TAKUT KEPADA ALLAH DALAM KEADAAN TERSEMBUNYI DAN TERANG-TERANGAN

Takut kepada Allah merupakan kewajiban. Dalilnya adalah al-Quran dan as-Sunah. Adapun dalil al-Quran adalah firman Allah:

Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (TQS. al- Baqarah [2]: 41)

Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk). (TQS. al- Baqarah [2]: 40)

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 175)

Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 28)

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. (TQS. al-Mâidah [5]: 44)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu (TQS. an-Nisa [4]: 1)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka (TQS. al- Anfâl [8]: 2)

Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)- Nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). Dan kami tiadalah mengundur-kannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.

Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). (TQS. Hûd [11]: 102-106)

Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (TQS. Ar-Ra’du [13]: 21)

Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (TQS. Ibrahim [14]: 14)

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (TQS. al-Hajj [22]: 1-2)

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (TQS. ar-Rahmân [55]: 46)

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (TQS. Nûh [71]: 13).

Artinya mengapa kamu tidak takut kepada Kebesaran Allah. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. TQS. ‘Abasa [80]: 34-37)

Adapun kewajiban memiliki rasa takut berdasarkan as- Sunah dan Atsar, dapat dilihat dari apa-apa yang disebutkan secara langsung (manthuq) atau berdasarkan mafhum dari hadists-hadits berikut:

Dari Abû Hurairah ra. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan- Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai kerena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak seorang perempuan cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Orang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan seorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah saw. pernah berkhutbah yang aku tidak pernah mendengar khutbah seperti itu selamanya. Rasulullah saw. bersabda: Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kemudian para sahabat Rasulullah saw. menutup wajah mereka dan mereka menangis tersedu-sedu. (Mutafaq ‘alaih).

Dari ‘Adiy bin Hatim ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di

dunia). Ia pun menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia melihat ke depan, maka ia tidak melihat kecuali neraka ada di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma. (Mutafaq ‘alaih).

Dari ‘Aisyah ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Manusia di hari kiamat akan dikumpulkan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Aku berkata, “Wahai Rasulallah saw.! Apakah laki-laki dan wanita akan saling menatap satu sama lainnya?” Rasulullah saw. bersabda, “Wahai ‘Aisyah!, urusan pada saat itu lebih dahsyat, sehingga mereka tidak akan sempat saling memandang kepada yang lain.” (Mutafaq ‘alaih)

Diriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir ra., katanya; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni neraka pada hari kiamat ialah seorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya sepotong bara api yang menyebabkan otaknya mendidih. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridhai keduanya, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Kelak manusia akan berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam, hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai ke paras kedua telinganya. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Manusia pada hari kiamat akan berkeringat hingga mengalir di permukaan bumi setinggi tujuh puluh hasta dan akan meneggelamkan mereka sampai ke telinganya. (Mutafaq ‘alaih)

_ Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

Allah berfirman, “Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan maksiat, maka janganlah ditulis hingga ia melaksanakannya. Jika ia melakukannya, maka tulislah kesalahaan itu dengan satu kesalahan. Jika ia meninggalkannya karena Aku, maka catatlah sebagai sebuah kebaikan. Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan sebuah kebaikan tapi ia belum sempat melaksanakannya, maka catatlah sebagai sebuah kebaikan. Jika ia melakukannya, maka catatlah sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat.

(Mutafaq ‘alaih)

_ Dari Abû Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Jika seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seseorang pun yaang mengharapkan surga-Nya. Jika orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seseorang pun yang berputusasa dari rahmat-Nya. (HR. Muslim)

_ Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ada seorang kiflu (orang yang suka menjamin urusan orang lain) dari Bani Israil yang tidak berhati-hati dari dosa yang dilakukannya. Suatu ketika ia didatangi seorang wanita. Kemudian ia memberikan enam dinar kepada wanita itu dengan syarat boleh menyetubuhinya. Ketika ia telah berada pada posisi akan

menyetubuhinya, wanita itu mendadak menggigil katakutan dan menangis. Kemudian laki-laki itu berkata, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Wanita itu berkata, “Aku menangis karena perbuatan seperti ini belum pernah kulakukan selama ini. Aku tidak terdorong untuk melakukannya kecuali karena kebutuhan yang mendesak.” Laki-laki itu berkata, “Jadi engkau menangis kerena takut kepada Allah? Sungguh aku lebih pantas untuk takut kepada Allah. Pergilah dan ambillah jadi milikmu apa yang telah kuberikan tadi. Demi Allah, aku tidak akan menentang Allah lagi setelah ini selamanya.” Kemudian laki-laki itu mati di malam harinya, dan tiba-tiba tertulislah dipintu rumahnya, “Sesungguhnya Allah telah mengampuni laki-laki itu”. Maka orang-orang pun terkaget-kaget karenanya. (HR. at-Tirmidzi, ia menghasankan hadits ini, dan al-Hâkim dalam kitab Shahih-nya. Hadits ini disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan Baihaqi dalam asy-Sya’bi)

Dari Abû Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman: Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada- Ku di dunia, maka Aku akan bemberikannya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat. (HR. Ibnu

Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Dari Ibnu Abbas, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; ketika Allah menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya: Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.

(TQS. at-Tahrim [66]: 6); Pada suatu hari Rasulullah saw.  membacakan ayat ini kepada para sahabat, tiba-tiba ada seorang pemuda yang terjungkal pingsan. Kemudian Nabi saw. Meletakkan tangan beliau di atas hatinya, dan ternyata jantungnya masih berdetak. Kemudian Nabi saw. bersabda, “Wahai anak muda ucapkanlah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’”, maka pemuda itu pun mengucapkannya. Kemudian beliau memberikan kabar

gembira kepadanya dengan surga. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, apakah di antara kami ada yang seperti itu?” Rasulullah bersabda; apakah kalian tidak mendengar firman Allah: Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (HR. al-Hâkim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

_ Dari ‘Aisyah ra., ia berkata; Wahai Rasulullah saw.!, Allah

berfirman: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (TQS.al-Mukmin [23]: 60); adalah ditujukan kepada orang yang berzina dan minum khamr. Dalam riwayat Ibnu Sabiq dikatakan, “Apakah ditujukan

pada orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr, tapi meski begitu dia takut kepada Allah?” Rasulullah saw. bersabda, “Bukan”. Dalam riwayat Waki dikatakan, “Bukan, Wahai Putri Abû Bakar ash-Shiddiq, tapi ia adalah orang yang menunaikan shaum, shalat, dan sedekah; dan ia merasa khawatir ibadahnya tersebut tidak diterima.” (HR. al-Baihaki dalam asy-Sya’bi, al-Hâkim dalam al-Mustadrak, ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz- Dzahaby).

Dari Tsauban ra., dari Nabi saw., beliau bersabda: Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebarkan. Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika

menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah. Al-Kinani penulis buku Mishbah al-Zujajah berkata, “Isnad hadits ini shahih, para

perawinya terpercaya”)

_ Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi saw. dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata: Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berdiri di bawah gunung. Ia takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat akan melihat dosadosanya

seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudia ia berkata mengenai dosanya, “Seperti inikah?” Abû Syihab berkata dengan tangannya —yang diletakkan— di atas hidungnya.. (HR. al-Bukhâri)

_ Dari Sa’ad ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah akan mencintai seorang hamba yang takwa, kaya5, dan tidak dikenal karena sibuk beribadah kepada-Nya. (HR. Muslim)

_ Dari Usamah bin Syarik, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Apa-apa yang tidak disukai Allah darimu, maka janglah engkau kerjakan, (meskipun) sedang sendirian. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)

_ Dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah saw. manusia manakah yang paling utama? Rasulullah saw bersabda, “Orang yang bening hatinya dan

jujur lisannya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, Kami sudah mengetahui maksud ‘jujur lisannya’, namun apa yang dimaksud dengan ‘bening hatinya’?” Rasulullah saw. bersabda, “Adalah hati yang takut (kepada Allah) dan bersih. Di dalamnya tidak ada dosa, sifat jahat, kedengkian, dan iri.” (Al-Kinani berkata, “Sanad hadits ini shahih”. Al-Baihaki meriwayatkannya dalam kitab Sunan-nya dengan bentuk seperti ini)

Dari Abû Umamah, dari Nabi saw, beliau bersabda: Sesungguhnya wali yang paling menarik bagiku adalah seorang mukmin yang sedikit harta dan keluarganya, yang memiliki bagian yang memadai dalam shalatnya (menambahnya dengan shalat sunnah secara bersungguh-sungguh), dan paling baik ibadahnya kepada Rab-nya. Ia taat kepada Allah pada saat menyendiri, tidak ada yang melihatnya. Ia nenyembunyikan (ibadahnya) terhadap manusia. Ia tidak pernah ditunjuk-tunjuk oleh jari tangan orang lain. Rizkinya tidak terlalu banyak, tapi ia sabar atas rizkinya.

Kemudian beliau mengibaskan tangannya dan bersabda, “Kematian orang itu cepat sekali, sedikit orang yang menangisinya dan sedikit peninggalannya.” (HR. at-Tirmidzi. Ia menghasankannya)

_ Dari Bahz bin al-Hâkim, ia berkata; Bani Qusyair mengimami kami di Masjid, kemudian ia membaca surat al-Mudatsir. Maka ketika ia sampai kepada ayat:

Apabila ditiup sangkakala, (TQS. al-Mudatsir [74]: 8), ia tersungkur dan meninggal dunia. (HR. al-Hâkim. Ia berkata, “Sanadnya shahih”)

_ Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa di antara kalian bertemu dengan Abbas, maka hendaklah ia menahan diri darinya (tidak menyerangnya), karena ia ikut berperang bersama orang Quraisy dalam keadaan terpaksa. Abû Huzaifah bin ‘Utbah berkata, “Kenapa kami harus membunuh bapak, saudara, dan kerabat kami, sementara kami harus membiarkan Abbas? Demi Allah aku pasti akan memenggalnya dengan pedang.” Kemudian berita itu sampai kepada Rasulullah saw., maka Rasul saw. berkata kepada Umar bin al-Khathab, “Wahai

Aba Hafs!, —hari itu adalah pertama kalinya Rasulullah memanggilku dengan nama Abi Hafs— ia akan memenggal paman Rasulullah saw. dengan pedang?” Umar berkata, “Biarkanlah aku memenggal lehernya karena ia sungguh telah menjadi orang munafik.” Abû Huzaifah berkata, “Aku sejak saat itu tidak pernah merasa aman dari ucapanku tersebut. Dan aku akan senantiasa dihinggapi rasa takut, hingga Allah menebusnya dariku dengan mati syahid.” Ibnu Abbas berkata, “Abû Huzaifah terbunuh pada perang Yamamah sebagai syuhada.” (HR. al-Hâkim dalam kitab al-Mustadrak. Ia mengatakan hadits ini shahih memenuhi syarat Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: