KEKUATAN ROHANI MEMILIKI PENGARUH PALING BESAR

Dorongan untuk melakukan suatu perbuatan pada manusia tergantung pada kekuatan yang dimilikinya.  Semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin kuatlah dorongan untuk berbuat sesuatu.  Demikian juga, ukuran keberhasilan perbuatannya, tergantung pada ukuran kekuatan yang dimilikinya.  Manusia memiliki beberapa kekuatan dalam dirinya, antara lain:

1).        Kekuatan materi atau fisik yang meliputi tubuh dan sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi keperluannya.

2).        Kekuatan moral/jiwa yang berupa sifat-sifat mental yang selalu dicari dan ingin dimiliki oleh seseorang.

3).        Kekuatan Rohani yang terbentuk dengan adanya kesedaran atau perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT atau menyadari dan merasakan hubungan tersebut.

Ketiga jenis kekuatan tersebut mempunyai dampak atau pengaruh terhadap manusia untuk melakukan suatu perbuatan.  Akan tetapi, besar-kecilnya pengaruh tiga jenis kekuatan tersebut berbeda satu sama lain.  Diantara ketiga jenis kekuatan tadi, kekuatan materi mempunyai dampak atau pengaruh yang paling lemah, sedangkan kekuatan moral mempunyai dampak yang lebih besar dari kekuatan fisik. Adapun kekuatan rohani mempunyai pengaruh atau dampak yang paling besar dibandingkan kekuatan-kekuatan lainnya terhadap perbuatan manusia.  Sebab kekuatan materi yang terdapat dalam kekuatan jasmani atau sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi keperluannya, akan memberikan dorongan pada keinginan pemiliknya untuk memuaskan syahwat/keinginannya sesuai dengan ukuran kekuatan yang ditentukannya, tidak lebih dari itu.  Kadangkala, bahkan tidak memberikan dorongan sama sekali untuk melakukan suatu perbuatan, meskipun kekuatan itu terdapat dalam dirinya, sebab pemiliknya memang tidak memperlukan perbuatan itu.  Oleh kerana itu, kekuatan ini memiliki dorongan yang terbatas.  Keberadaannya tidak memberikan dorongan untuk berbuat sesuatu dengan sendirinya.

Sebagai contoh, disaat akan memerangi musuhnya, manusia tentu akan mempertimbangkan kekuatan fisik/jasmaninya dan berusaha mencari sarana-sarana fisik atau materi.  Jika ia merasa telah memiliki kekuatan yang cukup (kekuatan jasmani/senjata) untuk berperanang melawan musuhnya, maka berangkatlah ia menuju medan peranang.  Sebaliknya, bila ia merasa bahwa kekuatannya tidak cukup untuk menghadapi musuh, maka ia pun akan mundur dan kembali, urung melawan mereka.

Kadang kala seseorang merasa telah memiliki cukup kekuatan yang dapat menghancurkan musuhnya, akan tetapi tiba-tiba muncul kekhawatiran padanya bahwa musuh mendapat bantuan kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan yang dimilikinya, yang menimbulkan  rasa takut dan gentar melawan musuhnya; atau ia memandang lebih baik mengerahkan tenaganya untuk kesejahteraan diri atau meningkatkan derajat hidupnya, sehingga ia bimbang untuk menghadapi musuh.

Memerangi musuh, adalah suatu tindakan yang biasa dilakukan oleh manusia.  Tetapi, jika ia menyandarkan hal itu pada kekuatan materi saja, maka daya “dorong”nya terbatas, sikapnya dipenuhi keraguan, jika ia dihadapkan pada hal-hal yang dapat membangkitkan rasa takut dan khawatir, sementara ia telah memiliki kekuatan materi.

Sedangkan kekuatan moral berbeda dengan kekuatan fisik/materi.  Kekuatan moral timbul dari dalam jiwa.  Pada mulanya, ia mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, kemudian berusaha mewujudkan kekuatan yang cukup untuk melakukan perbuatan tersebut, yang dapat melampaui batas-batas kekuatan yang dimilikinya.  Kadang-kadang kekuatan moral ini memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia dibandingkan dengan kekuatan materi yang sudah dimilikinya.  Tetapi kadang-kadang ia menerima kekuatan moral meskipun belum maksimal.  Namun demikian, dalam berbagai kondisi, kekuatan moral lebih banyak memberikan dorongan berbuat dibandingkan dengan kekuatan materi.

Misalnya saja seseorang yang ingin memerangi musuh untuk membebaskan diri dari dominasi musuhnya, untuk membalas dendam atau mendapatkan penghargaan, untuk membela yang lemah maupun untuk tujuan-tujuan lainnya, maka ia akan lebih semangat berperanang, dibandingkan dengan seseorang yang ingin melakukan peperanangan sekadar untuk mendapatkan harta rampasan peranang atau untuk menjajah, atau sekadar menguasai suatu daerah.

Sebab, kekuatan moral merupakan dorongan yang muncul dari dalam yang berkaitan erat dengan mafhum yang dimiliki manusia yang lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan mafahim yang muncul dari naluri (rasa takut dalam peperanangan).  Dorongan menuntut adanya pemenuhan, dan mendorong pula munculnya kekuatan untuk mendapatkan sarana-sarana demi terpenuhinya keperluan tersebut, sehingga mampu mengalahkan mafahim yang muncul dari naluri dan menggunakan kekuatan materi yang dimilikinya.  Dengan demikian, maka kekuatan moral lebih dominan dibandingkan dengan kekuatan materi.   Kita telah menyaksikan bagaimana negara-negara di dunia senantiasa berusaha menanamkan kekuatan moral kepada para prajurit, disamping berupaya menyempurnakan dan mempercanggih kekuatan materi (mesin peranang).

Adapun kekuatan rohani adalah suatu kekuatan yang memberikan pengaruh yang paling besar pada diri manusia dibandingkan dengan kekuatan moral ataupun kekuatan materi.  Sebab, kekuatan rohani lahir dari kesedaran manusia akan hubungannya dengan Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk Pencipta segala kekuatan.  Kesedaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT ini, baik yang muncul dari proses berfikir ataupun yang muncul dari perasaan yang timbul dari dalam (naluri) menghasilkan dorongan kepada manusia sesuai dengan apa yang dituntut oleh Allah SWT dan tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki atau yang berhasil dihimpunnya.  Kekuatan ini hanya bergantung pada tuntutan dan seruan Allah SWT, apakah jenis tuntutan itu, apakan sesuai dengan kadar kemampuannya, lebih besar, atau lebih kecil dari kadar kemampuannya.  Kadang-kadang tuntutan itu berupa penyerahan hidupnya dan mengorbankan nyawanya, atau mungkin berupa sesuatu yang akan mempertaruhkan nyawanya.  Ia pun akan melakukannya, walaupun tuntutan Allah tersebut lebih besar dibanding kekuatan yang dimiliki atau mampu diusahakannya.  Dari sini terlihat bahwa kekuatan rohani memberikan dorongan dan pengaruh terbesar diantara kekuatan-kekuatan lain pada diri manusia.  Tetapi, jika kekuatan rohani muncul dari perasaan yang timbul dari naluri semata, maka dikhawatirkan ia akan mengalami kemunduran atau perubahan, kerana dilindas oleh perasaan lain atau dialihkan secara keliru pada perbuatan-perbuatan lain yang tidak menjadi sasaran dorongannya.  Oleh kerana itu kekuatan rohani ini harus berupa kesedaran dan perasaan yang berdasarkan keyakinan akan hubungannya dengan Allah SWT.  Saat itu, menjadi kokohlah kekuatan tersebut dan senantiasa memberikan dorongan (yang dinamis) sesuai dengan tuntutan kekuatan tersebut, tanpa ada kebimbangan sedikitpun.

Seandainya dalam diri seseorang telah menghujam kekuatan rohani, maka kekuatan moral tidak akan berpengaruh apa-apa kerana manusia saat itu akan terdorong oleh kekuatan rohani bukan kekuatan moral.  Apabila ia memerangi musuh, maka ia tidak melakukan peperanangan untuk mencari harta rampasan atau kemasyuran setelah mendapat kemenangan.  Dia melakukan peperanangan kerana hal itu semata-mata perintah Allah.  Tidak peduli, apakah akan mendapatkan harta rampasan atau tidak, akan dikenal orang atau tidak, sebab ia melakukannya hanya sekadar menjalankan perintah Allah, sedangkan kekuatan materi hanya merupakan sarana saja, bukan pendorong.

Demikianlah, Islam telah menjadikan kekuatan rohani sebagai kekuatan pendorong dalam berbuat bagi seorang muslim, walaupun penampakannya berupa kekuatan materi atau moral. Islam menjadikan kekuatan rohani sebagai satu-satunya dasar bagi kehidupan, yakni menjadikan aqidah Islam sebagai landasan kehidupan, halal dan haram sebagai tolak ukur perbuatan, serta mencapai keridloan Allah sebagai tujuan dari segala tujuan (ghayatul ghayah).  Disamping itu, dengan menjadikan kekuatan rohani sebagai dasar kehidupan, berarti setiap amal perbuatannya, baik kecil atau besar senantiasa dikaitkan dengan perintah   dan larangan Allah SWT,  serta dibangun berdasarkan kesedarannya akan hubungannya dengan Allah SWT yang disertai dengan perasaan dan   keyakinannya, adalah dasar tegaknya kehidupan seorang muslim.  Ia adalah kekuatan yang mampu mendorong untuk berbuat sesuatu, baik perbuatan itu kecil ataupun besar.  Ia merupakan spirit yang mendasari seluruh aspek perbuatan manusia dalam kehidupan.  Kadar kekuatan kesedaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT, menentukan seberapa  besar kekuatan rohani yang dimilikinya.  Oleh sebab itu, setiap muslim wajib menjadikan kekuatan rohani sebagai harta simpanan yang takkan sirna, dan rahasia mencapai keberhasilan dan kemenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: