Archive for October, 2010

Tak Boleh ke kalau tak Dakwah?

October 19, 2010

Sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah menjadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, kerana tugas dakwah ini cukup berat dan tidak semua orang cekal menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang faham sahaja. Anggapan seperti ini insya Allah tidak salah. Cuma, kalau dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum mengerti tentang Islam jadi bebas untuk berdakwah, atau tidak mahu terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Kerana kita tetap saja mempunyai kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, tidak boleh bebas juga kan? Malah kalau nekad tidak mahu belajar dan mencari ilmu, itu dinilai berdosa!

Mengapa dakwah itu wajib? Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Ertinya, orang mukmin yang memandang remeh akan dakwah bukanlah seorang mukmin sejati. Apakah kamu begitu tega melihat teman kamu berbuat maksiat, sedangkan kamu mendiamkan saja? Tidak mungkin teman yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, dan kamu masih tidak mahu menolongnya, betul tak?

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)

Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi senjata untuk membendung arus budaya rosak yang akan menghancurkan keperibadian Islam kita.

Sahabat muda muslim, Islam memerlukan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktiviti dakwah yang kita lakukan, maka kerosakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengukuhkannya.

Kita harus memiliki cita-cita, bahawa Islam harus menjadi nombor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

“Sahabat, dakwah adalah darah dan nafas kehidupan Islam.”

Advertisements

Dimanakah Para Pemuda?

October 1, 2010

bukanlah sesuatu yang asing bagi kita bahwa kaum muda adalah pelopor berbagai perubahan di berbagai penjuru dunia.

Namun, yang menjadi pertanyaan ialah ke arah mana perubahan itu hendak dijalankan; kepada kebaikan ataukah keburukan? Sementara kita semua menyadari kandungan firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11).

Dari situlah, maka kesadaran generasi muda untuk menjadi garda terdepan perjuangan umat Islam merupakan modal besar perubahan ini. Para pemuda yang tidak terlalaikan oleh kesenangan dunia yang fana dan tidak terpedaya oleh tipu daya Iblis dan bala tentaranya yang kian hari kian menggoda. Para pemuda yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Yang dengan kecintaan itu mereka rela berjuang di jalan-Nya, dengan harta mereka, ilmu, bahkan kalau perlu nyawa mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak pernah berperang atau tidak pernah terbersit di dalam hatinya keinginan untuk berperang maka dia meninggal di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seorang mujahid itu adalah yang berjuang menundukkan hawa nafsunya dalam rangka ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Para pemuda -semoga Allah menambahkan kepada kita ilmu dan kesabaran- sesungguhnya kondisi akhir zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan kekacauan membutuhkan kehadiran sosok para pemuda yang ‘tumbuh di atas komitmen untuk tetap beribadah kepada Allah‘, para pemuda yang ‘hatinya bergantung di masjid’, para pemuda ‘yang memiliki rasa takut yang dalam kepada Rabbnya’, para pemuda yang ‘beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran’, para pemuda yang ‘apabila diingatkan tentang Allah maka muncullah rasa takut dan khusyu’ di dalam hati mereka’, para pemuda yang ‘apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka’, para pemuda yang ‘bertakwa kepada Allah di mana saja mereka berada’, para pemuda yang ‘berdakwah kepada tauhid di atas ilmu yang nyata’, para pemuda yang ‘memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar’, para pemuda yang menjadi ‘teladan dalam kebaikan, senantiasa patuh kepada Allah, cenderung kepada kebenaran dan berlepas diri dari segala praktik kemusyrikan’, para pemuda ‘yang senantiasa mengembalikan perselisihan mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya’, para pemuda yang ‘senantiasa menghormati kedudukan para ulama dan penguasa umat Islam’, para pemuda yang ‘mengisi hari-harinya dengan dzikrullah’ dan ketaatan serta ‘menjauhi nyanyian setan’ dan ‘menjauhkan diri dari pintu-pintu kemaksiatan’.

Pada hari ini, wahai para pemuda… manusia-manusia yang tidak mau mengenal agama -bahkan membencinya- tak ubahnya seperti srigala berbulu ‘biduanita’. Mereka menjual agama demi mendapatkan fatamorgana, mereka menggiring para pemuda untuk sedikit demi sedikit meninggalkan benteng-benteng agama (yaitu majelis ilmu dan kitab para ulama) menuju ‘kamp-kamp pembantaian’ yang telah merusak agama, harga diri dan kehormatan ribuan para pemuda. Para pemuda yang telah menjadi tawanan Iblis, para pemuda yang lalai akan tujuan hidupnya, para pemuda yang tercipta seolah-olah hanya untuk dunia, para pemuda yang tidak mengenal masjid kecuali hari Jum’at saja, para pemuda yang tidak mengenal al-Qur’an kecuali di saat Yasinan pula, para pemuda yang tidak mengenal salawat kecuali di sela-sela antara adzan dan iqomat -itupun salawat yang dibuat-buat-, para pemuda yang silau oleh kebudayaan barat dan lupa akan keteladanan kaum salaf kebanggaan umat. Aduhai, para pemuda… dimanakah kalian berada? Musuh berada di hadapan, sementara kalian terbirit-birit meninggalkan benteng pertahanan!! Allahul musta’aan…

PORNORAFI LEBIH MERUSAK OTAK DIBANDING NARKOBA

October 1, 2010

Kecanduan pornografi belakangan menjadi isu besar di Indonesia. Kecanduan ini sering terabaikan, padahal dampak yang ditimbulkan kecanduan pornografi lebih besar ketimbang kecanduan narkoba.

Kecanduan pornografi merupakan tren baru masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang berdampak luas dan dalam waktu singkat dapat merusak tatanan psikososial masyarakat.

Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya.

“Banyak orang yang mengabaikan dampak pornografi, padahal efek negatifnya lebih besar daripada narkoba dalam hal merusak otak. Tak hanya itu, pecandu pornografi juga lebih sulit dideteksi ketimbang pacandu narkoba,” ujar Dr Mark B. Kastlemaan, pakar adiksi pornografi dari USA, dalam acara ‘Seminar Eksekutif Penanggulangan Adiksi Pornografi’ di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Senin (27/9/2010)

.

Menurut Dr Mark, pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Sedangkan kecanduan narkoba menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak.

Kerusakan bagian otak ini akan membuat prestasi akademik menurun, orang tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Bagian inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

Pada pecandu pornografi, Dr Mark menjelaskan, otak akan merangsang produksi dopamin dan endorfin, yaitu suatu bahan kimia otak yang membuat rasa senang dan merasa lebih baik.

Dalam kondisi normal, zat-zat ini akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik. Tapi dengan pornografi, otak akan mengalami hyper stimulating (rangsangan yang berlebihan), sehingga otak akan bekerja dengan sangat ekstrem dan kemudian mengecil dan rusak

.

“Pada dasarnya orang yang kecanduan pornografi merasakan hal yang sama dengan pecandu narkoba, yaitu ingin terus memproduksi dopamin dalam otak. Tapi pecandu pornografi bisa memenuhi ‘kebutuhan’ barunya itu dengan lebih mudah, kapan pun dimanapun, bahkan melalui handphone. Akhirnya, ini akan lebih sulit dideteksi dan diobati ketimbang adiksi narkoba,” jelas Dr Mark yang juga Kepala Edukasi & Training Officer for Candeo, perusahaan riset, teknologi dan pelatihan untuk penyembuhan adiksi secara online yang berpusat di Amerika Serikat.

Dr Mark mengatakan pornografi merupakan adiksi baru yang tidak tampak pada mata, tidak terdengar oleh telinga, namun menimbulkan kerusakan otak yang permanen bahkan melebihi kecanduan narkoba.

Oleh karena itu, diperlukan suatu pembinaan dan pengawasan dari semua kalangan, khususnya untuk anak-anak, remaja dan dewasa muda, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan baru, yaitu pornografi.