HUKUM TIDAK BERUBAH KERANA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

Dewasa ini otak kaum Muslimin dicengkeram oleh suatu keyakinan/anggapan bahwa Islam itu bersifat fleksibel/elastis, dan berjalan sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi atau politik pada setiap waktu dan tempat.  Artinya, Islam berkembang agar penerapan hukum-hukumnya sesuai dengan kejadian dan kondisi  serta tuntutan manusia dan yang telah menjadi kebiasaan dewasa ini.

Mereka berdalih bahwa anggapan-angggapan itu didasarkan pada suatu kaidah, yang menurut mereka merupakan kaidah syara’. Kaidah itu yang berbunyi:

“Tidak bisa ditolak adanya perubahan hukum kerana adanya perubahan zaman”.

Berdasarkan kaidah yang keliru inilah mereka kemudian melakukan aktifitas berlandaskan realita yang ada. Mereka bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan.  Apabila mereka diingatkan dengan hukum-hukum Syara’, mereka mengatakan bahwa hukum-hukum itu hanya khusus untuk waktu tertentu, sedangkan Islam mengharuskan ummatnya untuk terus menyesuaikan diri dengan zaman dan bertindak dengan hal-hal yang sesuai dengan zaman dan tempat.  Akibatnya mereka membolehkan adanya bank-bank yang menjalankan sistem riba, dan perusahaan-perusahaan terbatas (PT).  Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah suatu bentuk kemaslahatan yang realistis/nyata. Kerana itu Islam harus luwes menerimanya, sebab Islam itu (adalah ajaran yang) fleksibel seperti yang mereka dakwakan.

Para wanita bersolek dan bercampur dengan laki-laki asing (bukan mahram), tanpa ada suatu keperluan yang diijinkan oleh syara’.  Kemudian begadang bersama laki-laki asing hingga larut malam pada acara pesta-pesta.  Semua ini (menurut mereka) adalah suatu hal yang harus diterima dan ditolerir oleh Islam, sebab sudah menjadi tuntutan zaman. Mereka mengatakan: Bagaimana mungkin Islam itu bertentangan dengan zaman, padahal kaidah syara’ menyatakan bahwa: ‘Islam itu dapat berubah kerana perubahan waktu dan tempat!?‘ Itulah yang mereka dakwakan.

Mereka juga mengatakan bahwa hukum poligami kini tidak berlaku lagi, sebab zaman tidak dapat menerimanya lagi.  Hukum potong Tangan, atau hukum rajam tidak lagi perlu dibahas dan dipelajari, kerana hukum-hukum itu sudah basi, tidak layak lagi dengan tuntutan zaman…

Demikianlah ‘kaidah-kaidah’ ini terus dibicarakan di tengah-tengah ummat Islam, ketika mereka mulai berpaling dari Islam, merobohkan pondasi dan sendi-sendinya, serta melenyapkan peraturan-peraturan dan syia’r-syi’arnya.  Ide-ide seperti ini mulai muncul pada akhir abad kesembilan belas, pada saat pemikiran ummat ini anjlok dari puncak kejayaannya. Kaum Imperialispun seperti mendapatkan santapan yang lezat, hingga akhirnya pemahaman mereka sampai ke tingkat seperti ini.

Hukum-hukum Syari’at Islam adalah tata-aturan dari Allah untuk memecahkan problematika kehidupan manusia, tatkala manusia hendak memenuhi keperluan-keperluan naluriah dan jasmaniyahnya. Hukum-hukum itu telah diberikan Syari’ (Allah) melalui Al Quran dan As Sunnah, yang dua hal ini merupakan satu-satunya sumber hukum syari’at dalam Islam.  Kerana itu hukum syara’ didefinisikan sebagaiSeruan Syari’ (Allah) yang berkaitan dengan perbuatan hamba.  Dengan demikian hukum syara’ haruslah digali dan dipastikan bahwa hal itu merupakan seruan dari Syari’.  Berarti harus digali dari nash, yang tidak lain adalah Al Quran dan As Sunnah atau sumber yang telah disahkan oleh keduanya, yaitu ijma’ Shahabat dan Qiyas.

Atas dasar inilah sumber hukum Syari’at Islam itu hanya ada satu, yaitu kitabullah dan Sunnah rasulNya, yang dari dua sumber ini digali pemecahan-pemecahan yang dihadapi manusia dan mengatasi perselisihan di antara mereka.  Apakah zaman dan tempat itu (menjadi sumber hukum) sebagaimana Kitab atau sunnah??  Atas dasar apa, seorang manusia dapat mengatur problematikanya sendiri atau suatu masyarakat dapat mengatur hubungan sesama anggotanya, sedangkan Allah SWT telah mewajibkan agar mereka mengambil pemecahan problema (kehidupannya) dengan hukum-hukum yang digali dari Kitabullah dan sunnah RasulNya??

Sesungguhnya Syari’at Islam, dalam rangka menyelesaikan problematika manusia, telah mengharuskan manusia untuk mempelajari fakta/realita problema itu, kemudian mencari hukum Allah yang berkaitan dengan masalah itu dengan cara menggalinya dari Al Quran dan As-Sunnah atau dari sumber yang telah disahkan oleh keduanya.

Oleh kerana itu wajib bagi setiap individu Muslim, ketika merealisasikan syari’at Islam dalam masyarakat, hendaknya mempelajari realita masyarakat itu secara teliti, kemudian dipecahkan dengan syari’at Allah.  Dia harus melakukan perobahan secara mendasar, berdasarkan mabda’ Islam, tanpa memperhatikan lagi tolok ukur yang lainnya, baik situasi ataupun kondisi yang menyimpang dari Islam. Setiap hal yang menyimpang dari Islam haruslah dihilangkan, dan setiap perbuatan yang diperintahkan Islam wajib diupayakan dan diterapkan.  Sedangkan realita masyarakat hendaknya selalu terikat  dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Kaum Muslimin dilarang menyesuaikan tindakannya dengan waktu dan tempat, akan tetapi harus selalu merujuk kepada kitabullah dan sunnah RasulNya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: