MERINDUKAN SURGA DAN BERLOMBA DALAM KEBAIKAN

Beriman bahwa surga adalah hak, yang disediakan hanya bagi orang-orang yang beriman, dan diharamkan atas orang-orang kafir selamanya, merupakan bagian dari keimanan kepada hari akhir. Dalilnya adalah Firman Allah:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 133)

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. (TQS. al-A’râf [7]: 50)

Siapa saja yang mengingkari surga, neraka, kebangkitan, atau hisab termasuk orang kafir, karena terdapat nash-nash yang qath’i tsubut (pasti sumbernya) dan qath’i dalalah (pasti maknanya) yang telah menjelaskan semua itu. Orang-orang yang menjadi

penghuni surga ada beberapa macam diantaranya:

_ Para Nabi, Orang-orang yang jujur, Syuhada, dan Orang-orang yang shalih. Allah berfirman: Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (TQS. an-Nisa [4]: 69)

_ Orang-orang yang berbuat baik (al-Abrâr), Allah berfirman: Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (surga), (TQS. al-Muthafifîn [83]: 22)

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaikbaiknya.

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu

hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh

kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, (TQS.

al-Insân [76]: 5-12).

_ Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) yang didekatkan kepada Allah. Allah berfirman : Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga keni’matan. (TQS al-Wâqi’ah [56]: 10 –12)

_ Ashhâbul Yamin yaitu Orang-orang yang menerima buku catatan amal dari sebelah kanan. Allah berfirman : Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.

Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan,

penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (TQS. al-Wâqi’ah [56]: 27-38)

_ Al-Muhsinûn, yaitu Orang-orang yang senantiasa berbuat baik dengan ikhlas dan sesuai dengan aturan syariat. Allah berfirman: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu

hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (TQS. Yûnus [10]: 26)

Ash-Shâbirûn, yaitu Orang-orang yang bersabar. Allah berfirman: (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke

tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bimâ shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (TQS. ar-Ra’d [13]: 23-24)

Orang yang takut saat menghadap Tuhannya. Allah berfirman: Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (TQS. ar-Rahmân [55]: 46)

Al-Muttaqûn, yaitu orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (TQS. al-Hijr [15]: 45).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; (TQS. ad-Dukhân [44]: 51-52).

Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa. (TQS. Maryam [19]: 63).

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (TQS. ar- Ra’d [13]: 35).

_ Orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (TQS. al-Kahfi [18]:107-108),

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (TQS. ar-Ra’d [13]: 29),

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (TQS. Yûnus [10]: 9),

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan. (TQS. az-Zukhruf [43]: 69-70),

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga mereka kekal di dalamnya. (TQS. Hûd [11]: 11).

_ At-Tâibûn, yaitu orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman:

Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (TQS. Maryam [19]: 60).

Kenikmatan surga adalah kenikmatan yang bisa diindera. Di antara dalil yang menunjukan hal ini adalah:

_ Kenikmatan surga berupa pakaian. Allah berfirman:

Dan pakaian mereka adalah sutera. (TQS. al-Hajj [22]: 23). Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, (TQS. ad-Dukhan [44]: 53).

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, (TQS. Al-Insan[76]: 12)

Dan Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak,…(TQS. Al-Insan [76]: 21).

Kenikamatan surga berupa makanan dan minuman. Allah berfirman:

dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. (TQS. al-Wâqi’ah [56]: 20- 21).

Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, (TQS. al-Wâqi’ah [56): 28-32).

Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang

yang didekatkan kepada Allah. (TQS. al-Muthafifîn [83]: 25- 28).

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. (TQS. al-Insân [76]: 5-6),

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. (TQS. al-Insân [76]: 14),

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. (TQS. al-Insân [76]: 17-18)

Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. (TQS. al-Insân [76]: 21),

Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan. (TQS. Az-Zukhruf [43]: 73),

Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), (TQS. Ad-Dukhân [44]: 55),

Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (TQS. al-Mursalat [77]: 42),

Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (TQS. ath-Thûr [52]: 22),

Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka ni‘mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan. Maka ni‘mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (TQS. ar-Rahmân [55]: 50-53).

Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (TQS. ar-Rahmân [55]: 54).

_ Kenikmatan surga berupa pasangan hidup. Allah berfirman:

Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari. (TQS. Ad-Dukhan [44]: 54),

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (TQS. al-Wâqi’ah [56): 22-23),

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (TQS. al-Wâqi’ah [56): 35- 37),

Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (TQS. ath-Thûr [52]: 20),

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah

yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. (TQS. ar-Rahmân [55]: 56-58).

_ Kenikmatan surga berupa pelayan. Allah berfirman: Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, (TQS. al-Wâqi’ah [56]: 17),

Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan. (TQS. al-Insân [76]: 19).

_ Kenikmatan surga berupa perkakas. Allah berfirman: Sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (TQS. al-Hijr [15]: 47),

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala. (TQS. az-Zukhruf [43]: 71),

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. (TQS. al-Muthafifîn [83]: 23),

Dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, (TQS. al-Wâqi’ah [56]: 18),

Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan (TQS. Al- Insân [76]: 13),

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (TQS. Al-Insan [76]: 15),

Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. (TQS. al- Wâqi’ah [56]: 15-16),

Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (TQS. al-Wâqi’ah [56]: 34),

Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar. (TQS. al- Ghasyiyah [88]: 13-16,

Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan. (TQS. ath- Thûr [52]: 20),

Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. (TQS. ar-Rahmân [55]: 54).

_ Kenikmatan surga berupa suhu udara yang sedang. Allah berfirman:

Mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka. (TQS. al-Insân [76]: 13-14).

_ Kenikmatan surga berupa perkara-perkara yang diinginkan. Allah berfirman:

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (TQS. az-Zukhruf [43]: 71),

Sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (TQS. an-Nahl [16]: 57), …Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan. (TQS. al-Fushilat [41]: 31),

Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam meni‘mati apa yang diingini oleh mereka. (TQS. al-Anbiya [21]: 101-102). Di antara perkara-perkara yang dijaga Allah dari ahli surga dan akan dijauhkan dari mereka adalah:

_ Rasa dengki. Allah berfirman: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka. (TQS. al-Hijr [15]: 47).

_ Kepayahan dan kelelahan. Allah berfirman: Mereka tidak merasa lelah di dalamnya. (TQS. al-Hijr [15]: 48).

_ Takut dan sedih. Allah berfirman:

Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (TQS. az-Zukhruf [43]: 68).

Kenikmatan surga adalah kenikmatan abadi yang tidak akan sirna. Para penghuni surga tidak akan keluar dari dalamnya. Dalil atas hal ini adalah firman Allah: Mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (TQS. al-Hijr [15]: 48), Dan kamu kekal di dalamnya. (TQS. az-Zukhruf [43]: 71), Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka, (TQS.Ad-Dukhân [44]: 56), Mereka kekal dalam meni’mati apa yang diingini oleh mereka. (TQS. al-Anbiya [21]: 102).

Itulah sekilas gambaran tentang surga. Karena itu marilah kita bersegera menggapainya. Allah berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan

untuk orang-orang yang bertakwa, (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 133). Marilah kita berlomba-lomba melaksanakan kebaikan. Allah berfirman: Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu

sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (TQS. al-Baqarah [2]: 148) Dengan begitu Allah akan menolong kita di dunia. Dan di akhirat kelak kita akan ada di surga yang paling tinggi (a’la iliyyin) bersama

orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah di akhirat. Allah berfirman:

Dan barangsiapa yang menta‘ati Allah dan Rasul (Nya), mereka Itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (TQS. an-Nisa [4]: 69).

Siapakah yang lebih utama dari para pengemban dakwah, yang senantiasa berlomba melaksanakan kebaikan, bersegera meraih ampunan, surga, dan keridhaan Allah Yang Maha Besar? Kebaikan-kebaikan yang diperintahkan Allah agar kita berlomba-lomba dan bersegera melaksanakannya banyak sekali, diantaranya:

_ Seluruh fardhu a’in, seperti shalat wajib, zakat wajib, shaum Ramadhan, haji, memahami perkara yang diwajibkan bagi manusia dalam hidupnya, jihad untuk mempertahankan diri, jihad yang diperintahkan oleh Khalifah, melakukan baiat tha’at, memberi nafkah yang wajib dan berusaha mencarinya, menjalin silaturahmi kepada kerabat, bergabung dalam jama’ah kaum Muslim, dan lainlain.

_ Seluruh fardhu kifayah, seperti mewujudkan jamaah (organisasi) yang menyerukan Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar. Termasuk melakukan jihad yang

diperintahkan, baiat in’iqad, thalabul ilmi, berjaga-jaga di benteng pertahanan, dan lain-lain. Kewajiban-kewajiban ini, baik fardhu a’in ataupun fardhu kifayah, adalah ibadah yang paling utama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Seorang hamba tidak akan meraih ridha Allah kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. Dalil atas hal ini adalah hadits dari Abû Umamah riwayat ath-Thabrâni di dalam al-Kabir, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman, “Siapa saja yang menghinakan kekasih-Ku berarti ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai

anak Adam, engkau tidak akan memperoleh apa yang ada di sisi-Ku kecuali dengan melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadamu…”

_ Segala ibadah yang disunahkan. Jika seorang hamba telah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, lalu diikuti dengan melaksanakan ibadah yang disunahkan, dan bertaqarub kepada Allah dengan perkara yang disunahkan, maka Allah akan mendekat kepada-Nya dan akan mencintai-Nya. Dalam hadits dari Abû Umamah riwayat ath-Thabrâni di dalam al-Kabir, yang telah disebutkan sebelumnya menyatakan:

Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada- Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada- Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hamba- Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat. Imam al-Bukhâri meriwayatkan suatu hadits dari Anas bin Malik

dari Nabi saw., bahwa sesungguhnya Allah berfirman: Apabila seorang hamba mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa.

Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Di antara ibadah-ibadah yang disunahkan adalah:

Wudlu untuk setiap kali Shalat serta Menggosok Gigi setiap kali Berwudhu

Dalilnya adalah hadits riwayat Ahmad dengan isnad yang hasan dari Abû Hurairah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Jika tidak khawatir memberatkan umatku, maka pasti aku akan memerintahkan mereka berwudhu untuk setiap shalat dan menggosok gigi setiap kali berwudhu. Dalam satu riwayat mutafaq ‘alaih disebutkan: Jika aku tidak khawatir memberatkan umatku, maka pasti aku akan memerintahkan mereka menggosok gigi setiap kali shalat.

Shalat Dua Raka’at setelah Wudhu

Hal ini didasarkan pada hadits dari Abû Hurairah —

mutafaq ‘alaih— sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepada Bilal:

Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku amal yang paling engkau harapkan di dalam Islam, karena aku telah mendengar ketukan kedua terompahmu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan suatu amal yang paling aku harapkan selain senantiasa shalat setiap kali selesai bersuci baik siang atau malam, selama shalat diwajibkan

kepadaku.”

Adzan, Berdiri di Barisan Pertama dan Bergegas untuk Shalat

Dalilnya adalah hadits mutafaq ‘alaih yang diriwayatkan dari Abû Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Andaikan manusia mengetahui keutamaan adzan dan barisan pertama (dalam shalat), kemudian mereka tidak bisa melakukan keduanya kecuali harus mengikuti undian terlebih dahulu, maka pasti mereka akan mengikuti undian. Andaikan mereka mengetahui keutamaan bergegas untuk shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba menggapainya. Dan andaikan mereka mengetahui

keutamaan shalat Isya’ dan Shubuh, niscaya mereka akan menunaikannya meski harus berjalan dengan merangkak. Juga berdasarkan hadits al-Bara riwayat Ahmad dan an-Nasâi di dalam isnadnya. Telah berkata al-Mundziri tentang hadits ini adalah hasan baik, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah dan Malaikat memberikan rahmat kepada orang yang berada di shaf (barisan) terdepan. Muadzin akan dimintakan ampunan selama suara adzannya (masih berbunyi) dan akan dibenarkan oleh siapa saja yang mendengarkannya, baik benda cair maupun padat. Juga ia akan mendapatkan pahala orang yang shalat bersamanya.

Menjawab Adzan

Dalilnya adalah hadits mutafaq ‘alaih diriwayatkan oleh al-Hudri, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Jika kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang

diucapkannya. Dalam satu riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash, dikatakan, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bacalah shalawat kepadaku. Karena siapa saja yang membaca shalawat kepadaku, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali. Mintakanlah kepada Allah untukku derajat yang mulia di surga kelak (al-wasilah), karena al-wasilah adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi hamba Allah. Dan aku berharap hamba Allah itu adalah aku. Siapa saja yang memintakannya untukku, maka dia berhak atas syafa’atku.

Dalam hadits dari Jabir riwayat al-Bukhâri, dikatakan, sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan, “Ya Allah, Pemilik panggilan yang sempurna ini dan Pemilik shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad saw. wasilah dan fadhilah; kirimkan kepadanya kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan padanya”, maka pasti dia berhak atas syafa’atku di hari

kiamat.” Maksud sabda Nabi saw. “hina yasma’u nida” (ketika mendengar adzan) adalah setelah adzan itu selesai dikumandangkan.

Berdoa di antara Adzan dan Iqamat

Hal ini berdasarkan hadits dari Abû Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasâi, Ibn Huzaimah, Ibnu Hibban, dalam kitab shahih keduanya, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

Doa di antara adzan dan qamat itu tidak akan ditolak.

Membangun Masjid

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Utsman ra. Aku mendengan Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang membangun masjid karena mencari ridha Allah,

maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga.” Berjalan ke Masjid untuk Shalat Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Shalatnya seorang laki-laki dengan berjama’ah, melebihi shalatnya di rumah dan di pasar dua puluh lima derajat. Hal ini didapatkannya karena jika ia berwudhu dengan baik, kemudian keluar untuk shalat;

ia tidak keluar kecuali hanya untuk keperluan shalat saja, maka setiap kali ia melangkah pasti akan diangkat satu derajat baginya dan akan dihapus satu kesalahan darinya. Kemudian, jika ia shalat maka malaikat akan senantiasa mendoakannya selama berada di tempat shalatnya. Malaikat akan berkata, “Ya Allah!, rahmatilah ia, Ya Allah!, sayangilah ia.” Seseorang akan senantiasa ada dalam shalat (dicatat sebagai orang shalat, penj.) selama ia menunggu shalat” Juga berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari abu Musa ra, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya manusia yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh jalannya (ke tempat shalat). Dan orang yang menunggu shalat hingga ia shalat bersama imam adalah lebih besar pahalanya dari pada orang yang shalat (sendirian)

kemudian tidur.

Shalat Nafilah (Sunah) di Rumah

Dalilnya adalah hadits mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Jadikanlah sebagian dari shalat kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan.

Juga berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Zaid bin Tsabit ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya shalat yang paling afdhal adalah shalatnya seseorang di rumahnya,

kecuali shalat wajib.

Qiyamullail (Shalat Malam)

Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, (TQS. Sajdah [32]: 16)

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (TQS. adz-Dzâriyat [51]: 17)

Dan berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika kalian sedang tidur. Dia memukul pada setiap ikatan seraya berkata, “Engkau memiliki malam yang sangat panjang, maka tidurlah.” Apabila orang tersebut bangun dan berdzikir kepada Allah, maka terurailah satu ikatan. Kemudian apabila ia wudlu, maka terurailah ikatan yang kedua. Jika setelah itu ia shalat, maka terurailah seluruh ikatan. Di pagi hari ia akan bersemangat dan berjiwa baik. Tapi jika ia tidak melakukan tiga perkara di atas, maka di pagi hari ia akan buruk jiwanya dan menjadi pemalas. Juga berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Ibnu Mas’ud, ia berkata; suatu ketika di hadapan Nabi diceritakan tentang seorang yang tidur hingga waktu shubuh. Maka Rasul saw. berkata: Dia adalah orang yang dikencingi setan di kedua telinganya; atau Rasul berkata, di telinganya. Disunahkan orang yang bertahajjud mengakhiri shalatnya dengan witir, berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar ra., dari Nabi saw, beliau bersabda: Jadikanlah witir sebagai akhir dari shalat malam kalian.

Mandi pada Hari Jum’at

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Ibnu Umar ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Jika salah seorang di antara kalian mendatangi Jum’at, maka hendaklah ia mandi. Juga berdasarkan hadits Salman al-Farisi ra., ia bekata; Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya,

kemudian memakai wangi-wangian atau menyentuh yang wangi-wangi, lalu pergi menuju Masjid; Setibanya di Masjid ia tidak melewati (melangkahi) di antara dua orang, kemudian ia shalat sesuai ketentuan; Dan jika imam datang untuk berkhutbah ia diam

mendengarkannya, maka Allah akan mengampuni dosanya yang ada di antara Jum’at itu dan Jum’at sebelumnya. (HR. al- Bukhâri).

Shadaqah Sunah

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa bershadaqah senilai satu kurma dari usaha yang baik (halal) —Allah tidak menerima kecuali yang baik— maka Allah akan menerima shadaqahnya itu dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk orang yang bershadaqah sebagaimana salah seorang dari kalian mengembangbiakkan anak kambingnya hingga menjadi seperti gunung. Juga berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Adiy bin Hatim, ia berkata; aku mendangar Rasulullah saw bersabda : Tidaklah salah seorang di antara kalian kecuali akan diajak bicara Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia melihat ke sebelah kanannya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan di dunia. Ia pun melihat ke sebelah kirinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan di dunia. Dan ia melihat ke depannya, maka ia tidak melihat kecuali neraka di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma. Juga berdasarkan hadits dengan isnad yang shahih dari Jabir dan Abi Ya’la yang dishahihkan oleh al-Hâkim dan disetujui adz- Dzahabi, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw. Bersabda kepada Ka’ab bin Ajrah: Wahai Ka’ab bin Ujrah, shalat adalah pendekatan kepada Allah, puasa adalah perisai, dan shadaqah akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api….”

Sebaik-baiknya shadaqah adalah shadaqah yang tersembunyi, berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah. Rasul saw. menyebutkan di antara mereka adalah: Seseorang yang bershadaqah kemudian ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanan. Begitu juga shadaqah kepada kerabat termasuk shadaqah yang utama berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Zainab ats-Tsaqafiyah, ia berkata; Rasul saw. bersabda: Kedua orang itu (orang yang bersedekah kepada kerabat) akan mendapatkan dua pahala yaitu pahala kekerabatan dan pahala

shadaqah.

Memberikan Pinjaman (al-Qardlu)

Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud, riwayat Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Seorang muslim yang memberikan pinjaman dua kali kepada muslim yang lain, sama dengan bershadaqah satu kali.”

Penangguhan Pembayaran Hutang untuk Orang yang Lapang, dan Membebaskannya dari Orang yang Kesulitan

Berdasarkan Huzaifah, yang telah disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, ia berkata; aku mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ada seseorang dari umat sebelum kalian didatangi Malaikat untuk dicabut nyawanya. Maka malaikat berkata, “Apakah

engkau pernah melakukan kebaikan?” Orang itu berkata, “Aku tidak tahu.” Malaikat berkata, “Berfikirlah engkau!” Kemudian ia berkata, “Aku tidak mengetahui sedikit pun perbuatan baik yang pernah aku lakukan. Hanya saja aku dulu pernah bertransaksi

dengan seseorang di dunia, kemudian aku menangguhkan (pembayaran hutang) dari orang yang mempunyai kelapangan dan membebaskan dari orang yang kesulitan.” Rasul saw. bersabda, “Akhirnya Allah memasukkannya ke surga.” Abû Mas’ud berkata, “Aku mendengar beliau saw. mengatakan hal itu.”

Memberi Makanan

Berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abdullah bin Amru, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw., “Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. bersabda: Memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. Memberi Minum kepada Setiap yang Bernyawa Berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Dulu ada seorang lelaki berjalan di jalanan yang sangat panas,

kemudian ia menemukan sumur. Ia pun turun ke dalamnya untuk minum, lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidah dan menelan liurnya, karena kehausan. Orang itu berkata, “Anjing ini telah kehausan seperti aku.” Kemudian ia turun ke sumur dan mengisi sepatunya dengan air, lalu ia gigit hingga naik ke atas sumur dan memberikan minum kepada anjing itu. Maka Allah pun bersyukur kepada orang tersebut dan mengampuninya. Para sahabat berkata, “Apakah pada hewan ada pahala bagi kita?” Rasulullah saw. bersabda, “Berbuat baik pada setiap hewan yang hidup terdapat pahala.”

Shaum Sunah

Dari Abû Umamah, ia berkata; aku berkata: Wahai Rasulullah saw., perintahkanlah kepadaku suatu amal. Rasulullah saw. bersabda, “Shaumlah engkau, karena shaum itu

tidak ada bandingannya.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah saw., perintahkanlah kepadaku satu amal yang lainnya!” Rasulullah saw. ber-sabda, “Shaumlah engkau, karena shaum tidak ada bandingannya.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah saw.,

perintahkan kepadaku satu amal lain!” Rasulullah saw. bersabda, “Shaumlah engkau, karena shaum tidak ada yang menyamainya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasâi, Ibnu Huzaimah dalam kitab Shahih-nya. al-Hâkim juga menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi).

Keutamaan shaum sunah ini berlaku bagi kaum Muslim secara umum. Shaum sunah ini bagi orang-orang yang sedang berperang di jalan Allah mempunyai keistimewaan tertentu. Terdapat hadits dari Abû Sa’id, mutafaq ‘alaih, yang menceritakan tentang mereka. Rasulullah saw. bersabda: Seorang hamba yang shaum satu hari pada saat berperang di jalan Allah, maka pasti Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka

selama tujuh puluh tahun. Di antara shaum sunah adalah shaum enam hari di bulan Syawal, shaum di hari ‘Arafah, shaum di bulan Allah yaitu Muharram, khususnya pada hari ‘Asyura, shaum tiga hari setiap bulan, dan shaum Senin-Kamis.

Qiyam Ramadhan, terutama pada malam al-Qadr dan sepuluh malam terakhir

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. menganjurkan qiyam Ramadhan tanpa memerintahkannya secara tegas. Kemudian beliau bersabda: Siapa saja yang melakasanakan qiyam Ramadhan atas dasar keimanan dan semata-mata karena Allah, maka akan diampuni dosanya-dosanya yang telah lalu. Juga dari Abû Hurairah, dalam hadits mutafaq ‘alaih dari Nabi saw., beliau bersabda: Barangsiapa shalat pada malam al-Qadr atas dasar keimanan dan ikhlas karena Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Qiyam Ramadhan tidak dilakukan kecuali dengan mengerjakan shalat. Diriwayatkan dari ‘Aisyah dalam hadits mutafaq ‘alaih, ia berkata: Rasulullah saw. jika telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya, bersunguh-sungguh dan mengencangkan kain sarungnya.

Makan Sahur

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Anas, ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Sahurlah, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barokah.

Menyegerakan Berbuka Puasa

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Sahal bin Sa’id, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Manusia akan terus menerus ada dalam kebaikan selama mereka

bersegara buka puasa. Disunahkan berbuka dengan kurma, jika tidak ada cukup dengan air. Hal ini didasarkan pada hadits Salman bin Amir adh-Dhaby yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah dalam kedua kitab shahihnya dan at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”, dari Nabi saw., beliau bersabda: Jika salah seorang di antara kalian berbuka hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena berbuka dengan kurma adalah barokah. Jika tidak menemukan kurma, berbukalah dengan air, karena air itu adalah kesucian. Juga berdasarkan hadits dari Anas riwayat al-Hâkim dan Ibnu Khuzaimah yang semakna dengan hadits di atas.

Memberi Makanan Orang Shaum untuk Berbuka

Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Khalid al-Jahni riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah dalam kitab shahihnya. At- Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka ia akan mendapatkan pahala sama seperti orang yang

berpuasa, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut.

Umrah

Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: Umrah ke umrah lagi adalah penebus dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada pahala baginya kecuali surga. Umrah di bulan Ramadhan senilai dengan satu kali haji. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits mutafaq ‘alaih dari Ibnu Abbas, ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: Satu kali umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan satu kali Haji.

Mengerjakan Amal Shalih di Sepuluh Hari (pertama) Bulan Dzulhijjah

Hal ini berdasarkan hadits al-Bukhâri dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hari-hari, di mana beramal shalih di dalamnya lebih disukai Allah dari pada hari-hari ini –-yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah!, apakah termasuk (hari-hari) yang di dalam ada jihad fi sabilillah?” Rasulullah saw. bersabda, “Benar!, termasuk (hari-hari) di dalamnya

ada jihad fi sabilillah. Kecuali seorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak kembali dengan jiwa dan hartanya sedikit pun.”

Memohon kepada Allah untuk Mati Syahid

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Sahal bin Hanif, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa memohon kepada Allah untuk mati syahid dengan

benar, maka Allah akan menyampaikannya ke kedudukan para

syuhada meski ia meninggal di tempat tidurnya.

Membaca Surat al-Kahfi atau sepuluh ayat pertama, atau sepuluh ayat terakhir

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abû Darda, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa menghafal sepuluh ayat dari awal surat al-Kahfi, maka ia akan dijaga dari Dajjal. Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan: “Dari akhir surat al-Kahfi.”

Agar sorang muslim terjaga dari Dajjal pada masa kini, maka hendaknya ia membaca surat al-Kahfi semuanya pada malam dan siang hari Jum’at. Asy-Syafi’i sebagaimana dijelaskan dalam al- Umm, sangat menyukainya. Ia berkata, “Aku menyukainya karena

ada dalil tentangnya.”

Murah Hati pada saat Jual-beli, Membayar, dan Menagih

Hal ini berdasarkan hadits riwayat al-Bukhâri dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah akan merahmati seorang yang pemurah ketika menjual, ketika

membeli, dan ketika membayar. Juga berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah, ia berkata: Ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi saw. untuk menagih

hutang kepada beliau. Kemudian ia menagihnya dengan kasar, hingga para sahabat bermaksud menangkap orang tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Biarkanlah ia, karena orang yang mempunyai hak berhak untuk bicara.” Kemudian beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya satu unta usia satu tahun yang sama dengan untanya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah saw., kami tidak menemukan kecuali yang lebih dari untanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Berikanlah kepadanya, karena sebaikbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik ketika membayar.”

Dalam hadits mutafaq ‘alaih dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw. membeli unta dari orang itu, kemudian di timbang dan ternyata unta yang dibayarkan Rasulullah saw. lebih berat timbangannya.

Membaca Shalawat kepada Rasulullah saw.

Hal ini berdasarkan firman Allah: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk

Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (TQS. al- Ahzâb [33]: 56)

Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Amru, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberi rahmat sepuluh kali kepadanya karena shalawat itu.

Menutupi Kesalahan Orang Yang Taat

Seorang muslim yang melakukan kemaksiatan, ada yang berusaha menutupi dan menyembunyikan kemaksiatannya. Namun ada pula orang yang melakukan kemaksiatan secara terang- terangan. Jika seseorang termasuk golongan pertama, maka harus ditutupi kemaksiatannya. Hal ini berdasarkan hadits yang mutafaq

‘alaih dari Ibnu Umar dari Nabi saw., beliau saw bersabda: Barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abû Hurairah, ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa menutupi kesalahan seorang muslim, maka Allah

akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan al-Hâkim meriwayatkan suatu hadits yang dishahihkan dan disetujui oleh adz-Dzahabi dari

Utbah bin Amir, ia berkata; sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa menutupi aib (seorang muslim), maka seolah-oleh ia

telah menghidupkan anak wanita yang telah dikubur hidup-hidup dari kuburnya.

Adapun seorang muslim yang secara terang-terangan melakukan kemaksiatan, maka tidak ada keringanan untuk menutupinya. Karena ia telah mencemarkan dirinya sendiri dan telah membuka perlindungan Allah atas darinya, dan apa yang dilakukannya jelas diharamkan. Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah, ia berkata; sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan. Termasuk terang-terangan dalam kemaksiatan dan kefasikan adalah jika seseorang melakukan maksiat di malam hari, kemudian pada pagi harinya —padahal ia telah ditutup aibnya oleh Allah—, ia berkata, “Wahai fulan, aku tadi malam melaku-kan begini dan begini.” Orang itu di malam hari telah ditutup aibnya oleh Allah, tetapi di pagi harinya ia membuka sendiri perlindungan Allah padanya. Meskipun demikian, seorang muslim hendaknya menjaga lisannya dari membicarakan kemaksiatan orang-orang yang secara terang-terangan melakukan maksiat. Hal ini bukan dalam rangka menutupi aibnya, tapi karena khawatir akan tersebarnya perbuatan keji di tengah-tengah orang-orang yang beriman. Juga karena semata-mata menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Kecuali jika membicarakan kemaksiatan tersebut dalam rangka mengingatkan akan bahayanya orang fasik yang melakukan maksiat secara terang-terangan tadi.

Semua ini berlaku jika suatu kesalahan bahayanya terbatas pada pelakunya saja dan tidak merembet kepada yang lainnya. Adapun jika bahaya kemaksiatan itu bersifat umum, berkaiatan dengan institusi negara, jama’ah, atau umat, maka kita wajib

menyampaikan dan mengungkapkannya. Hal ini didasarkan kepada hadits mutafaq ‘alaih dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Ketika aku berada pada suatu peperangan. Kemudian aku mendengar Abdullah bin Ubay berkata, “Kalian tidak boleh menginfakkan kepada orang-orang yang ada di sekitar Rasulullah saw. hingga mereka berpencar dari majelis beliau. Dan pasti jika kita kembali ke Madinah, maka orang yang lebih mulia akan mengusir yang lebih hina dari Madinah.” Aku lalu menceritakan hal itu kepada pamanku atau Umar. Kemudian ia menceritakannya kepada Nabi saw, maka Nabi saw. pun memanggilku dan aku menceritakannya kepada beliau….

Dalam riwayat Muslim yang lain: “…kemudian aku datang kepada Nabi dan memberitahukan kepadanya tentang perkataan Abdullah bin Ubay tersebut…”

Apa yang dilakukan Abdullah bin Ubay dan orang-orang yang dekat dengannya dari kalangan munafik, adalah perbuatan yang disembunyikan. Buktinya Abdullah bin Ubay mengingkari perbuatan itu ketika ditanya oleh Rasulullah saw., sebagaimana bisa difahami dari hadits di atas. Maka penyampaian berita oleh Zaid bin Arqam kepada Nabi adalah termasuk tindakan mematamatai (musuh). Sedangkan pekara yang dilarang jika dibolehkan maka menjadi wajib, sehingga penyampaian berita dalam kondisi seperti itu hukumnya wajib, karena bahaya yang ditimbulkannya bersifat umum.

Memaafkan, Menahan Marah, dan Sabar Menanggung Beban Penderitaan

Hal ini berdasarkan firman Allah Swt: Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 134),

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (TQS. asy-Syura [42]: 43),

Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (TQS. al- Hijr [15]: 85),

Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (TQS. al- A’râf [7]: 199),

Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? (TQS. an-Nûr [24]: 22).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abû Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Shadaqah tidak akan mengurangi harta, dan Allah tidak akan menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Siapa pun yang tawadhu karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya.

Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sayangilah (orang lain), maka niscaya kalian akan dirahmati Allah, dan berikanlah ampunan, niscaya (Allah) akan mengampuni kalian.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan isnad yang perawinya shahih, dari Ubadah bin Shamit, ia berkata: Tidak ada seorang pun yang terluka ditubuhnya kemudian ia merelakannya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya seperti kerelaannya dengan luka tersebut. Al-Bukhâri dan Muslim telah meriwayatkan dari Abû Hurairah

bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat pada saat berkelahi, tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri ketika

marah.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abû Hurairah: Ada seorang lelaki datang dan berkata, “Ya Rasul!, Aku mempunyai kerabat. Aku suka menyambungkan kekerabatan kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Aku berbuat baik kepada mereka,

tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku mengerti keadaan mereka, tapi mereka tidak mau mengerti keadaanku. Maka Rasulullah bersabda, “Jika engkau tetap seperti yang engkau katakan tadi, maka engkau menjadikan muka-muka mereka layaknya warna debu (kelabu). Dan tidak akan henti-hentinya engkau mendapat pembelaan dari Allah atas mereka, selama engkau konsisten atas apa yang engkau lakukan itu.”

Al-Barjalani telah mengeluarkan hadits dengan sanad shahih dari Sufyan bin Uyainah, ia berkata, Umar telah bekata kepada Ibnu Iyas -–Umar telah banyak mendapatkan penderitaan dan penyiksaan dari Ibnu Iyas—, “Wahai Ibnu Iyas, engkau jangan

tenggelam dalam mencaci makiku dan berikanlah tempat untuk berdamai. Karena kami akan menghadapi orang yang menentang Allah, yang menganiaya diri kami, dengan cara meningkatkan ketaatan kepada Allah dalam menghadapi orang itu.”

Mendamaikan Permusuhan antara Manusia

Allah befirman: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,

kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma‘ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia…. (TQS. an-Nisa [4]: 114), …Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)…. (TQS. an-Nisa [4]: 128),

…Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu,… (TQS. al-Anfâl [8]: 1),

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu… (TQS. al-Hujurat [49]: 10).

Juga berdasarkan hadits riwayat al-Bukhâri dan Muslim dari Abû Hurairah, ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: Setiap sendi dari manusia harus bershadaqah setiap hari. Mendamaikan dua orang yang berselisih dengan adil, setiap saat matahari terbit, adalah shadaqah. Menolong orang mengangkat barang ke atas kendaraannya atau menurunkan dari kendaraannya adalah shadaqah. Kata-kata yang baik adalah shadaqah. Setiap langkah menuju shalat adalah shadaqah. Dan membuang duri dari

jalan adalah shadaqah. Arti berlaku adil di antara dua orang adalah mendamaikan di antara keduanya dengan adil. Dari Umu Kultsum binti Uqbah bin Abi Muith ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda: Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan sesama manusia lalu dia menambah-nambah atau mengatakan kebaikan. (Mutafaq ‘alaih)

Dari Sahal bin Sa’id as-Saidi ra., ia berkata: Sesungguhnya telah sampai berita kepada Rasulullah saw. Bahwa di antara Bani Amr bin Auf terdapat perselisihan. Dalam riwayat

al-Bukhâri yang lain dikatakan, “terdapat sesuatu.” Kemudian Rasulullah saw. keluar bersama beberapa sahabat untuk mendamaikan perselisihan di antara mereka… (Mutafaq ‘alaih) Dari Abû Darda ra., ia berkata; Rasulullah saw bersabda: Maukah kalian kuberitahu suatu perkara yang lebih utama daripada derajat shaum, shalat, dan shadaqah. Para sahabat berkata, “Tentu saja ya Rasulullah!” Beliau lalu bersabda, “Pekara itu adalah mendamaikan perselisihan. Karena karakter perselisihan itu

membinasakan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, at-Tirmidzi ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”).

Ziarah Kubur

Dari Abû Hurairah ra., ia berkata; Rasulullah saw. Ziarah ke makam ibunya. Kemudian Rasul menangis dan membuat orangorang yang ada di sekitarnya ikut menangis. Beliau lalu bersabda: Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohon ampunan baginya (Ibu Rasulullah saw.), tapi Allah tidak memberikan izin kepadaku. Dan aku meminta izin kepada Allah untuk menziarahi kuburnya, maka Allah mengizinkanku. Karena itu berziarahlah kalian ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akan mati. (HR. Muslim). Yang dimaksud “ziarahlah!” adalah ziarah kubur.

Kontinyu dalam Beramal

Yang dimaksud amal di sini adalah amal-amal yang sunah, adapun amal yang wajib sudah merupakan kemestian dan tidak termasuk pembahasan ini. Siapa yang memilih suatu ibadah sunah dari sunah-sunah yang telah kami jelaskan di atas, hendaklah ia

melaksanakannya secara kontinyu meskipun sedikit. Dari ‘Aisyah ra: Sesungguhnya Nabi saw. masuk untuk menemuinya, sedangkan bersama ‘Aisyah ada seorang wanita. Rasul saw. pun bertanya, “Siapa orang ini?” ‘Aisyah menjawab, “Ia adalah si fulanah. Ia

menceritakan tentang shalatnya.” Nabi berkata, “Tidak boleh begitu! Hendaklah kalian melaksanakan amal yang mampu dilaksanakan. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama (amal) yang paling Allah sukai adalah yang dilaksanakan secara kontinyu oleh pelakunya.” (Mutafaq ‘alaih). Dari Abdullah bin Amru ra., ia berkata; telah berkata kepadaku Rasulullah saw: Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, ia bangun di waktu malam tapi meninggalkan shalat malam. (Mutafaq ‘alaih).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: