Kekeliruan Ilmu Kalam

Apa yang disebut dengan ilmu kalam tidak pernah ada pada masa Nabi saw atau pada masa sahabatnya. Ilmu ini mulai muncul setelah kebudayaan Asing diterjemaahkan kedalam bahasa Arab khususnya filsafat dan ilmu Mantiq Yunani. Sebagian besar kaum muslimin yang menyibukkan diri dalam membahas ilmu kalam tidaklah menjadi kafir akibat perbuatan tersebut. Tujuan mereka dalam membahas ilmu tidak lain hanya ingin menjelaskan hal-hal yang menyangkut aqidah Islam serta mempertemukan antara metode ilmu mantiq dengan apa yang mereka anggap kontroversial dari nash-nash syara’. Hanya saja mereka tersesat dan menyibukan fikiran mereka dan orang lain terhadap pembahasan-pembahasan yang akal mereka sendiri tidak sanggup menjangkaunya. Padahal langkah yang benar bagi mereka semestinya membatasi pembahasn hanya pada nash-nash syara’, yaitu berdasarkan wahyu semata.

Munculnya Ilmu Kalam

Sepanjang masa Nabi saw, kaum muslimin hanya mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan apa yang sesuai dengan metode Kitabullah tersebut. Mereka hidup di masa turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat rasul. Cahaya persahabatan tersebut telah menghilangkan kegelapan, keraguan dan khayalan. Kekuatan iman yang mereka miliki, tidak pernah menimbulkan satu pertanyaanpun yang mengandung unsur keraguan. Mereka tidak berusaha mencacri ilmu yang Allah sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia. Merekalah yang paling baik dan tinggi martabatnya diantara ummat ini. Bahkan Rasulullah sendiri pernah memberikan kesaksian tentang kebaikan mereka ini. Karena itulah jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta penyampiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam daripada metode-metode lain. Betepa tidak !? sebab, ini merupakan metode Rasul yang berdasarkan metode al-Qur’an dalam membahas aqidah. Dengan metode ini orang-orang akan mendapatkan kepuasan jiwa, petunjuk yang benar, ilmu yang disertai keyakinan. Berkat metode tersebut seorang muslim akan menjadi suatu potensi tenaga yang dahsyat yang kemudian mendorongnya untuk menyampaikan dakwah dengan semangat. Jalan yang ditempuh dalam hal ini adalah jalan Rasul dan para sahabatnya. Abad pertama hijriyah telah berakhir setelah dakwah Islam tersebar luas dan menguasai segenap penjuru. Islam pada waktu itu disampaikan dengan pemahaman yang cemerlang, iman yang dalam dan kesadaran yang hebat. Akibat dari perkembangan dakwah Islam tersebut, Islam berinteraksi dengan peradaban dan agama yang dimiliki bangsa-bangsa lain yang masuk Islam. Dikarenakan al-Qur’an telah mencantumkan rincian tentang aqidah Islam dan telah membeberkan aqidah-aqidah yang berlawanan dengannya, begitu pula bantahan-bantahan yang melemahkan aqidah lain. Maka sebagai akibat interaksi ini, timbullah pergolakan pemikiran antara Islam dengan kekufuran. Hal ini merupakan salah satu sebab yang mendorong pemikiran kaum muslimin membahas aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk dalam menentukan cara membela aqidah Islam dihadapan aqidah-aqidah lainnya, terutama filsafat Yunani yang telah di pakai orang-orang Nashrani dalam menghadapi dan menghalangi dakwah Islam. Usaha tersebut melahirkan adanya aktivitas penterjemahan besar-besaran sehingga filsafat Yunani ini beralih dan diketahui oleh sebagian kaum muslimin yang menyibukkan diri dalam aktivitas penerjemahan tersebut, yang kelak menghasilkan apa yang disebut dengan ‘Ilmu Kalam’ dan metode pembahasan ‘Ilmu Mantiq’.

Metode Baru

Metode-metode ilmu kalam (mantiq) yang telah dilahirkan oleh generasi yang datang setelah sahabat (khalaf) adalah teramat jauh berbeda dengan metode sebelumnya yaitu metode sahabat (salaf). Karena metode khalaf ini telah membicarakan Dzat Allah dan berdasarkan pada metode pembahasan filosof-filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman. Dalam menentukan bukti, ia berlandaskan pada ilmu mantiq dan telah mengambil sikap pertengkaran/pertikaian untuk menghadapi para filosof dalam setiap pembahasan. Mereka juga membahas tentang apa yang tidak dapat di indera atau dijangkau tentang Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Dalam hal ini, mereka telah mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang banyak menimbulkan penakwilan, lalu bertambahlah sikap permusuhan tersebut sehingga pada akhirnya terjadi penyimpangan (fitnah) terhadap aqidah yang sebenarnya. Semua kejadian itu telah terjadi antar sesama kaum muslimin yang ikut sibuk membahas masalah ini. Bahkan sampai melibatkan sebagian dari ulama fiqih yang telah berusaha menjauhkan diri dari pembahasan ilmu kalam, malah telah memberi peringatan kepada orang-orang untuk menjauhinya, seperti yang terjadi pada Imam Ahmad bin Hanbal ra. Dan begitulah sikap ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in. mereka lebih banyak menyibukan diri dengan mengamalkan Kitabullah daripada sibuk berbantah-bantahan. Islam kemudian menyebar luas kepelosok dunia. Terjadilah kemudian penaklukan-penaklukan daerah baru. Setelah itu sebagian kaum muslimin mulai terpengaruh dengan sebagian ide-ide filsafat anatra lain filsafat Yunani. Akibatnya mereka terpecah menjadi banyak kelompok, firqoh dan aliran-aliran. Sehingga mereka lebih banyak sibuk dalam berdebat daripada mengamalkan Kitabullah. Hati mereka diabaikan sedangkan akal mereka diagung-agungkan sampai begitu beraninya membahas sesuatu (baik yang dapat dijangkau akal maupun tidak). Mereka berfikir dan membahas Dzat Allah dengan cara yang berlebihan begitu pula terhadap sifat-sifat-Nya, yang mereka bahas secara mendetail berdasarkan pertimbangan akal dan didukung dengan pendapat serta cara pemikiran filosof sebelumnya. Padaha Allah swt adalah Maha Pencipta yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Jika manusia masih merasa dirinya lemah untuk mengetahui secara detail tentang dirinya sendiri dan apa yang ada dalam dirinya sampai sekecil-kecilnya, maka bagaimana mungkin akal manusia mampu menjangkau Dzat Allah yang Maha Pencipta bagi alam semesta dan seisinya. Juga, Dia lah yang menguasai segala urusan yang menyangkut Dzat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, padahal tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur/pembanding ! Satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam hal ini adalah dengan menjadikan firman Allah swt tentang Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya serta hadits Rasul yang shahih dan terbukti kebenarannya, merasuk dalam kalbu kita, lalu mengimaninya tanpa takwil dan tanpa mempersulit pembahasannya. Sebab kita tahu bahwa jika kita mennakwilkan suatu ayat/hadits maka penakwilan tersebut sesuai dengan firman Allah swt/Sabda Rasulullah atau tidak. Orang yang menakwilkan sesuatu biasanya tidak sanggup memastikannya, benar atau salah. Yang membentuk keyakinan adalah makna/lafazh-lafazh zhahir (berdasarkan konteks kalimat)dari ayat/hadits, juga lafazh hakiki (makna sebenarnya bukan yang majazi (kiasan).

Metode yang Keliru

Setelah membahas dan mendalami metode para ulama kalam dapat kita simpulkan bahwa metode mereka adalah keliru. Metode tersebut tidak dapat membentuk Iman bagi seseorang apalagi menguatkannya. Metode in hanya meghasilkan sekedar pengetahuan tertentu, bahkan dapat diakatakan pengetahuan yang salah da meragukan, karena merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepada manusia. Juga karena panca indera kita tidak sanggup menjangkaunya. Kekeliruan metode tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek; Pertama, metode ulama kalam dalam menentukan bukti didasarkan pada ilmu mantiq, bukan kepada penginderaan. Hal ini menjadikan seorang muslim sangat memerlukan belajar ilmu mantiq agar ia dapat membuktikan eksistensi Allah. Ini berarti bagi seseorang yang belum mengetahui ilmu mantiq maka ia tidak boleh membahas aqidah Islam. Padahal Islam datang pada masa dimana kaum muslimin belum mengetahui ilmu mantiq. Mereka telah mengebangkan risalah Islam dengan cara yang terbaik serta memberikan bukti-bukti yang meyakinkan terhadap segala hal yang menyangkut dengan aqidah mereka, tanpa memerlukan pembahasan ilmu mantiq dalam menentukan bukti apapun terhadap aqidah Islam. Ini dari satu segi. Sedangkan dari segi lain, metode ilmu mantiq (logika) dalam menetukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam menarik kesimpulan. Hal ini disebabkan oleh prremis-premis yang salah yang tidak didasarkan atas fakta-fakta. Berbeda halnya dengan metode berfikir yang didasarkan atas fakta-fakta yang nyata. Metode terakhir inilah yang telah digunakan oleh al-Qur’an dalam menentukan bukti-bukti sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu kekeliruan dalam berfikir. Adapun metode yang menimbulkan kekeliruan dalam berfikir, jelas tidak boleh dijadikan patokan dalam menentukan bukti-bukti.

Merujuk Kepada Akal Dalam Masalah Ghaib

Kedua: metode yang digunakan para mutakallimin adalah dengan menjadikan akal sebagai patokan dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan masalah iman, bahkan sampai-sampai menjadikan akal sebagai standar untuk memahami hal-hal yang ghaib pula. Mereka telah menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pertimbangan akal, tanpa menyalahi dasar-dasar lainnya, seperti; mensucikan Allah secara mutlak, kebebasan dalam berkehendak, keadilan Allah dan pemilihannya yang terbaik dalam setiap keputusan/ketentuan dan sebagainya. Mereka telah merujuk kepada akal dalam menafsirkan ayat-ayat yang dari segi lahirnya dianggap kontroversial. Akal juga dijadikan sebagai standar utuk pemutus terhadap hal-hal yang mutasyabihat. Bahkan mereka telah menakwilkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan pendapat yang mereka pilih. Sikap penakwilan ini selalu digunakan karena mereka bertolak dari akal, bukannya dari wahyu (al-Qur’an). Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat al-Qur’an harus ditakwilkan dan disesuaikan dengan ketentuan akal. Begitulah sikap mereka yang telah menjadikan akal sebagai patokan untuk menafsirkan al-Qur’an yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam banyak pembahasan. Jika saja mereka menjadikan al-Qur’an sebagai patokan untuk setiap pembahasan dan akal mereka didasarkan pada al-Qur’an, tentu tidak akan sampai membahas apa yang sudah mereka bahas. Memang benar, iman terhadap al-Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) harus didasarka kepada akal, yakni akal lah yang telah membuktikan kemukjizatannya. Tetapi setelah al-Qur’an diimani akan menjadi standar untuk mengimani segala sesuatu yang tercantum di dalam al-Qur’an, tanpa dipertimbangkan lagi oleh akal. Oleh karena itu jika terdapat berbagai ayat dalam al-Qur’an (mengenai aqidah), maka akal tidak boleh dijadikan tolak ukur kebenaran dan kesalahan makna ayat-ayat tersebut. Kita wajib merujuk hanya pada ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri tanpa ‘campur tangan’ akal. Dalam hal ini fungsi akal hanya memahami nash-nash saja. Sayangnya para mutakallimin tidak berbuat demikian, melainkan menjadikan akal sebagai tolok ukur dalam penafsiran al- Qur’an . oleh karena itu, muncullah sikap penakwilan ayat-ayat al-Qur’an.

Mengikuti Pendapat Para Filosof

Ketiga: Para mutakallimin telah menjadikan sikap pertikaian dengan para filosof sebagai dasar pembahasan mereka. Misalnya, golongan Mu’tazilah mengambil pendapat dari para filosof dan membantah mereka. Golongan ahlussunnah dan jabariyyah membantah pendapat mu’tazilah juga dengan mengambil pendapat para filosof dan menentangnya. Padahal yang menjadi objek pembahasan adalah Islam, bukan sikap pertikaian para filosof maupun lainnya. Seharusnya mereka membahas apa yang terdapat dalam al-Qur-an dan Hadits, dan berhenti disitu tanpa melampaui batas pembahasannya, juga tanpa memperdulikan lagi pendapat siapapun. Akan tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengalihkan aktivitas tabligh Islam dan penjelasan tentang hal-hal yang menyangkut aqidah Islam kepada perdebatan dan berbantah-bantahan. Mereka telah memadam-kan kekuatan dan semangat aqidah yang merupakan pendorong jiwa manusia, mengaburkan makna aqidah sehingga menjadikannya sebagai aktifitas perdebatan belaka yang dilakukan secara terus menerus atau sebagai keahlian tersendiri dalam ilmu Kalam. Sikap mereka ini berlawanan dengan metode al-Qur’an yang juga pernah membantah sebagian pemikiran –pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan suatu metode yang hanya berlandaskan pada seruan yang difokuskan kepada akal dan fitroh manusia. Dengan demikian metode ini menjadikan setiap orang yang mendengar seruan tersebut mendapat kepastian dan meyakini apa yang dibahas oleh akal terdapat hal-hal yang dapat dijangkaunya yang menunjukan adanya Khaliq. Disamping ia mampu membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah. Hikmah/tujuan dari ciptaan-ciptaan dan keagungan-Nya. Bahkan, seseorang yang sampai kepadanya –seruan al-Qur’an—akan merasakan bahwa ia harus mendengar seruan itu dan mengikutinya sampai seorang atheispun bisa memahami dan cenderung kepadanya. Metode al-Qur’an adalah sangat sesuai untuk setiap orang, tanpa ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, baik intelek maupun awam. Metode al-Qur’an sungguh telah menjadikan manusia berfikir lebih serius tentang keberadaannya di alam ini serta kelanjutannya nanti. Contoh-contoh untuk seruan tersebut antara lain firman Allah swt :

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa. (TQS. Al-Hajj[22]: 73-74)

Juga firman Allah dalam QS ath-Thariq [86]:5-8, Q.S adz-Dzariyat [51]:20-21, QS.an- Nazi’at [79]:27-33. demikianlah metode al-Qur’an dalam menjelaskan/menetapkan kekuasaan, kehendak, ilmu dan keagungan Allah berdasarkan apa yang sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Metode tersebut membangkitkan perasaan jiwa manusia sehingga terpengaruh dengan hasil keputusan akal yang telah membuktikan serta mengakuinya sesuai dengan hakikat fitrahnya sehingga manusia merasa puas dan terpenuhilah keinginannya dengan cara yang menimbulkan ketentraman dan ketenangan jiwa.

Keluar dari Realita yang Terindera.

Para mutakallimin telah keluar dari realita bahkan melampaui batas sehingga hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Mereka membahas hal-hal disebalik alam semesta (meta fisika). Misalnya membahas tentang Dzat Allah dan sifatsifat- Nya yang merupakan suatu hal yang mustahil dapat dijangkau oleh indera manusia. Pembahasan ini telah dikaitkan dengan pembahasan yang berhubungan dengan realita yang dapat diindera. Secara berlebihan, mereka telah menganalogkan hal yang ghaib, yaitu Allah swt dengan alam nyata, yaitu manusia. Bahkan mereka menetapkan sikap ‘keadilan’ Allah swt sama dengan keadilan menurut pandangan manusia di bumi. Mereka lupa bahwa manusia (makhluk) itu dapat dijangkau indera., sedangkan Dzat Allah tidak. Dengan demikian tidak dapat dianalogikan antara satu dengan lainnya. Mereka juga tidak menyadari bahwa keadilan Allah itu tidak dapat disamakan dengan keadilan manusia di bumi, juga tidak dapat mendudukan Allah pada hukum dan peraturan alam/manusia. Karena Dia-lah yang menciptakan alam, yang sekaligus mengaturnya sesuai dengan hukum-hukum yang juga Ia ciptakan. Apabila dilihat bahwa manusia dengan segala keterbatasannya memandang dan memahami keadilan dengan cara yang terbatas pula, ia akan menentukan sikap terhadap alam sekitarnya sesuai dengan pemahamannya. Tetapi apabila pandangannya meluas, pemahaman dan sikapnya tentang keadilanpun berubah juga. Lalu bagaimana mungkin manusia akan menganalogikan Rabb, Pencipta alam semesta ini, yang ilmu- Nya meliputi segala sesuatu, lalu mereka memandang keadilan-Nya sesuai dengan makna yang mereka kehendaki? Begitu pula halnya dengan kriteria penentuan baik dan yang terbaik bagi Allah swt.

Ayat-ayat Mutasyabihat

Kelima: ayat-ayat mutasyabihat yang bersifat global dan tidak memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya telah turun dengan penjelasan yang umum tanpa memberi rincian. Ayat-ayat tersebut dapat berupa penjelasan tentang segala sesuatu secara garis besar atau berupa ketentuan terhadap fakta/keadaan yang kelihatannya tidak bisa dibahas, ditelaah dan dijadikan patokan sehingga pembacanya tidak bisa memalingkan diri darinya. Walaupun membahasnya, namun ia tidak dapat mengetahui hakikat tujuan makna-maknanya kecuali hanya terbatas apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya. Oleh karena itu, wajarlah apabila semuanya ditentukan sikap pasrah kepada ayat-ayat tersebut, tanpa mencari sebab-sebab (penakwilan) atau penjelasan yang lebih detail. Sebagai contoh dalam hal ini, bahwa di dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menerangkan adanya paksaan pada perbuatan-perbuatan manusia. Sebaliknya, banyak juga yang menunjukan adanya ikhtiyar (pilihan manusia sendiri). Diantaranya firman Allah swt: TQS. Al-Mukmin[40]: 31; juga dalam QS. Al-Insan [76]: 30, QS.al- Baqarah [2]:286, QS. Al-An’am[6]: 125. Di dalam al-Qur’an terdapat juga sejumlah ayat yang menyebutkan bahwa Allah memiliki wajah dan tangan, menjelaskan bahwa Dia ada di langit. Diantaranya seperti firman-Nya:

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (TQS. Al-Mulk [67]: 16)

Juga dalam surat ar-Rahman [55]: 27, QS. Al-Fajr [89]: 22, QS. Al-Maidah [5]:64, disamping itu terdapat ayat-ayat lain yang menetapkan sikap pensucian terhadap Allah swt, yakni tidak boleh mnyerupakan Allah swt dengan makhluk-Nya, seperti firman-Nya: TQS. As-Syura [42]: 11, TQS. Al-An’am[6]: 100. Demikianlah ragam ayat al-Qur’an yang tersebar di pelbagai segi yang nampak adanya pertentangan (kontroversial). Ayat-ayat inilah yang oleh al-Qur’an disebut sebagai ayatayat mutasyabihat.

Mengikuti Ayat-ayat Mutasyabihat

Pada waktu ayat-ayat tersebut turun, Rasulullah saw menyampaikannya kepada masyarakat, para sahabat, segera saja kaum muslim mengimaninya. Mereka menghafal ayat-ayat tersebut di dalam lubuk hatinya dan ayat-ayat tersebut tidak menimbulkan pembahasan dan perdebatan apapun di kalangan mereka. Mereka tidak melihat adanya pertentangan apapun yang memerlukan penjelasan yang detail. Mereka memahami semua ayat sesuai dengan segi yang diterangkan dan ditetapkan oleh ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka mengimani ayat-ayat tersebut, membenarkan dan memahaminya dengan pemahaman yang global dan mereka merasa cukup dengan pemahaman seperti ini. Mereka menganggap bahwa ayat-ayat ini tersebut sebagi penjelas bagi kenyataan atau sebagai penetapan bagi suatu hakikat. Banyak dari kalangan para ulama intelek tidak masuk pada pembahasan perincian ayat-ayat mutasyabihat ini dan tidak pula memperdebatkannya. Bahkan, dipandangnya hal tersebut bukan suatu kemaslahatan bagi Islam. Maka pemahaman makna yang bersifat global bagi setiap orang yang memahaminya sesuai dengan ukuran yang dapat dipahami, tidak perlu ia terjerumus ke dalam perincian dan bahasan yang mengadangada. Demikianlah kaum muslimin menemukan metode al-Qur’an, menerima ayatayat- Nya dan bertindak sesuai metode tersebut. Pada waktu datang golongan mutakallimin, mereka meletakan pemahamannya terhadap ayat-ayat mutasyabihat berdasarkan pada apa yang didapatkan oleh akal mereka tentang makna ayat ‘laitsa kamitslihi syaiun’ (tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya). Mereka menjadikan pemahaman ini sebagai penentu dalam memahami ayat-ayat mustasyabihat. Mereka bangun diatas pemahaman ini dasar-dasar (ushuluddin menurut mazhab mereka). Lalu membahasnya secara terperinci berdasarkan ushul pemahaman mereka tersebut. Disamping itu mereka menakwilkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya. Juga, mengkafirkan semua orang yang menyalahi pendapatnya. Banyak dan panjangnya pembicaraan dalam masalah ini menyebabkan timbulnya fitnah yang besar dikalangan kaum muslimin. Andaikata mereka mengembalikan masalah tersebut pada Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang melimpah ruah. Firman Allah swt mengumpamakan mereka seperti dalam TQS. Ali-Imran [3]: 7. Perlu kita merenungkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah ra : “Andaikata kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat maka mereka itu adalah orang-orang yang disebut dalam Allah swt (dalam QS. Ali Imran diatas) maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim).

Hambatan Bahasa

Ada yang mengatakan bahwa sebab keterlibatan dalam ilmu kalam adalah kelemahan yang menimpa otak kaum muslimin dalam memahami bahasa Arab. Oleh karena itu, kata mereka, kita akan beralih dari cara para sahabat membahas aqidah pada cara-cara logika. Bukanlah suatu kesalahan apabila kita tetap mempertahankan sikap pensucian terhadap Allah tanpa mengingkari dan menyerupakan. Alasan mereka ini sebenarnya merupakan hujjah yang lemah. Sebab, gaya pembahasan yang dilakukan oleh para ulama kalam tidak menunjukan bahwa bahasa merupakan salah satu hambatan dalam pemahaman aqidah secara benar, tetapi objek bahasan yang ada pada merekalah yang menjadikannya berselisih pendapat. Sebagai contoh, apabila kita mengatakan: ”Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ Makna ayat ini dapat difahami artinya dari segi bahasa, tanpa perlu menggunakan cara-cara mantiq/logika. Akan tetapi berubahnya objek pembahasan yang dibahas dari segi Dzat Allah itulah yang mendorong munculnya metode tersebut. Apabila yang menodorong menggunakan cara-cara logika adalah benar bahasa Arab maka dalam hal in cukuplah kita menerangkan arti bahasa untuk kata-kata yang membutuhkan penafsiran/penjelasan dan terhadap makna-makna yang belum jelas dalam benak kita maka kita terima secara pasrah tanpa membahasnya atau memperdebatkannya lagi. Tapi nampaknya bahwa arti lughawi (bahasa) bukan merupakan sebab penakwilan dan pembahasan tentang Dzat Allah atau terlibatnya akal dalam kesesatan yang sulit baginya untuk melepaskan diri darinya kecuali dalam keadaan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi, penyebab yang sesungguhnya (penakwilan dan pembicaraan mengenai dzat Allah) adalah mengikuti hawa nafsu dan tidak meneladani metode para ulama salaf.

Metode Yang Memecah Belah Persatuan

Diantara hal-hal yang perlu diingat adalah bahwa pembahasan ulama kalam ini telah menyebabkan munculnya banyak firqah-firqah yang keluar dari Islam. Mereka termasuk dalam golongan-golongan yang disebutkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya: “Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya masuk neraka. Sedangkan kaum muslim terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya juga masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : Siapakah dia ya Rasulullah? Beliau menjawab: golongan yang mengikuti aku dan para sahabatku.(Sunan Tirmidzi: 2246-2643; Sunan Abu Daud 4596-4597; Musnad Imam Ahmad no. 1024).

Rasulullah saw telah memberikan petunjuk kepada kita agar meneladani pola hidup beliau, serta melarang kita, ummatnya menyalahi jalan tersebut. Perhatikanlah sabda beliau dalam sebuah hadits shahih: “Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sesudahku), kelak dia akan melihat banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Lalu gigitlah (peganglah) dengan gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru (maksudnya dalam masalah ibadah). Sesungguhnya semua perkara baru adalah bid’ah dan semua bid’ah (mengakibatkan seorang masuk) dalam neraka.” (Sunan Abi Daud, 4607; Sunan Tirmidzi 2678; Musnad Imam Ahmad IV hal. 126-127). Demikian pula diantara hal yang perlu dipegang teguh bahwa pembahasanpembahasan ini dan yang serupa dengannya akan menyebabkan berhadapannya seorang muslim melawan saudaranya yang muslim, bahkan akan mengalihkan perhatiannya hanya untuk menghadapi ‘urusan dalam’ kaum muslimin. Sehingga orangorang kafir dapat mengambil kesempatan untuk melontarkan banyak perkara-perkara syubhat yang menyibukkan kaum muslimin dalam menyelsaikannya, bahkan dapat menyebabkan terhentinya kegiatan dakwah dan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, kita lihat ketika ilu-ilmu logika mulai berkurang, bahkan lenyap dari masyarakat, sangat diperhatikan dan menjadi pembahasan serius dikalangan kaum orientalis. Begitu juga banyak teolog nasharani banyak mengarang buku-buku dibidang ini. Pembahasan ilmu kalam masih mempengaruhi sekelompok kecil ummat, yang alangkah baiknya mereka tinggalkan hanya karena Allah semata, yang mereka cintai. Jika tidak, maka mereka – baik sengaja ataupun tidak—berarti telah mengikuti orang yang tidak mengharapkan kebaikan bagi agama Islam ini. Dalam kenyataannya, permasalahan ilmu kalam telah dimunculkan oleh beberapa orang nasharani yang kemudian memeluk Islam tetapi tidak ikhlas pada-Nya. Diantara hal yang menunjukan hal ini adalah bahwa Ghailan ad-Damasyqi pada mulanya sebelum menganut Islam adalah orang Qibti (nasharani dari Mesir). Dan dialah orang yang paling gencar menyerukan masalah qadar. Misalnya apa yang telah disebutkan oleh Ibn Qutaibah didalam kitabnya Kitabu al-Ma’arif, hal 166: “Ghailan ad-Damasyqi adalah orang Qibti yang tidak ada seorang pun sebelumnya membicarakannya dan menyeru kepada masalah qadar keduali Ma’bad al-Jahni. Dan Ghailan mempunyai julukan Abu Marwan. Lalu ditangkap oleh Hisyam Ibn Malik (wafat pada tahun 125 H), kemudian disalib di pintu gerbang kota Damaskus.” Sebagimana halnya dahulu, sekelompok nasharani yang masuk Islam telah membahas tentang berbagai syubhat yang menyangkut aqidah, khususnya masalah takdir, kita akan menemukan pula bahwa sekelompok yahudi yang masuk Islam telah menimbulkan berbagai syubhat; tentang penyerupaan dan penitisan/penjelmaan Allah swt. Untuk itu dibuatlah cerita-cerita dan riwayat palsu. Asy- Syahru Satani berkata : “Kebanyakan berita-berita/cerita yang dibuat berkenaan dengan masalah penyerupaan Dzat Allah berasal dari Yahudi. Dan sesungguhnya sikap demikian sudh merupakan tabi’at mereka. Barangkali Abdullah Ibnu Saba’ yang dahulu seorang yahudi kemudian masuk Islam merupakan orang yang pertama kali memunculkan perkara-perkara syubhat; tentang penyerupaan Allah—disamping sikap ekstrim dan berlebih-lebihan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib—sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abdul Qadir al-Baghdady di dalam kitabnya al-Farqu Bainal Firoq, hal 214.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: