aku telah menjadikan wanita itu sebagai milikmu dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ada padamu.” (HR Muttafaqun ‘alaih)
“subhanallah, bahkan kemiskinan pun bukanlah penghalang atas sebuah ikatan yang suci.”

Beberapa untai kata dan kutipan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari buku tersebut :

“Hai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mencapai ba’ah, kawinlah, karena sesungguhnya perkawinan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan.”

Jika anda sudah merasa gelisah jika pada malam-malam yang sepi mencekam tidak ada teman yang mendampingi, inilah saatnya bagi Anda untuk menikah. Jika Anda sudah mulai tidak tenang saat sendirian, itulah saatnya Anda perlu hidup berdua. Jika Anda sudah begitu resah saat melihat akhwat di perjalanan, itulah saatnya Anda menguatkan hati untuk datang meminang. Hanya dua kalimat saja yang perlu Anda persiapkan untuk meminang :
Alhamdulillah bila diterima dan Allahu Akbar bila ditolak.

Betapa banyak yang mendambakan istri seperti Khadijah, tetapi tidak mau menikah dengan orang yang usianya sedikit saja diatasnya. Betapa banyak yang merindukan kemesraan seperti Rasulullah saw. dengan Aisyah yang sampai-sampai berlomba lari atau saling minum dari satu gelas yang sama, tetapi melupakan bahwa Nabi adakalanya harus mengganjal perutnya dengan batu karena dua hari tidak menemukan makanan.

“Cara untuk belajar menjadi istri yang terbaik, hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik, hanyalah melalui istri. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya mengajarkan menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik.” (Ustadz Didik Purwodarsono).

“Tidak seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan oleh kerja tangannya (sendiri).” (HR. Bukhari).

Bagi pemuda yang telah menetapkan niatnya dengan sungguh-sungguh untuk berikhtiar, tetapi tetap belum sanggup memperoleh ma’isyah meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuannya, hendaklah ia bersabar sampai Allah memberikan kemampuan baginya.

“Taatlah kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu, yaitu perkawinan, maka Allah akan melestarikan janji-Nya kepadamu, yaitu kekayaan. Allah telah berfirman, ‘jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.’” (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ad-Dur al-Mantsur)

“Allahumma aghnini bi halaalika ‘an haraamika waghnini bifadhlika ‘amman siwaaka”
(Ya Allah sesembahanku, cukupilah aku dengan penghasilan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupilah aku dengan keutamaan karunia-Mu sehingga aku tidak mengharap selain dari Engkau”

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (an-nuur:26).

Terkadang salah seorang di antara kita terlalu meninggikan kriteria. Ia menyempitkan hal yang telah diluaskan Allah, menyulitkan hal yang telah dimudahkan Allah, membatasi hal yang telah dilapangkan Allah sehingga ia menemui kesulitan. Sebagian kemudian berputus asa setelah lama tidak mendapatkan yang sesuai dengan kriterianya, sementara usia telah menua dan panggilan jiwa untuk segera menimang-nimang putra tercinta telah demikian mendesak. Akhirnya, justru ia merelakan diri untuk menikah dengan laki-laki yang tidak lebih baik dibanding peminang-peminang sebelumnya.

Nabi berkata, “Orang itu dan kawan-kawannya membaca Al-Qur’an hanya sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka bumi.” (HR Muslim)
Hadist ini berkenaan dengan pembahasan tentang jodoh. Yang tampak baik di mata kita, boleh jadi sangat buruk di hadapan Allah. Kita mengiranya baik karena kita tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang seseorang, sementara sesungguhnya orang itu tidak lebih baik nilainya dibanding seekor keledai dungu. Atau, kita melihat seseorang banyak melakukan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, termasuk ibadah-ibadah shalat sunnah yang banyak sekali macamnya. Kita mungkin akan segera menarik kesimpulan bahwa ia adalah orang yang sangat baik, padahal boleh jadi ia termasuk ahli neraka karena buruknya akhlak kepada tetangga dan kekejamannya pada binatang piaraan sehingga binatang piaraannya mati kelaparan.

Penilaian kita terhadap sesama adakalanya bertolak belakang dengan nilai orang tesebut di hadapan Allah. Yang kita lihat secara zahir baik, sampai-sampai karena demikian baiknya, di hadapan Allah bisa tidak bernilai. Sebaliknya, orang yang dalam pandangan kita rendah, boleh jadi sesungguhnya ia termasuk orang yang sangat mulia. Boleh jadi orang yang kita pandang tidak berharga justru orang yang oleh Nabi digambarkan sebagai “lebih baik daripada sepenuh bumi laki-laki seperti ini”.

Seorang yang beriman ada kalanya menerima ujian dari Allah dengan kesulitan-kesuliatan dalam mendapatkan istri yang rela mendampinginya. Berkali-kali mempunyai maksud untuk menikah dengan seorang muslimah yang ia telah mantap kepadanya, tetapi selalu berbuah penolakan. Sebagian diantara mereka bersabar, lalu Allah mengirimkan kepadanya pendamping yang lebih baik dariada yang diharap-harapkannya.sebagian dari mereka kecewa dan berputus asa, lalu hari-hari berikutnya semakin kelam dan tidak ada harapan.

“jika salah seorang diantara kamu meminang seorang wanita, apabila ia mampu melihat apa yang membuatnya tertarik untuk menikahinya, maka lakukanlah”

“janganlah salah seorang di antara kamu akan melamar seorang wanita, sedangkan dia memakai semir (rambut) dengan warna hitam, maka hendaklah dia memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa dia memakai semir rambut.” (HR Dailami dalam Musnad Firdaus)

Kapankah jodoh ‘kan segera datang ?
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya. Ada saat-saat gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah. Di saat kesendirian tak sanggup kita tanggungkan, sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga, ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih; “kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir?”

Obatnya menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdo’a. Dan sabar dalam memegang kebenaran.

Jika Anda mendapati lelaki yang memiliki banyak keutamaan kecuali dalam hal keberaniannya untuk menikah, boleh jadi yang Anda perlukan adalah sedikit keberanian untk berlapang dada menawarkan diri. Ini bukanlah perkara yang tercela. Justri sebaliknya : sangat mulia.

“apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

“tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan,” begitulah Rasulullah saw. bersabda sebagaimana disebutkan oleh Thawus dari Ibnu Abbas r.a.. Al-Hakim kemudian meriwayatkan dan menyatakannya sebagai hadits sahih sesuai dengan syarat-syarat Muslim.

Banyak diantara kita yang meluap-luap semangatnya untuk menikah, tetapi lupa menyiapkan bekal yang harus dibawanya setelah menikah. Demikian pula sebaliknya, banyak yang hampir tidak kuat menahan gejolak rindu yang mencekam, tetapi tidak berani melangkahkan kakinya untuk meminang.

Sebuah pernikahan akan lebih mampu menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan apabila di dalamnya ditemukan cinta dan kebersamaan. Di sana ada keindahan yang dapat direngkuh bersama-sama, dan pintunya adalah wajah. “maka, laki-laki yang hendak melamar wanita,” kata Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, “disyariatkan untuk melihat wajahnya. Sebab, jika dia sudah melihat kecantikan dan keindahannya, tentu lebih bisa membuahkan cinta dan kebersamaan di antara keduanya”.
Smoga kutipan-kutipan di atas dapat menambah pengetahuan sekaligus menjawab keingintahuan pembaca.
Sudahkah anda menemukan saat yang tepat untuk menikah??
Ataukah anda merasa sekarang adalah saatnya??
Doa saya, semoga anda menikah dengan Jodoh yang Allah ciptakan untuk anda.
Jangan lupa kirimkan undangan kepada saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: