ALLAH ADALAH DZAT YANG HAKIKI BUKAN SEKADAR KHAYALAN DALAM OTAK

Banyak orang di muka bumi ini, terutama di dunia Barat, yang meyakini dan mengimani adanya Tuhan. Tetapi keyakinan dan keimanan mereka ini didasarkan pada suatu anggapan, bahwa Tuhan itu hanyalah sekadar ide (pandangan), bukan sesuatu yang riil (yakni mempunyai pengaruh terhadap kehidupan).  Mereka beranggapan bahwa iman akan adanya “Tuhan” berarti iman kepada “Ide ketuhanan”, suatu ide yang menurut mereka bagus, kerana selama manusia mengkhayalkan ide tersebut, meyakini dan tunduk pada khayalannya itu, ia akan terdorong menjauhi keburukan dan mengerjakan kebajikan. Dan ini menurut mereka merupakan dorongan dari dalam, yang pengaruhnya lebih kuat dibandingkan dorongan dari luar. Oleh kerana itu mereka beranggapan bahwa beriman akan adanya Tuhan merupakan suatu keharusan, dan (keimanan semacam ini) harus digalakkan agar manusia tetap terdorong secara sukarela melakukan kebajikan dengan dorongan dari dalam, yang mereka namakan sebagai waaziu’ud diini(bisikan hati).

Orang-orang (yang berpandangan) semacam itu sangat mudah terjerumus kedalam atheisme; atau murtad dari sesuatu yang mereka imani; pada saat akal mereka mulai berfikir dan mencoba menjangkau hakekat wujud Tuhan (yang mereka khayalkan). Apabila akal belum mampu menjangkaunya, atau menjangkau pengaruh/tanda adanya Khaliq, mereka dengan segera mengingkari wujud Tuhan dan kufur terhadap Allah. Lebih celaka lagi, keyakinan bahwa Tuhan itu hanya suatu  ide (pemikiran/khayalan) bukan sesuatu yang riil, akan menjadikan pula perbuatan baik dan buruk hanya sekadar ide, bukan sesuatu yang riil. Akibatnya manusia mengerjakan atau menjauhi suatu perbuatan menurut kadar khayalannya tentang ide kebaikan dan keburukan tersebut.

Penyebab mereka memiliki iman semacam itu adalah kerana mereka tidak menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah. Mereka tidak berusaha menguraikan secara aqliy simpul masalah besar, yaitu pertanyaan alami mengenai alam semesta, manusia dan kehidupan, tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, dan hubungan ketiga unsur (alam, manusia, dan kehidupan) tersebut dengan apa yang ada dengan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Namun demikian mereka terima pemecahan ini dari orang-orang yang diinginkannya (gereja), Mereka mempertahankan keimanannya ini tanpa berusaha menjangkau eksistensi yang mereka imani.  Memang banyak diantara mereka yang berusaha menggunakan akalnya, namun mereka selalu mendapat jawaban, bahwa agama itu berada di luar akal manusia (misteri), sehingga hal ini memaksanya untuk berdiam dan tidak bertanya lagi.

Sesungguhnya yang benar adalah bahwa Allah itu (suatu Dzat yang) hakiki bukan hanya sekadar ide (khayalan) belaka. WujudNya pun dapat dijangkau dan di indera, meskipun suatu hal yang mustahil untuk menjangkau dan melihat DzatNya.  Bukankah anda melihat bahwa, seseorang dapat meyakini adanya peSAWat hanya semata-mata dengan mendengarkan suaranya yang menggema di udara, meskipun ia duduk di dalam suatu ruangan.

Dengan kata lain, melalui peranantaraan indera yang dapat mendengarkan bunyi peSAWat terbang ia memahami adanya peSAWat tersebut meskipun ia sendiri tidak melihat dan tidak mampu mengindera Dzatnya. Dari sinilah ia meyakini keberadaan peSAWat (yang ada di udara) hanya dari mendengar suaranya. Yaitu membenarkan dengan pasti dan yakin keberadaan peSAWat terbang tersebut. Memahami “keberadaan” peSAWat berbeda dengan memahami dzat peSAWat. Memahami dzatnya tidak akan diperoleh kerana tidak mampu menjangkau dzatnya. Sedangkan memahami keberadaannya dapat diperoleh dengan pasti hanya melalui suara (peSAWat)nya. Wujud (eksistensi) peSAWat terbang adalah suatu hal yang riil, bukan semata-mata ide khayalan.       Demikian pula halnya dengan segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh indera manusia maka keberadaannya adalah hal yang pasti dan meyakinkan kerana dapat disaksikan dan  diindera, begitu juga adanya sifat saling memperlukan antara suatu benda dengan dzat lainnya adalah sesuatu yang pasti, kerana manusia dapat menyaksikan dan menginderanya. Gugusan bintang-bintang di angkasa sangat memperlukan aturan (agar bisa beredar dengan rapi) begitu pula api memerlukan  si pemakai untuk bisa menyala; begitulah halnya dengan segala sesuatu yang dapat diindera pasti memperlukan  kepada yang lain. Segala sesuatu yang memperlukan kepada yang lain, tidak mungkin bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), sebab bila ia bersifat azali tentu tidak akan memperlukan kepada yang lain. Dengan adanya sifat memperlukan kepada yang lain inilah, menunjukkan bahwa ia tidak bersifat azali. Dengan demikian merupakan suatu kepastian bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau dan diindera seluruhnya adalah mahluk secara pasti. Sebab benda-benda tersebut bersifat azali, jadi dengan kata lain merupakan mahkluk (ciptaan) Sang Pencipta. Penginderaan terhadap makhluk-makhluk (Allah) sebagaimana penginderaan terhadap suara peSAWat adalah sesuatu yang pasti. Keberadaan Khaliq yang menciptakan segenap makhluk-makhluk ciptaanNya, laksana keberadaan peSAWat yang mengeluarkan suara, merupakan sesuatu yang pasti juga. Jadi keberadaan Khaliq bagi makhluk-makhlukNya adalah sesuatu yang tidak mungkin diingkari (pasti).

Manusia telah memahami  (keberadaan) makhluk-makhluk itu dengan indera dan akalnya. Dengan penginderaan terhadap makhluk-makhluk itulah maka manusia dapat memahami keberadaan Khaliq dengan pasti.  Dengan demikian keberadaan (eksistensi) Khaliq merupakan sesuatu yang hakiki (riil), kerana eksistensiNya dapat dijangkau oleh manusia melalui inderanya. Dia bukanlah sekadar ide (khayalan) dalam benak manusia.

Ditinjau secara aqliy, Al-khaliq wajib bersifat azali. Sebab, jika Dia tidak bersifat azali tentulah memperlukan kepada yang lain, bila demikian halnya berarti Dia makhluk.  Oleh kerana itu alam real tidak bersifat azali, sebab memperlukan aturan dan keadaan tertentu yang tidak bisa lain kecuali harus selalu terikat pada aturan dan kondisi tersebut.

Begitu pula halnya dengan materi yang bersifat tidak azali kerana memperlukan yang lain, tidak bisa berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain  kecuali dengan proporsi dan aturan tertentu serta tidak bisa lain kecuali terikat pada aturan.  Jadi materi itu bersifat memperlukan kepada yang lain.  Oleh kerana itu, baik alam real maupun materi bukanlah pencipta.  Sebab, keduanya tidak bersifat azali dan qadim (terdahulu). Maka, tidak ada kemungkinan pencipta yang lain, selain Allah ta`ala. Dengan kata lain Dialah yang bersifat azali dan qadim, yang sebagian orang menyebutnya “Allah, God, Sang Hyang Widi, atau semisalnya.  Semuanya menunjukkan maksud yang sama yaitu Allah, pencipta yang Azali dan Qadim.

Walhasil, Allah itu adalah Dzat yang hakiki, yang dapat dijangkau eksistensiNya oleh indera manusia melalui keberadaan makhluk-makhlukNya, Tatkala manusia takut kepada Allah, sebenarnya ia takut kepada Dzat yang benar-benar ada, yang dapat dijangkau eksistensiNya melalui indera. Dan ketika dia beribadah kepada Allah serta bertaqarrub kepadaNya, sebenarnya ia tengah beribadah kepada Dzat yang benar-benar ada, yang dapat dijangkau keberadaanNya oleh indera manusia. Begitu juga, ketika ia memohon keridlaan Allah, sesungguhnya ia tengah meminta keridlaan dari Dzat yang ada secara hakiki yang dapat dijangkau eksistensiNya oleh indera manusia. Oleh kerana itu, tatkala manusia takut dan beribadah kepada Allah serta memohon keridlaanNya, semua itu dilakukannya dengan penuh keyakinan tanpa secuilpun keraguan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: