TIADA KEMATIAN TANPA DATANGNYA AJAL

Banyak orang yang menyangka bahwa penyebab kematian itu bermacam-macam. Kadang-kadang suatu kematian didahului oleh suatu penyakit yang mematikan seperti AIDS, leuchemia, penyakit sampar atau kerana tertusuk pisau, tertembak, terbakar api, terpenggal kepalanya, serangan jantung (stroke) dan sebagainya.  Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah sebab-sebab yang secara langsung menyebabkan datangnya kematian.  Artinya, kematian itu datang kerana sebab-sebab tersebut.  Berdasarkan kenyataan seperti itu terkenal di kalangan mereka sebuah pepatah: “Banyak sebab untuk mati tapi hasilnya satu, yaitu mati”.

Pada hakekatnya kematian dan sebab kematian adalah satu, yaitu sampainya ajal, tidak ada sebab yang lainnya.  Bebagai contoh di atas yang seringkali terjadi dan dapat menghantarkan kepada kematian hanya merupakan suatu kondisi yang menghantarkan kepada kematian, dan bukan sebab-sebab kematian itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, suatu sebab akan menghasilkan musabab atau akibat secara pasti; dan satu musabab tidak akan terjadi melainkan dengan hanya satu sebab bagi musabab sendiri.  Berlainan dengan keadaan/kondisi, ia merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal ikhwal tertentu (pembunuhan, hukuman mati, penyakit yang mematikan dan sebagainya) yang dapat menghasilkan sesuatu berdasarkan kebiasaan.  Tetapi keadaan/kondisi kadang-kadang menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan atau bahkan tidak menghasilkan sesuatu apapun.  Kadang-kadang ditemukan adanya keadaan (yang mematikan) tetapi kematian tidak terjadi, dan terkadang ditemukan kematian tanpa didahului oleh suatu keadaanpun.

Memang banyak hal/kasus yang dapat menghantarkan kepada kematian. Tetapi hubungan keduanya itu tidak bisa dijadikan sebagai postulat kausalitas, kerana  kadang-kadang ‘kasus/peristiwa’ berbahaya itu terjadi tetapi tidak mengakibatkan kematian. Dan sebaliknya,  kematian bisa datang tanpa didahului oleh suatu peristiwa/kasus semacam itu.  Sebagai contoh orang yang tertusuk pisau dan menderita luka parah sehingga –menurut analisa medis–  seharusnya ia mati, tetapi ternyata ia tidak mati, bahkan kemudian sembuh dan sehat wal afiat.  Begitu juga kadang-kadang terjadi kematian tanpa sebab yang jelas, yaitu di luar perhitungan medis, seperti serangan jantung yang membawa kematian seseorang secara mendadak.

Kejadian-kejadian di atas tadi banyak ditemui dan diketahui oleh para dokter, ribuan kasus yang diterima oleh rumah sakit-rumah sakit, suatu sebab yang biasanya secara pasti dan lazim dapat menghantarkan kematian pada seseorang ternyata orang tersebut tidak mati, sebaliknya malah kematian itu bisa datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebab-sebabnya.  Berdasarkan hal ini para dokter umumnya menggambarkan keadaan pasien yang “hidup segan mati tak mau” sebagai: seseorang (yang menderita penyakit mematikan) yang menurut ilmu kedokteran tidak memiliki harapan (hidup) lagi tetapi memiliki kemungkinan sembuh, namun hal ini berada di luar pengetahuan kita.  Begitu pula pendapat mereka terhadap seseorang yang keadaannya tidak membahayakan atau dalam keadaan sehat, namun secara tiba-tiba keadaannya bertambah parah.

Semua itu adalah fakta kehidupan yang telah disaksikan oleh manusia maupun ahli-ahli kedokteran dengan mata kepalanya sendiri.  Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa sesuatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kematian bukan merupakan sebab kematian.  Andaikan hal itu dianggap sebagai sebab, tentu akan menghasilkan kematian secara pasti.  Dan kematian tidak dapat terjadi dengan kasus yang lain, oleh kerana tidak dapat menghasilkan kematian secara pasti, meskipun dalam satu kasus saja dan kematian bisa datang kerana berbagai macam cara, walaupun dalam satu kasus/peristiwa saja, maka hal ini menunjukkan secara pasti bahwa hal itu bukan sebab melainkan “kondisi” saja.  Sedangkan sebab kematian yang sebenarnya yang menghasilkan musabab adalah sesuatu hal yang lain bukan seperti yang dijelaskan dalam “kasus/kondisi” diatas.  Adapun sebab kematian yang sebenarnya, hal itu berada di luar kemampuan akal untuk mengetahuinya kerana berada di luar jangkauan indera manusia. Maka manusia harus mencari petunjuk dari Allah SWT tentang masalah ini.  Hendaknya hal ini dapat dibuktikan dengan dalil yang qath’i baik dalalahnya maupun sumbernya.  Allah SWT melalui beberapa ayat dalam Al Qur’an telah memberitakan kepada kita bahwa sebab dari kematian adalah sampainya ajal, dan bahwasanya (Dzat) yang mematikan adalah Allah SWT.  Kematian hanya datang kerana ajal dan hanya Allahlah yang mematikan.  Sebagaimana firman Allah:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin  Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (QS Al Imron: 145).

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa   (orang) yang belum mati ketika tidurnya maka Dia tahanlah jiwa  (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan  jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.  Sesungguhnya pada  yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum  yang berfikir”

(QS. Az Zumar: 42)

“… Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan”

(QS Al Baqarah: 258).

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,  kendatipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh”

(QS An Nisaa’: 78)

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,  maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”

(QS Al Jumuah: 8).

“Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat  mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat memajukannya”

(QS Al A’raf: 34)

Semua ayat-ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya adalah qath’i tsubut yaitu bersumber pasti dari Allah dan qath’i dilalah yaitu bahwasanya Allahlah yang mematikan (makhluq).  Dan sesungguhnya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal bukan berupa “keadaan/kondisi” yang dapat menghantarkan pada kematian.

Oleh kerana itu, seorang muslim wajib beriman berdasarkan akal dan syara’ bahwa apa yang disangkanya sebagai sebab kematian hanya merupakan “keadaan” bukan berupa sebab, dan bahwa sebab itu suatu hal yang berbeda.  Juga syara’ telah menetapkan melalui dalil yang qath’i bahwasanya kematian itu berada di tangan Allah.  Dan Allah SWT adalah Dzat yang berhak mematikan dan sebab kematian adalah datangnya ajal.  Apabila ajal datang, maka kematian tidak dapat diundurkan ataupun dimajukan walaupun sedetik, dan manusia tidak akan mampu menghindarinya atau lari dari kematian secara mutlak.  Dan mati pasti akan menjemputnya.

Adapun yang diperintahkan kepada manusia adalah agar bersikap waspada dan menjauhkan dirinya dari “keadaan/kondisi” yang biasanya dapat menghantarkan pada kematian, yaitu dengan cara menjauhkan/ menghindari dari suatu keadaan/kondisi yang biasanya mengakibatkan kematian.  Adapun mati maka manusia tidak perlu takut atau lari dari kematian.  Sebab tidak mungkin ia mampu menghindarinya secara mutlak.

Manusia tidak akan mati kecuali jika telah sampai padanya ajal.  Tak ada bedanya apakah ia mati biasa, terbunuh, terbakar, atau yang lainnya.  Yang jelas, kematian dan ajal berada di tangan Allah SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: