Bekerjalah, Engkau Akan Lebih Mulia!

Zaman ini terpaksa kita hadapi dengan berbagai kesusahan. Harga terus naik, sementara gaji tetap yang sama.  Meski perasaan kita luka, kita tetap harus bekerja!

Harga keperluan pokok terus melambung tinggi setiap hari. Sementara gaji tidak tentu bertambah setiap bulan. Jutaan sarjana bertambah setiap tahunnya. Namun sebagian besar perusahaan ‘kurang ramah’ dengan para sarjana yang baru lulus.

Banyak warga dizalimi oleh situasi. Rumah-rumah mereka begitu dha’if kelihatannya di flat-flat yang sempit. Akibat kelalaian, puluhan ribu orang korban krisis ekonomi kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Di saat yang sama, ada orang  bermewah-mewah untuk hal-hal yang sedikit kemanfaatanya. Ada businessman yang rela mengeluarkan biaya 200 ribu untuk biaya pernikahan anaknya. Itu belum termasuk calon wakil rakyat yang menghabiskan dana jutaan untuk biaya kempennya.

Bahkan ada yang lebih menyedihkan dari semua itu. Menjelang perayaan Tahun Baru 2010,  sebuah pengelola hiburan rela menghabiskan wang 20 juta  hanya untuk biaya kembang api.

Fenomena ini sememangnya melukai perasaan Anda,  khususnya yang sedang menderita, yang tak memiliki pendapatan apa-apa dan yang selalu ditolak saat melamar kerja.

Ini memang zaman susah. Meski demikian, semua kesusahan hendaknya tetap menjadikan kita terus bersemangat untuk berusaha dan tidak begitu mudah menyerah.

Kegigihan untuk mencari nafkah hendaknya tetap terjaga, jangan sampai kendur. Ketidakadilan sosial atau politik, janganlah menyebakan kita menjadi “buta” dan gelap mata.

Mengapa demikian pentingnya bekerja?

Kerana dalam agama kita, bekerja bukan semata untuk kepentingan pemenuhan keperluan, lebih dari itu, ia akan mengangkat derajat kita di mata manusia maupun di sisi-Nya. Dalam agama Islam, orang yang bekerja adalah orang yang memiliki harga diri dan kemuliaan.
Dalam salah satu hadithnya, baginda Rasulullah Saw menjelaskan, “Seorang yang membawa kapak lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan wangnya digunakan untuk mencukupi keperluan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (HR.Mutafaq’alaih)

Orang yang dengan gigih bekerja keras, membanting-tulang, mencari rezeki dari memeras keringat dan makan dari hasil itu, maka itu lebih baik dari makan hasil yang diperoleh dari harta warisan, atau memperoleh berdasarkan pemberian orang kerana si pemberi merasa terdorong untuk memberi, lebih-lebih lagi jika sedekah itu memang diminta-minta.

Dalam hadith yang lain, Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah SWT.” (HR. Ahmad)

Semua bentuk usaha yang dilakukan dengan membanting tulang dan pantang menyerah akan memupuk semangat dan mambantu otot tubuh yang akan menyebabkan kesehatannya tetap terjaga dan semakin menambah kekuatannya. Secara fizik orang yang berlaku seperti ini akan tumbuh menjadi peribadi yang kuat, sedang dalam jiwanya akan tumbuh rasa percaya diri dan sifat mandiri.  Dia tidak akan bergantung dengan orang lain.

Sebaliknya orang yang hidup atas dasar dari belas kasih orang lain, selain bermental pasif, mereka juga memiliki jiwa lemah bahkan mematikan jiwa. Dengan sangat tegas Nabi mengingatkan kepada kita bahawa, “Pengangguran (dapat) menyebabkan hari keras (keji dan membeku).”(HR. Asysyihaab).
Pengangguran aktif–yang didorong oleh kemalasan, dan pengangguran pasif –kerana bersandar dari bantuan keluarga dan harta warisan, sama-sama berpotensi membuat hati menjadi keras dan membeku.

Islam memerintahkan kepada kita, selama hayat masih dikandung badan, bergerak dan berkarya adalah sangat dianjurkan. Rasulullah mengingatkan umatnya agar manusia senantiasa berusaha dan berhati-hati terhadap waktu luang, kerana pada momentum tersebut merupakan  ladang subur bagi syaitan untuk menanamkan kemungkaran. Ditinjau dari konteks ini maka bekerja dan beraktiviti adalah jalan lain untuk membendung kejahatan.

Bahkan apapun atau bagaimanapun bentuk pekerjaan itu, bila berangkat dari mencari keredhaan-Nya adalah bernilai ibadah, yang bererti akan mendapat ganjaran di sana.

Itulah sebabnya (hikmahnya) mengapa di pagi buta selesai solat subuh (fajar) kita dilarang tidur lagi sebagaimana disabdakan oleh beliau Saw, Selesai solat fajar(subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR.Ath-Thabrani).

Seiring dengan perputaran matahari, kita juga diperintahkan untuk menjalankan amanah-amanah kehidupan dengan bekerja dan bekerja.

Dalam al-Qur’anul Karim kata ‘aamanu’ (beriman) senantiasa diikuti dengan ‘wa aamilushsholihat’ (melakukan amal soleh/kerja), seperti yang termaktub dalam surat al-Ashr: 3; illalladzinaamanuu wa ‘amimush-sholihati wa tawa shoubil haqqi  watawa shoubishshobri. (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran).

Orang yang senantiasa bergerak/kerja menandakan  keimanan yang bersangkutan dalam keadaan aktif dan dinamik. Sebaliknya, mereka yang ‘menikmati’ bermalas-malasan atau gemar berpangku tangan, menandakan dirinya sedang dilanda impotensi iman. Naudhubillahi mindhalik.

Asahlah iman, agar iman kita lebih dinamik dan produktif. Sempurnakan kecintaan kita kepada Allah dengan semangat yang kuat untuk menjemput fadhilahnya/rezekinya yang dihamparkannya begitu luas di penjuru bumi. Singsingkan lengan baju, setelah kita bertakarrub kepada-Nya. Beginilah yang dikatakan iman yang potensial, Iman yang aktif lagi produktif.

Menurut Ibnu Atsir, bekerja termasuk bahagian dari sunnah-sunnah nabi. Nabi Zakaria  as. adalah tukang kayu. Nabi Daud as. membuat baju besi dan menjualnya sendiri. Bahkan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah, Nabi Daud itu tidak akan makan, kecuali makan dari hasil tangannya sendiri.

Siapa yang tidak mengenal Nabiullah Daud? Selain seorang Nabi, beliau telah diberi oleh Allah SWT kekuasaan dan harta yang melimpah. Walau begitu, beliau tidak merasa malu untuk bekerja dengan tangannya sendiri guna memenuhi keperluan hidupnya. Beliau tidak mengajarkan berpangku tangan dan mengharap belas kasih dari orang lain, pada umat yang dipimpinnya.

Akhirul Kalam

Marilah kita tetap bekerja, bekerja dan bekerja. Apapun bentuk pekerjaannya. Selagi dalam koridor syari’at alias tidak diharamkan-Nya, lakukanlah pekerjaan itu dengan penuh kesungguhan. Bila hal itu kita lakukan, Insya Allah hal itu akan membuat hidup kita menjadi lebih mulia dan terhormat. Bukan begitu saudaraku? Wallahu ‘alam bishshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: