Archive for September, 2010

Perlakukan dan Kedudukan Non Muslim di Dalam Daulah Islamiyyah

September 19, 2010

Di antara pertanyaan yang sering muncul adalah berkenaan dengan perlakuan negara dan kedudukan nonmuslim di dalam Daulah Islamiyah. Pertanyaan ini ada yang dilatari oleh ketidaktahuan setelah lenyapnya daulah Islam setelah bertahan selama 13 abad. Ada pula yang memang sengaja melemparkan pendapat buruk terhadap syariah. Tujuannya jelas, agar muncul penolakan –termasuk dari umat Islam– terhadap penerapan syariah dalam kehidupan bernegara.

Perlakuan Umum

Pada dasarnya, agama Islam tidak hanya diperuntukkan bagi kaum Muslim belaka, akan tetapi ia adalah agama universal yang ditujukan untuk seluruh umat manusia. Al-Quran telah menyatakan hal ini di beberapa tempat.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui (QS Saba’ [34]: 28)

Oleh kerana itu, tidak dibezakan nonmuslim menjadi warga negara Daulah Khilafah, dia akan mendapatkan perlakuan sama dengan kaum Muslim. Sebab hak mereka sebagai warga negara dijamin penuh oleh negara Islam.. Walaupun demikian, ada beberapa ketentuan yang khusus diperlakukan kepada mereka.

Pertama, orang nonmuslim tidak dipaksa untuk masuk Islam.

Allah SWT berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat (QS al-Baqarah [2]: 256)

Ayat ini menjadi dalil paling jelas tidak bolehnya memaksa orang nonmuslim ke dalam Islam. Mereka juga tidak dipaksa untuk menyakini dan membenarkan keyakinan Islam. Oleh karena itu, agama dan keyakinan kaum Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Majuzi, Zoaroaster, Atheis, dan sebagainya akan mendapatkan perlindungan dan jaminan keamanan. Pemeluknya juga diberikan kebebasan dan perlindungan untuk melaksanakan ritual-ritual agamanya tanpa ada intimidasi, pemaksaan, maupun apa yang disebut dengan uniformisasi peribadatan.

Orang-orang kafir itu juga tidak dipaksa untuk melakukan prosesi pernikahan seperti prosesi pernikahannya kaum Muslim. Mereka juga tidak dikenai zakat dan lain sebagainya.

Perlakuan khusus hanya diberlakukan bagi kaum Musyrik Arab. Mereka tidak diberi pilihan kecuali hanya masuk Islam. Jika menolak, mereka harus diperangi. Hal ini didasarkan firman Allah Swt:

قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal, Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam) (QS al-Fath [48]: 16).

Lain halnya jika seorang Muslim yang murtad. Pelakunya akan dikenai sanksi berupa hukuman mati dari Negara Islam. Begitu juga seorang Muslim yang menyakini dan menyebarluaskan ide sekulerisme, sosialisme, dan liberalisme. Tidak boleh dinyatakan, bahwa tindakan ini dianggap melanggar kebebasan. Sebab, Islam telah menggariskan had al-riddah bagi para pemeluknya.

Kedua, Islam juga tidak akan atau tidak membolehkan penghancuran tempat peribadatan mereka.

Allah SWT berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ (67) وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ (68)

Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” Kalau mereka membantahmu juga, katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan.”[al-Hajj:67-68].

Ayat di atas menunjukkan, bahawa Islam mengakui keberadaan pluraliti agama dan keyakinan. Islam juga tidak akan menyeragamkan atau menghancurkan keragaman keyakinan dan pandangan hidup selain Islam. Seorang Muslim hanya diwajibkan untuk mengajak nonmuslim untuk memeluk agama Islam. Jika mereka menolak, mereka tidak dipaksa, dan dibiarkan tetap memeluk agama dan keyakinannya.

Ketiga, Islam membiarkan orang nonmuslim untuk hidup berdampingan dengan Muslim, selama tidak memusuhi dan memerangi kaum Muslim.

Nonmuslim yang hidup dalam Daulah Islamiyyah; atau disebut dengan kafir dzimmiy, mendapatkan perlakukan dan hak yang sama dengan kaum Muslim. Harta dan darah mereka terjaga sebagaimana terjaganya darah dan harta kaum Muslim.

Diriwayatkan Al-Khathib dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw pernah bersabda:

مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأنَا خَصْمُهُ وَمَنْ كُنْتَ خَصَمَهُ خَصْمَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa menyakiti dzimmiy (warganegara non muslim), maka aku berperkara dengannya, dan barangsiapa berperkara dengan aku, maka aku akan memperkarakannya di hari kiamat [Jaami’ Shaghir, hadits hasan].

Keempat, dalam hal mu’amalah (berjual-beli), kaum Muslim dipersilakan untuk bermuamalah dengan mereka. Akan tetapi yang menjadi landasan dan aturan syariat Islam. Kafir dzimmiy diperbolehkan melakukan jual beli, dan syirkah (bersyarikat) dengan kaum Muslim. Dan dzimmiy juga diperbolehkan ikut berperang bersama kaum muslim, akan tetapi tidak wajib bagi mereka.

Kerana kafir dzimmiy menjadi tanggung jawab negara. Maka, mereka berhak mendapatkan hak pelayanan, perlindungan, hak mendapatkan perlakuan baik dari negara Islam. Inilah hukum-hukum tentang non Muslim dzimmiy.

Walhasil stigma buruk penerapan Islam yang difahami oleh orang non Muslim akan segera tertepis jika mereka memahami secara mendalam hakikat penerapan syari’at Islam, dan keluhuran ajaran Islam.

Perlakuan khusus

Seperti yang telah disinggung sedikit di atas; syariat Islam juga diterapkan bagi nonmuslim. Sebab, mukallaf (orang yang dibebani untuk menjalankan syariah) bukan hanya kaum Muslim, namun juga nonmuslim. Sebab, risalah Islam diturunkan Allah Swt untuk seluruh manusia di dunia, baik yang sudah memeluk Islam mahupun yang belum. Hanya saja, Islam telah memperincikan pelaksanaan syariat Islam oleh Non Muslim.

Adapun pelaksanaan syariah oleh nonmuslim diperincikan berdasarkan dua tinjauan berikut ini.

Pertama, pelaksanaan syariat Islam oleh nonmuslim berdasarkan inisiatif dan kesedarannya sendiri, tanpa ada paksaan dari Daulah Islam. Dalam hal ini ada perkara yang tidak diperbolehkan bagi kaum kafir untuk melaksanakan disebabkan kerana Islam menjadi syarat bagi pelaksanaan hukum syara’ tersebut. Termasuk dalam katagori ini adalah pelaksanaan ibadah solat, puasa, zakat, haji, dan ibadah mahdhah lainnya. Kerana pelaksanaan semua ibadah tersebut mensyaratkan adanya keislaman dan keimanan terlebih dahulu, maka orang kafir tidak diperkenankan melaksanakan atau mengerjakan aktiviti ibadah tersebut.

Adapun, jika pelaksanaan syariah tersebut tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu, maka nonmuslim tidak dilarang untuk melaksanakannya. Di antara aktiviti yang termasuk di dalamnya adalah keikutsertaan mereka dalam perang bersama pasukan kaum Muslim, di bawah panji Islam, dan diketuai seorang Muslim. Mereka diperbolehkan memberikan kesaksian dalam masalah jual beli. Demikian juga dengan semua perkara yang tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu. Oleh kerana itu, nonmuslim diperbolehkan berkecimpung dalam bidang kedoktoran, industri, pertanian, perkebunan, dan lain sebagainya.

Kedua, perlakuan dan penerapan syariat Islam khusus atas non Muslim.

Jika ada nash-nash umum yang pelaksanaannya tidak dibatasi oleh syarat keimanan dan keislaman, maka hal ini perlu diteliti terlebih dahulu. Jika pelaksanaan hukum syariat tersebut hanya dikhususkan bagi kaum Muslim –kerana ada syarat keimanan dan keislaman di dalamnya; atau ada ketetapan dari Rasulullah saw bahawa mereka tidak dipaksa untuk melaksanakan syariat-syariat tersebut; maka pada dua keadaan semacam ini, hukum syariat tersebut tidak akan dibebankan atau diperlakukan kepada mereka. Dan khalifah tidak boleh memberi hukuman kepada mereka, jika mereka tidak melaksanakan syariat-syariat tersebut.

Oleh kerana itu, khalifah (Ketuan Negara) tidak boleh memberi hukuman atas ketidakimanan dan ketidakislamannya non Muslim. Mereka dibiarkan tetap tidak beriman, atau menyakini keyakinan-keyakinan kufurnya. Negara tidak boleh memaksa mereka untuk memeluk Islam. Negara Islam juga tidak boleh memaksa orang kafir untuk beribadah seperti ibadahnya kaum Muslim. Mereka dibiarkan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing.

Ketentuan ini didasarkan pada af’âl Rasulullah saw yang membiarkan nonmuslim beribadah sesuai dengan keyakinan dan agama mereka. Beliau saw juga tidak menghancurkan gereja, biara, dan tempat-tempat peribadatan orang-orang kafir. Hukum-hukum jihad juga tidak dibebankan kepada mereka. Mereka juga tidak diwajibkan pergi berjihad bersama kaum Muslim.

Mereka juga tidak dipaksa untuk meninggalkan minuman keras, dan atas mereka juga tidak diterapkan hukum-hukum yang berhubungan dengan minuman keras (syirbul khamr). Sebab, para shahabat ra, ketika menaklukkan wilayah Yaman, mereka membiarkan orang-orang Kristian di wilayah itu minum-minuman keras, dan para shahabat tidak memaksa mereka untuk meninggalkan minuman keras.

Namun, jika ada hukum-hukum yang pelaksanaannya tidak mensyaratkan adanya keimanan dan keislaman terlebih dahulu, dan tidak ada nash umum yang mengecualikan pelaksanaannya bagi non Muslim; maka hukum-hukum itu akan diperlakukan dan diterapkan kepada non Muslim. Misalnya, hukum-hukum yang menyangkut masalah muamalah, hukuman, dan sebagainya.

Oleh kerana itu, jika non Muslim melakukan pencurian, maka ia akan dikenakan hukuman potong tangan. Begitu pula juga ada non Muslim melakukan perzinaan, maka ia akan dikenakan had zina, dan sebagainya. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat, bahawa Nabi saw pernah menapat laporan masalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang Yahudi terhadap seorang budak perempuan. Ketika orang Yahudi itu mengakui perbuatannya, Rasulullah saw pun menghukum hukuman mati (qishash) atas orang Yahudi tersebut. Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah Hadits bahwa Nabi saw pernah merajam seorang laki-laki dari suku Aslam, dan seorang laki-laki dari orang Yahudi dan wanitanya.

Begitu pula hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan muamalat, pidana, pemerintahan, dan sebagainya, semuanya juga diberlakukan kepada nonmuslim tanpa pengecualiaan.

Inilah ketentuan pokok yang berhubungan dengan pelaksanaan syariah Islam oleh non Muslim. Kenyataan ini menunjukkan kepada kita, bahwa tidak ada penyeragaman dan pemaksaan atas orang-orang kafir, dalam hal ibadah, keyakinan, dan lain sebagainya; sesuai dengan ketentuan di atas.

Praktik Nyata dalam Daulah Islam

Ketentuan itu menjadi makin jelas jika kita melihat praktiknya semasa Islam berkuasa. Selama Islam berkuasa, tidak pernah membunuh, apalagi pembunuhan beramai-ramai, nonmuslim semata disebabkan kerana keyakinannya. Ini berbeza sekali dengan negara-negara Eropah yang sering meneriakkan kebebasan beragama, namun mereka sendiri memaksakan terhadap kaum Muslim untuk memeluk agama mereka. Seperti yang terjadi di Andalusia, ketika umat Islam dikalahkan, hanya diberi dua pilihan: Mati atau meninggalkan Islam.

Berikut ini ada sebahagian dari cuplikan potret kafir dzimi dalam daulah Islam.

Pada Masa Rasulullah SAW.

Setelah kekuasaan Daulah Islamiyyah meluas di Jazirah Arab, Nabi saw memberikan perlindungan atas jiwa, agama, dan harta penduduk Ailah, Jarba’, Adzrah, Maqna, yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Juga perlindungan baik harta, jiwa, dan agama penduduk Khaibar yang mayoritasnya beragama Yahudi. Serta memberikan perlindungan kepada penduduk Juhainah, Bani Dhamrah, Asyja’, Najran, Muzainah, Aslam, Juza’ah, Jidzaam, Qadla’ah, Jarsy, orang-orang Kristen yang ada di Bahrain, Bani Mudrik, dan Ri’asy, dan masih banyak lagi.

Saat itu, Khaibar telah menjadi bagian Negara Islam, dan penduduknya didominasi oleh orang-orang Yahudi. Ketika orang—orang Yahudi bersumpah tidak terlibat dalam pembunuhan, Rasulullah saw pun tidak menjatuhkan vonis kepada mereka. Bahkan, beliau saw membayarkan diyat atas peristiwa pembunuhan di Khaibar tersebut. Hadits ini menunjukkan bagaimana Rasulullah saw menegakkan keadilan hukum bagi warga negaranya tanpa memandang lagi perbedaan agama, ras, dan suku. Adapun non Muslim yang hidup di bawah kekuasaan Islam, mereka tunduk dan patuh terhadap syariat Islam yang telah ditetapkan sebagai hukum negara. Mereka juga mendapatkan perlindungan dalam menjalankan peribadatan, dan keyakinan mereka. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam, atau diperintah untuk melenyapkan truth claim atas agama dan keyakinan yang mereka anut. Malah, mereka diberi kebebasan untuk menjalankan seluruh aktivitasnya sesuai dengan koridor hukum negara (syariat Islam) (lihat Prof. Dr. Mohammad Hamidullah, dalam karyanya Majmû’ah al-Watsâiq al-Siyâsiyyah li al-’Ahd al-Nabawiy wa al-Khilâfah al-Râsyidah, hal. 116-123)..

Pada masa Kekhilafahan Islam

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, tugas kenegaraan dan pengaturan urusan rakyat dilanjutkan oleh para khalifah. Kekuasaan Islam pun meluas hingga mencakup hampir 2/3 dunia. Kekuasaan Islam yang membentang mulai dari Jazirah Arab, jazirah Syam, Afrika, Hindia, Balkan, dan Asia Tengah itu, tidak mendorong para Khalifah untuk melakukan uniformisasi warga Negara, maupun upaya-upaya untuk memberangus pluralitas. Padahal, dengan wilayah seluas itu, Daulah Islam memiliki keragaman budaya, keyakinan, dan agama yang sangat besar, dan sewaktu-waktu bisa memunculkan “konflik agama“. Akan tetapi, hingga kekhilafahan terakhir Islam, tak ada satupun pemerintahan Islam yang mewacanakan adanya uniformisasi (keseragaman), atau berusaha menghapuskan pluralitas agama, budaya, dan keyakinan dengan alasan untuk mencegah adanya konflik.

Bahkan, penerapan syariat Islam saat itu, berhasil menciptakan keadilan, kesetaraan, dan rasa aman bagi seluruh warga negara, baik Muslim maupun nonmuslim. Dalam bukunya Holy War, Karen Amstrong menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Umar bin Khathathab kira-kira sebagai berikut, “Pada tahun 637 M, Umar bin Khaththab memasuki Yerusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah minta agar dibawa segera ke Haram al-Syarif, dan di sana ia berlutut berdoa di tempat Nabi Mohammad saw melakukan perjalanan malamnya. Sang uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. Ia berfikir, ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel. Pastilah, Umar ra adalah sang Anti Kristus yang akan melakukan pembantian dan menandai datangnya Hari Kiamat. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti.” Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai, tentram, tidak ada permusuhan dan pertikaian, meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda, Islam, Kristen, dan Yahudi.

Di Andalusia, kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan selama berabad-abad, di bawah naungan kekuasaan Islam. Tidak ada pemaksaan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk masuk ke dalam agama Islam.

Pada tahun 1519 Masehi, pemerintahan Islam memberikan sertifikat tanah kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia.

Pemerintah Amerika Serikat pun pernah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Khilafah Islamiyyah atas bantuan pangan yang dikirimkan kepada mereka pasca perang melawan Inggris pada abad ke 18.

Surat jaminan perlindungan juga pernah diberikan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari suaka politik ke Khalifah pada tanggal 30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 H.

Pada tanggal 13 Rabiul Akhir 1282/5 September 1865, khalifah memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khalifah. Sebab, di Rusia mereka tidak mendapatkan kesejahteraan hidup.

Itulah sebagian fragmen sejarah yang menunjukkan, bahwa penerapan syariat Islam dalam koridor Negara tetap melindungi dan metolerir adanya keragaman dan kebhinekaan. Tidak ada uniformisasi, tidak ada pemberangusan terhadap pluralitas, tidak ada pemaksaan atas non Muslim untuk masuk Islam, dan tidak ada pengusiran terhadap non Muslim dari wilayah kekuasaan Islam. Yang terjadi justru, perlindungan terhadap non Muslim, Lebih dari itu, pemerintah Islam dengan syariat Islamnya benar-benar telah mewujudkan gagasan masyarakat inclusive tanpa menghapus truth claim agama, dan tanpa melakukan uniformisasi dan intimidasi.

Jadi tidak ada alasan untuk khawatir atas pemberlakukan syariat Islam dalam sebuah negara; atau barangkali ini adalah isyu politis yang ditujukan untuk menghambat penerapan syariat Islam dalam koridor Negara. Wal-Lâh ‘alam bi al-shawâb.

REALITI DAN PERSEPSI MEMPENGARUHI NALURI MANUSIA

September 17, 2010

Naluri berbeda dengan keperluan jasmani, walaupun keduanya sama-sama merupakan potensi dinamis yang sama-sama fitri adanya.  Keperluan jasmani menuntut suatu pemuasan secara pasti, yang jika tidak terpenuhi manusia akan mati.  Berbeda dengan naluri yang menuntut pemuasan, yang bila tidak terpenuhi dia akan mengalami kegelisahan, tetapi tidak mati, bahkan tetap hidup.  Seorang manusia jika tidak makan atau buang hajat, cepat atau lambat pasti akan mati.  Akan tetapi, jika tidak memenuhi keperluan nalurinya, ia tidak akan mati.  Misalnya jika ia tidak “berkumpul” dengan wanita, atau tidak terpenuhi keperluan/naluri seksualnya, ia tidak akan mati.  Sebab naluri manusia memang tidak mengharuskan (menuntut) pemuasan.

Disamping itu, tuntutan pemuasan keperluan jasmani bersifat internal, yakni muncul dari dalam diri manusia itu sendiri, meskipun kadang-kadang dorongan pemuasan itu dipengaruhi oleh suatu rangsangan dari luar.  Berbeda halnya dengan naluri manusia, yang sama sekali tidak bergerak secara internal untuk memenuhi keperluannya.  Maka tidak akan muncul perasaan untuk memuaskan keperluan naluriah, kecuali jika ada rangsangan dari luar.  Jika rangsangan itu  muncul dari luar, maka naluri terpengaruh, kemudian muncul perasaan yang menuntut adanya pemuasan.  Sebaliknya, jika rangsangan itu tidak ada yang membangkitkan, maka ia akan tetap terpendam, dan tidak akan muncul suatu perasaan untuk mencari pemuasan keperluan bagi naluri.

Lapar misalnya, secara alami muncul dari dalam diri manusia,  dan tidak memperlukan rangsangan dari luar.  Munculnya rasa (lapar) yang memperlukan pemenuhan itu berasal dari dalam diri manusia. Ia akan merasa lapar, sekalipun tidak ada pengaruh dari luar.  Akan halnya pengaruh luar dapat juga membangkitkan rasa lapar, misalnya makanan lezat yang dapat “meneteskan air liur” atau cerita-cerita tentang makanan semacam itu, akan dapat berpengaruh terhadap bangkitnya rasa lapar.

Berbeda halnya dengan keinginan seksual, yang sama sekali tidak akan muncul secara alami dalam diri manusia, melainkan memperlukan suatu rangsangan dari luar yang dapat membangkitkannya. Oleh kerana itu perasaan yang menuntut suatu pemuasan keperluan naluriah, tidak akan bangkit dari dalam diri manusia itu sendiri, dan ia tidak akan merasakannya selama tidak ada rangsangan dari luar yang membangkitkannya, misalnya dorongan biologis untuk “berhubungan” dengan lawan jenis, atau perasaan apapun yang berkaitan dengan hal itu, tidak akan muncul dalam diri seseorang, kecuali jika ia menyaksikan suatu fakta, mendengar cerita-cerita tentang fakta tersebut, atau dalam dirinya telah muncul berbagai bayangan yang membentuk persepsi tertentu, sehingga semua itu dapat berpengaruh terhadap suatu perasaan atau hasrat tersebut.  Selama belum terdapat kenyataan/pemikiran, perasaan seks tersebut tidak akan muncul.

Oleh kerana itu, sebenarnya bukan keberadaan naluri dalam diri manusia yang menimbulkan kegelisahan.  Tetapi, dampak perasaan yang menuntut pemuasan itulah yang menyebabkan munculnya kegelisahan. Maka apabila tidak muncul suatu perasaan yang menuntut keperluan, disebabkan tidak adanya suatu rangsangan dari luar, tentu tidak terjadi suatu kegelisahan sama sekali.  Dengan demikian tidak akan terjadi suatu kegelisahan dalam diri manusia, akibat tidak terpengaruhinya pemuasan keperluan seksual; dan tidak akan terjadi penindasan terhadap naluri manusia, jika tidak terwujud suatu kenyataan atau pemikiran yang dapat merangsang naluri tersebut.

Berdasarkan keterangan di atas, usaha-usaha menanamkan ide-ide yang akan membentuk persepsi porno/seksual, seperti karangan-karangan atau cerita-cerita yang berbau seksual adalah termasuk tindakan bodoh dan picik lagi menyesatkan.  Begitu juga halnya dengan tindakan memperluas kesempatan terwujudnya suatu kenyataan yang terindera yang dapat mempengaruhi  naluri mengembangkan dan melestarikan jenis, misalnya dengan mencampur adukkan pergaulan antara laki-laki dan wanita.  Ini berarti mewujudkan sesuatu yang dapat membangkitkan perasaan seksual, yang akan menimbulkan kegelisahan yang tetap berlanjut sampai terpenuhinya keperluan tersebut.  Kemudian, dengan terus-menerus memberikan rangsangan terhadap naluri tersebut maka akan bangkitlah hasratnya untuk senantiasa memuaskan keperluannya.  Pada gilirannya ia akan dicengkeram oleh kesibukan aktiviti-aktiviti untuk melampiaskan keperluannya.  Atau ia akan dicekam kegelisahan, bila pemuasannya tidak terlampiaskan. Inilah suatu bentuk keterbelakangan berfikir dan kesengsaraan yang abadi.

Oleh kerana itu, adannya pergaulan yang campur aduk antara laki-laki dan wanita, adalah suatu tindakan yang paling membahayakan masyarakat.  Sebab, hal itu dapat mengakibatkan seseorang akan mencurahkan segenap tenaganya untuk sekadar melampiaskan keperluannya, sedangkan otaknya akan dicengkeram oleh persepsi (perasaan) untuk memenuhi keperluan-keperluannya, atau ”memaksa” manusia dalam kegelisahan secara terus-menerus.  Demikian pula halnya dengan tindakan penyebaran karangan-karangan yang berbau seks.

Islam telah memberi seperanangkat pemahaman yang dapat mengatur kecenderungan seksual manusia, secara positip (bersifat dorongan, pent) dengan memberinya seperanangkat aturan dalam urusan pernikahan dan segala sesuatu yang terpancar darinya.  Islam juga berusaha mencegah dan menjauhkan manusia dari segala hal yang dapat membangkitkan perasaan seksualnya, sementara ia tidak mampu melampiaskan keperluannya; dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan dirinya tenggelam dalam kesibukan serta menghabiskan waktunya untuk memikirkan ataupun bergelimang dalam perbuatan-perbuatan pelampiasan keperluan seksualnya yang timbul dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis.

Kerana itulah Islam mengharamkan khalwat, berduaan antara laki-laki dan wanita bukan mahram atau bukan suami-istri.  Sebab hal itu akan dapat membangkitkan kecenderungan seksual manusia, yang bila tidak mampu memenuhi keperluan naluri sebagaimana aturan yang dipeluknya, akan mendatangkan kegelisahan atau penyelewengan yang sangat keji dari peraturan.  Dalil pengharaman khalwat ini sangat tegas, yaitu tercantum dalam hadits shahih di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah salah seorang kamu berkhalwat dengan seorang wanita, kecuali ia (wanita itu) bersama mahramnya”.

“Mulai hari ini tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita secara sembunyi-sembunyi yang suaminya sedang bepergian, kecuali laki-laki itu bersama-sama satu atau dua orang laki-laki lain”.

Dalam hadits lain dijelaskan bahwa setan akan menjerumuskan wanita dan laki-laki bersam-sama, apbila mereka berkhalwat, saat itulah setan akan menjadi pihak yang ketiga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, kerana pihak yang ketiga adalah setan.”

Oleh kerana itu, menjadi kewajiban atas kaum muslimin, menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat membangkitkan dan merangsang naluri melestarikan serta merangsang perasaannya sebagai suatu sikap berserah diri pada perintah-perintah Islam.

RASA TAKUT

September 17, 2010

Rasa takut adalah satu bentuk manifestasi naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqa’).  Rasa takut pasti ada dalam diri manusia, kerana merupakan bagian dari penciptaannya dan secara fitri ada bersama keberadaan manusia.

Seperti halnya manifestasi-manifestasi naluri mempertahankan diri lainnya, misalnya cinta kekuasaan, membela diri, kasih sayang dan sebagainya, bahkan juga seperti manifestasi naluri-naluri lainnya yakni naluri beragama (Gharizatut Tadayyun), atau naluri mengembangkan dan melestarikan jenis (Gharizatun Nau’), maka manifestasi inipun tidak akan muncul kecuali jika ada sesuatu yang mempengaruhinya.  Jika tidak ada sesuatu yang mempengaruhinya, maka rasa takut ini tidak akan muncul.

Seperti halnya dengan hal-hal yang mempengaruhi munculnya gharizah-gharizah yang lain, maka hal-hal yang dapat mempengaruhi rasa takut ini dapat merupakan sesuatu yang sifatnya fisik atau bisa pula berupa pemikiran yang berkaitan dengan naluri tersebut, dengan syarat keduanya merupakan sesuatu yang biasanya menakutkan atau bisa juga hanya sekadar perasaan yang muncul dari dalam terhadap sesuatu yang menakutkan.

Apabila tidak terdapat pemikiran maupun perasaan tentang sesuatu yang menakutkan, tentu tidak dapat mendatangkan rasa takut.  Kerana pada dasarnya naluri tidak akan tergerak atau terpengaruh potensinya kecuali jika ada perpaduan antara perasaan takut dengan pemikiran atau dengan identifikasi yang berdasarkan naluri (tidak berdasar pertimbangan akal). Oleh kerana itu rasa takut ini tidak muncul pada diri manusia, kecuali jika ada sesuatu yang mempengaruhinya, sekalipun merupakan hal yang fitri yang telah diciptakan secara bersamaan dengan penciptaannya.

Rasa takut termasuk salah satu masalah kehidupan yang berbahaya yang mendominasi bangsa-bangsa atau umat yang rendah dan lemah, yang pada gilirannya akan menimbulkan kehinaan dan keterbelakangan bangsa atau umat tersebut.  Apabila rasa takut ini menimpa seseorang, maka akibatnya lenyaplah kelezatan hidup dan keluhuran budi pekerti orang tersebut, disamping menimbulkan kekacauan berfikir dan hilangnya kemampuan untuk memutuskan sesuatu, yang pada akhirnya menghilangkan konsentrasi dan kemampuan mengidentifikasi sesuatu.

Rasa takut yang paling berbahaya adalah rasa takut yang berasal dari suatu bayangan/ilusi atau sesuatu  yang diada-adakan (hantu).  Dimana hal ini tidak mungkin terjadi kecuali pada orang-orang yang akalnya lemah, baik kelemahan itu kerana tidak sempurnanya perkembangan akal seperti anak-anak, atau kerana tidak adanya informasi yang memadai yang dihubungkan dengan realita, seperti orang-orang yang bodoh atau orang-orang yang mengalami keterbatasan informasi kerana keterbatasannya di dalam masyarakat seperti yang terjadi pada kebanyakan wanita.  Ataupun mereka yang secara fitri lemah otaknya, seperti orang-orang yang cacat mental dan idiot atau yang serupa dengan mereka.

Cara memecahkan rasa takut orang-orang seperti mereka ini adalah dengan mengajak mereka berfikir secara mendalam dan menyederhanakan sesuatu yang dapat memberikan kemudahan berfikir terhadap mereka, atau dengan merasionalkan apa yang mereka takuti itu menjadi sesuatu yang realistis dan dapat mereka indera.  Dengan cara ini mereka mampu menjauhkan rasa takut baik dihilangkan sama sekali maupun secara bertahap sampai sisa-sisanya yang masih ada dalam diri manusia dapat dihilangkan.

Ada pula rasa takut yang lebih rendah bahayanya dari rasa takut yang berasal dari ilusi.  Rasa takut ini merupakan hasil dari tidak adanya kemampuan mengidentifikasi sesuatu secara benar.  Seperti seseorang yang melihat sesuatu yang mungkin menakutkan tetapi mungkin juga tidak.  Misalnya ia melihat seekor anjing mendengkur, tapi dikiranya sebagai anjing gila hanya kerana ia pernah melihat anjing gila serupa itu.  Maka iapun takut melewati jalan tempat anjing itu berada dan berusaha menghindarinya.  Akan tetapi kalau orang itu cermat menelitinya tentu ia akan tahu bahwa anjing itu adalah anjing jinak yang lagi tidur dan tidak menakutkan, bahkan tidak merasakan kalau ada yang lewat.  Contoh lain seseorang yang melihat seekor singa terkurung di dalam sangkar.  Ia takut mendekati sangkar itu kerana khawatir jangan-jangan singa itu akan keluar dari sangkarnya.  Ketika dilihatnya singa itu mangaum meraung-raung, maka rasa takutnya pun semakin menjadi-jadi, kerana ia mengira singa itu benar-benar telah keluar dari sarangnya.

Kesalahan dalam mengidentifikasi sesuatu sering terjadi dalam hal-hal yang bersifat abstrak, seperti rasa takut untuk menulis suatu makalah, menyampaikan khutbah; diskusi dengan seorang penguasa/pejabat tinggi maupun tokoh masyarakat, kerana khawatir akan membawa akibat buruk bagi dirinya.

Rasa takut lainnya yang cukup populer di tengah-tengah masyarakat adalah kerana ketidakmampuan membandingkan akibat antara mengerjakan sesuatu dengan bila tidak mengerjakannya, yang mana keduanya bisa membawa bencana. Maka kesalahan dalam membandingkan hal ini akan mengakibatkan rasa takut untuk turut melibatkan diri dalam suatu keadaan yang berbahaya.  Misalnya rasa takut untuk mengoreksi penguasa zhalim yang dapat menyeretnya (sebagai individu) dalam bencana.  Kerana adanya rasa takut ini, maka seluruh umat ditimpa bencana (sebab kedzaliman tetap ada) termasuk dirinya sendiri yang menjadi bagian dari umat. Begitu juga rasa takut seorang tentara kepada kematian di tengah pertempuran.  Akibat rasa takut ini seluruh pasukan akan binasa, padahal dirinya adalah salah seorang dari pasukan tersebut.  Juga seperti takutnya seseorang yang dipenjara bila mempertahankan aqidah yang diyakini dan diembannya.  Takut seperti ini dapat mengakibatkan hilangnya aqidah pada diri orang itu.  Suatu hal yang lebih menyakitkan daripada dipenjara.  Rasa takut seperti ini sangat berbahaya bagi umat.  Sebab dapat membawa bencana, bahkan lebih dari itu akan membawa umat ke jurang kehancuran dan kehinaan.

Hanya saja pada kondisi-kondisi tertentu rasa takut itu berguna dan bermanfaat, sehingga memang harus ada dan diadakan. Bisa juga sebaliknya, kadangkala rasa takut bisa berbahaya dan membinasakan, sehingga tidak boleh ada dan harus segera dihilangkan.  Rasa takut terhadap bahaya yang memang benar-benar membahayakan adalah sesuatu yang bermanfaat dan harus ada.  Tiadanya rasa takut dalam kondisi seperti ini atau kerana meremehkannya adalah suatu hal yang membahayakan dan tidak boleh terjadi, baik itu membahayakan individu ataupun seluruh ummat.  Sebab rasa takut semacam ini berfungsi sebagai penjaga dan pengekang.  Oleh kerana itu harus dijelaskan kepada umat terhadap bahaya yang akan menimpanya, agar mereka selalu waspada dan berusaha membela diri serta menghilangkan bahaya tersebut.  Rasa takut kepada Allah dan adzabNya misalnya, adalah sesuatu yang penting dan wajib ada, kerana keduanya merupakan penjaga sekaligus pengekang.  Oleh kerana itu rasa takut kepada Allah itu harus ditumbuh-kembangkan dalam jiwa, disertai penjelasan terhadap macam-macam Adzab Allah terhadap orang yang berbuat maksiyat atau orang yang kufur, sehingga manusia akan mengikuti agama-Nya, melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.  Rasa takut seperti ini dan yang yang sejenisnya adalah penting dan bermanfaat serta harus ada, dan diupayakan keberadaannya kerana merupakan penjaga dan pengekang, sekaligus akan menjamin perjalanan manusia di jalan yang lurus.

Jelaslah bahwa sesungguhnya rasa takut adalah bagian dari fitrah manusia. Persepsi manusialah yang menentukan apakah rasa takut itu akan membawa pengaruh dalam dirinya atau justru akan hilang dari dirinya.  Dari satu segi amat berbahaya bagi manusia, tetapi dari segi lain dapat membawa faedah yang besar dalam kehidupannya. Agar manusia dapat menjauhkan bahaya yang menimbulkan rasa takut, dan agar ia dapat menikmati manfaatnya, maka wajib bagi seorang manusia untuk menentukan satu persepsi yang benar dalam kehidupannya, yang tidak lain adalah Islam.

PEMIKIRAN DAN KESEDARAN

September 17, 2010

Pemikiran, akal, dan kesedaran pengertiannya adalah sama dan merupakan nama-nama yang berbeda untuk satu sebutan.  Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalahproses berfikir.  Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berfikir.  Pemikiran dengan arti proses berfikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur yaitu: fakta yang terindera, panca indera manusia, otak manusia, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta tersebut dan dimiliki oleh manusia.  Jika keempat unsur tersebut tidak terkumpul dalam suatu proses berfikir maka pemikiran, akal dan kesedaran tidak pernah terwujud.

Oleh kerana itu, orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas hakekat akal.  Dimana mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala, di hati, atau tempat lainnya.  Yang jelas mereka menduga, bahwa akal adalah suatu organ tertentu dalam tubuh, atau bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif.  Orang-orang modern pun telah melakukan kekeliruan,  tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayamnya akal, sekaligus sebagai pusat kesedaran, atau pemikiran.  Baik mereka itu yang berpendapat bahwa pemikiran  adalah refleksi otak terhadap kenyataan ataupun yang mengatakan sebaliknya bahwa pemikiran adalah refleksi kenyataan ke otak.

Sebab, otak adalah salah satu organ sebagaimana organ tubuh yang lain.  Tidak ada suatu refleksi apa pun  yang terdapat padanya.  Sebab yang dimaksud dengan refleksi adalah memantulnya cahaya pada suatu benda atau memantulkan suatu benda yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk direfleksikan; yang disertai adanya cahaya.  Misalnya, cahaya lampu listrik yang mengenai suatu benda dipantulkan kembali oleh benda tersebut, sehingga tampaklah bersama-sama dengan cahaya itu.  Demikian juga dengan cahaya matahari, bulan dan cahaya-cahaya lainnya.  Atau sampainya gambaran suatu benda pada cermin disertai dengan adanya cahaya,  maka terjadilah pemantulan cahaya, sehingga terjadi pemindahan gambar benda itu pada cermin, dan terlihat sebagaimana adanya.  Pantulan gambaran benda itu seolah-olah tergambar di balik cermin (bayangan maya) sampai bisa dilihat.  Padahal sebenarnya hal itu tidak tergambar di sana.  Yang terjadi adalah refleksi (pencerminan), sebagaimana refleksi cahaya terhadap benda apa saja. Inilah yang dimaksud dengan refleksi.

Dalam proses berfikir, tidak terjadi suatu refleksi apapun, tidak menghasilkan suatu refleksi, dan tidak ada refleksi kenyataan terhadap otak.  Yang jelas di sini tidak ada suatu bentuk refleksi sama sekali.  Adapun mata yang disangka dengan peranantaraannya dapat menimbulkan suatu refleksi, ternyata tidak terjadi dan tidak menghasilkan apapun.  Yang terjadi adalah suatu pencerapan.  Sebab suatu benda yang terlihat, tidaklah terpantul gambarnya keluar.  Yang terjadi adalah suatu pencerapan dengan sampainya gambaran benda tersebut.  Jika gambaran benda yang tampak itu tercerap dan terdapat di bagian dalam mata, maka terlihatlah benda itu.  Tidak mungkin terjadi suatu pemantulan di bagian belakang mata, dan tidak mungkin terjadi atau dihasilkan suatu pantulan.  Dengan demikian, otak bukanlah tempat bersemayamnya akal atau pemikiran.  Yang sebenarnya terjadi adalah suatu perpindahan gambaran tentang fakta yang terindera oleh otak melalui peranantaraan indera manusia yang lain.  Jenis “gambar” tersebut tergantung pada indera yang memindahkannya.  Bila indera yang digunakan adalah indera penglihatan (mata), maka yang akan sampai adalah bentuk gambarnya.  Jika yang digunakan adalah indera pendengaran, maka yang akan sampai adalah “gambaran” suara.  Dan jika yang digunakan adalah indera penciuman, maka yang akan sampai adalah “gambaran” baunya, demikian seterusnya.  Jadi fakta itu tergambar sebagaimana yang sampai ke otak atau sesuai dengan gambar yang disampaikan.  Dengan demikian terjadinya suatu penginderaan terhadap fakta belaka, belum merupakan suatu pemikiran.  Yang terjadi hanyalah suatu identifikasi yang berasal dari naluri; apakah hal itu mengenyangkan, menyakitkan, menggembirakan, memberi kenikmatan atau sebaliknya, dan lain sebagainya, tidak lebih dari itu. Di sini belum terjadi pemikiran.

Namun demikian, jika informasi sebelumnya berkaitan dengan fakta tersebut, di sini akan terjadi jalinan.  Maka daya ingat yang ada dalam otak manusia terhadap kenyataan yang diindera dan telah tergambar dalam otak, maka terjadilah suatu proses berfikir, dan selanjutnya menghasilkan kesedaran terhadap hakekat benda tersebut.  Jika tidak ada informasi sebelumnya, maka tidak mungkin mengetahui hakekat benda tersebut, yang ada hanyalah semata-mata penginderaan atau sekadar hanya identifikasi yang berasal dari naluri –seperti apakah hal itu mengenyangkan atau tidak, tak lebih dari itu– dan tidak akan menghasilkan suatu pemikiran.

Dengan demikian, proses berfikir tidak akan berlangsung, kecuali dengan terwujudnya empat unsur, yaitu: fakta yang diindera, satu atau beberapa alat indera, otak, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan benda yang diindera.  Jika salah satu dari keempat unsur tadi tidak ada, maka sama sekali tidak akan terjadi suatu proses berfikir.  Usaha berfikir yang dilakukan tanpa adanya fakta yang diindera atau tidak adanya informasi sebelumnya, adalah suatu khayalan/imajinasi yang tidak ada wujudnya, dan bukan merupakan suatu pemikiran.  Hanyut dalam khayalan dengan menjauhkan diri dari fakta yang terindera atau informasi sebelumnya tentang masalah tersebut, akan menjerumuskan kepada ilusi dan kesesatan.  Bahkan mungkin akan menyebabkan kerusakan otak, sehingga tertimpa bencana tidak waras, epilepsi, dan lain sebagainya.  Oleh kerana itu, haruslah terdapat fakta yang terindera dan informasi sebelumnya disamping adanya alat indera dan otak manusia.

Jadi pemikiran, akal dan kesedaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan peranantaraan indera ke otak disertai informasi sebelumnya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Dikatakan penangkapan kenyataan bukan gambarnya.  Sebab, yang ditangkap adalah pencerapan fakta, bukan gambaran fakta tersebut seperti halnya gambar fotografi (potret) yang merupakan gambar suatu kenyataan yang dapat diindera.  Maka lebih tepat jika dikatakan sebagai penangkapan fakta, dari pada memindahkan gambaran fakta.  Sebab, gambar suatu yang ditangkap adalah pencerapan fakta bukan sekadar gambarnya.

Itulah definisi pemikiran, akal dan kesedaran.  Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran.   Sebab dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak berlangsung proses ini kerana pemikiran itu telah ditemukan lalu menghilang.  Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah di kalangan manusia, yang kemudian mereka ekspresikan dengan simbol-simbol bahasa atau simbol-simbol lainnya.  Meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.

Suatu pemikiran yang disampaikan kepada seseorang perlu dilakukan langkah-langkah peninjauan sebagai berikut:  Jika pemikiran tersebut memiliki fakta yang dapat diindera dan sebelumnya telah diindera oleh orang tersebut, atau ia menginderanya pada saat menerima pemikiran itu; atau ia belum pernah menginderanya baik sebelumnya atau saat ia menerima pemikiran itu, tetapi dapat membayangkan dalam benaknya sebagaimana yang disampaikan kepadanya, lalu ia membenarkan dan menjadikannya fakta dalam benaknya, seolah-olah telah mengindera dan menerimanya seperti fakta yang benar-benar terindera, maka dalam dua keadaan seperti ini ia telah menyadarinya.  Dengan adanya fakta tersebut, terbentuklah dalam benaknya suatu persepsi (mafhum) dan menjadi suatu pemikiran yang nyata seolah-olah dia sendiri yang menghasilkan pemikiran itu.  Akan tetapi jika belum terdapat suatu kenyataan pada diri orang yang menerimanya, kendati telah memahami rangkaian kalimat, pemikiran dan apa yang dimaksud dengan pemikiran itu, namun pemikiran itu belum mempunyai fakta dalam  benaknya, baik dengan menginderanya, meyakininya, atau menerimanya maka ia hanya merupakan informasi (maklumat) belaka.  Dengan kata lain hanya sekadar pengetahuan tentang berbagai benda saja, sekalipun itu merupakan pemikiran,  ditinjau dari keberadaan unsur-unsurnya, tetapi bagi orang yang belum memahami realitanya tidak lebih dari sekadar pengetahuan saja.

Oleh kerana itu yang dapat berpengaruh pada diri manusia bukanlah informasi melainkan persepsi.  Sebab persepsi merupakan pemikiran-pemikiran dalam benak orang-orang yang memahaminya. Kerana itu, adalah suatu keharusan untuk mengetahui hakekat pemikiran agar dapat diketahui bagaimana pemikiran itu dapat mempengaruhi manusia.

KEDUDUKAN DO’A DI DALAM ISLAM

September 17, 2010

Do’a adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya.  Do’a merupakan aktiviti ibadah yang paling agung.  Imam Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Anas ra:

“Do’a itu adalah otaknya ibadah”

Terdapat banyak riwayat dari Nabi SAW yang menganjurkan dan mendorong seseorang untuk berdo’a seperti antara lain:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada do’a” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahanNya, kerana sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu)”

(HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).

“Sesungguhnya do’a itu dapat memberi manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi dan yang belum terjadi.  Maka wahai hamba Allah, lakukanlah do’a itu” (HR Tirmidzi dari Ibnu Umar).

“Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah, kecuali akan dikabulkan do’anya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa” (HR Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah ibn Shamit).

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal: dikabulkan do’anya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa” (HR Ahmad dari Abi Said Al Khudri).

Semua hadits diatas menunjukkan adanya keharusan berdo’a yang berupa permohonan hamba kepada Tuhannya untuk mendapatkan sesuatu.  Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan adanya do’a antara lain:

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan bagimu” (QS. Al Mukmin 60).

“(Dan) apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, maka (Jawablah) bahwasanya Aku dekat.  Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepadaKu” (QS. Al Baqarah 186).

“Atau, Siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (berkuasa) di bumi? (QS. An Naml 62).

Tentang do’a Malaikat Allah SWT berfirman:

“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertastih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepadaNya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Tuhan kami, rahmat ilmuMu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala.  Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Mukmin 7-8).

Allah SWT telah memerintahkan kita agar berdo’a kepadaNya, juga telah menjelaskan bahwa hanya Dialah yang dapat mengabulkan do’a, bukan yang lain. Allah juga memaparkan bahwa sebagian dari do’a dilakukan oleh malaikatNya. Maka, Allah menganjurkan kepada setiap muslim agar berdo’a kepadaNya, baik disaat sempit ataupun lapang, di dalam hati maupun terang-terangan, sehingga ia memperoleh pahala dari Allah.

Berdo’a itu lebih baik daripada diam atau berserah diri. Hal ini berdasarkan banyaknya dalil yang menunjukkan, juga kerana berdo’a adalah menifestasi dari kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT. Akan tetapi, patut diketahui bahwasanya do’a tidak dapat merubah sesuatu yang termasuk ilmu-Allah; tidak dapat menolak qadla; tidak dapat mencabut qadar serta tidak dapat menghasilkan sesuatu di luar sebabnya. Kerana ilmu Allah adalah ketetapan pasti, qadla Allah adalah suatu kenyataan dan pasti terjadi, kalau saja qadla dapat ditolak oleh do’a, tentu tidak ada qadla. Dan qadarpun telah diciptakan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa dicabut oleh do’a. Allah telah menciptakan hukum sebab-akibat, dijadikanNya sebab dapat melahirkan musabab (akibat) dengan pasti. Jika tidak menghasilkan musabab tertentu, berarti ia bukan sebab. Oleh kerana itu, tidak boleh dijadikan keyakinan bahwa do’a itu adalah jalan satu-satunya untuk memenuhi keperluan, sekalipun misalnya Allah SWT mengabulkannya sehingga keperluan seseorang terpenuhi.  Sebab, Allah telah menciptakan aturan-aturan untuk manusia, alam semesta, dan kehidupan, di mana ketiganya tunduk pada aturan-aturan itu.  Allahpun mengikatkan sebab dengan musabab. Sehingga do’a tidak memiliki pengaruh untuk merubah aturan-aturan Allah, atau keluar dari hukum sebab-akibat yang telah dibuatNya.

Tujuan berdo’a tidak lain semata-mata untuk memperoleh pahala dari Allah, sebagai pelaksanaan dari perintahNya. Do’a adalah  satu diantara jenis-jenis ibadah, sama dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti shalat, shaum, zakat, dan sebagainya. Maka, seorang mu’min tentu akan berdo’a kepada Allah dan meminta kepada Allah untuk dipenuhi keperluannya, atau untuk menjauhkannya dari rasa sedih, atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan urusan duniawi atau akhirat. Do’a dilakukan sebagai bukti ketundukkan kepada Allah dan usaha manusia untuk mendapatkan pahala dari Allah, sekaligus melaksanakan perintah-perintahNya. Apabila keperluannya terpenuhi, maka itu adalah anugerah dari Allah. Pemenuhan itu pun sesuai (sejalan) dengan aturan-aturan Allah serta berjalan di atas dasar-dasar peraturan sebab-akibat. Jika keperluannya tidak terpenuhi, maka tetap mendapatkan pahala.

Berdasarkan penjelasan tadi do’a bagi seseorang muslim, hendaknya merupakan tanda ketundukan kepada Allah, sebagai pelaksanaan perintahNya, dan usaha memperoleh pahala dari Allah SWT. Sama saja apakah permohonannya terpenuhi atau tidak. Boleh saja seorang muslim berdo’a dengan bentuk do’a apapun yang dikehendakinya; baik di dalam hati, diucapkan melalui lisan, atau dengan kalimat apapun, dan ia tidak terikat dengan bentuk do’a tertentu. Ia boleh berdo’a dengan do’a-do’a yang tercantum dalam Al-Qur’an, hadits, dengan bentuk redaksinya sendiri-sendiri atau dengan mengambil do’a yang berasal dari orang lain. Yang penting, ia dituntut untuk berdo’a kepada Allah. Namun demikian yang lebih utama, tentulah bentuk do’a sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits.

KEKUATAN ROHANI MEMILIKI PENGARUH PALING BESAR

September 17, 2010

Dorongan untuk melakukan suatu perbuatan pada manusia tergantung pada kekuatan yang dimilikinya.  Semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin kuatlah dorongan untuk berbuat sesuatu.  Demikian juga, ukuran keberhasilan perbuatannya, tergantung pada ukuran kekuatan yang dimilikinya.  Manusia memiliki beberapa kekuatan dalam dirinya, antara lain:

1).        Kekuatan materi atau fisik yang meliputi tubuh dan sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi keperluannya.

2).        Kekuatan moral/jiwa yang berupa sifat-sifat mental yang selalu dicari dan ingin dimiliki oleh seseorang.

3).        Kekuatan Rohani yang terbentuk dengan adanya kesedaran atau perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT atau menyadari dan merasakan hubungan tersebut.

Ketiga jenis kekuatan tersebut mempunyai dampak atau pengaruh terhadap manusia untuk melakukan suatu perbuatan.  Akan tetapi, besar-kecilnya pengaruh tiga jenis kekuatan tersebut berbeda satu sama lain.  Diantara ketiga jenis kekuatan tadi, kekuatan materi mempunyai dampak atau pengaruh yang paling lemah, sedangkan kekuatan moral mempunyai dampak yang lebih besar dari kekuatan fisik. Adapun kekuatan rohani mempunyai pengaruh atau dampak yang paling besar dibandingkan kekuatan-kekuatan lainnya terhadap perbuatan manusia.  Sebab kekuatan materi yang terdapat dalam kekuatan jasmani atau sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi keperluannya, akan memberikan dorongan pada keinginan pemiliknya untuk memuaskan syahwat/keinginannya sesuai dengan ukuran kekuatan yang ditentukannya, tidak lebih dari itu.  Kadangkala, bahkan tidak memberikan dorongan sama sekali untuk melakukan suatu perbuatan, meskipun kekuatan itu terdapat dalam dirinya, sebab pemiliknya memang tidak memperlukan perbuatan itu.  Oleh kerana itu, kekuatan ini memiliki dorongan yang terbatas.  Keberadaannya tidak memberikan dorongan untuk berbuat sesuatu dengan sendirinya.

Sebagai contoh, disaat akan memerangi musuhnya, manusia tentu akan mempertimbangkan kekuatan fisik/jasmaninya dan berusaha mencari sarana-sarana fisik atau materi.  Jika ia merasa telah memiliki kekuatan yang cukup (kekuatan jasmani/senjata) untuk berperanang melawan musuhnya, maka berangkatlah ia menuju medan peranang.  Sebaliknya, bila ia merasa bahwa kekuatannya tidak cukup untuk menghadapi musuh, maka ia pun akan mundur dan kembali, urung melawan mereka.

Kadang kala seseorang merasa telah memiliki cukup kekuatan yang dapat menghancurkan musuhnya, akan tetapi tiba-tiba muncul kekhawatiran padanya bahwa musuh mendapat bantuan kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan yang dimilikinya, yang menimbulkan  rasa takut dan gentar melawan musuhnya; atau ia memandang lebih baik mengerahkan tenaganya untuk kesejahteraan diri atau meningkatkan derajat hidupnya, sehingga ia bimbang untuk menghadapi musuh.

Memerangi musuh, adalah suatu tindakan yang biasa dilakukan oleh manusia.  Tetapi, jika ia menyandarkan hal itu pada kekuatan materi saja, maka daya “dorong”nya terbatas, sikapnya dipenuhi keraguan, jika ia dihadapkan pada hal-hal yang dapat membangkitkan rasa takut dan khawatir, sementara ia telah memiliki kekuatan materi.

Sedangkan kekuatan moral berbeda dengan kekuatan fisik/materi.  Kekuatan moral timbul dari dalam jiwa.  Pada mulanya, ia mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, kemudian berusaha mewujudkan kekuatan yang cukup untuk melakukan perbuatan tersebut, yang dapat melampaui batas-batas kekuatan yang dimilikinya.  Kadang-kadang kekuatan moral ini memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia dibandingkan dengan kekuatan materi yang sudah dimilikinya.  Tetapi kadang-kadang ia menerima kekuatan moral meskipun belum maksimal.  Namun demikian, dalam berbagai kondisi, kekuatan moral lebih banyak memberikan dorongan berbuat dibandingkan dengan kekuatan materi.

Misalnya saja seseorang yang ingin memerangi musuh untuk membebaskan diri dari dominasi musuhnya, untuk membalas dendam atau mendapatkan penghargaan, untuk membela yang lemah maupun untuk tujuan-tujuan lainnya, maka ia akan lebih semangat berperanang, dibandingkan dengan seseorang yang ingin melakukan peperanangan sekadar untuk mendapatkan harta rampasan peranang atau untuk menjajah, atau sekadar menguasai suatu daerah.

Sebab, kekuatan moral merupakan dorongan yang muncul dari dalam yang berkaitan erat dengan mafhum yang dimiliki manusia yang lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan mafahim yang muncul dari naluri (rasa takut dalam peperanangan).  Dorongan menuntut adanya pemenuhan, dan mendorong pula munculnya kekuatan untuk mendapatkan sarana-sarana demi terpenuhinya keperluan tersebut, sehingga mampu mengalahkan mafahim yang muncul dari naluri dan menggunakan kekuatan materi yang dimilikinya.  Dengan demikian, maka kekuatan moral lebih dominan dibandingkan dengan kekuatan materi.   Kita telah menyaksikan bagaimana negara-negara di dunia senantiasa berusaha menanamkan kekuatan moral kepada para prajurit, disamping berupaya menyempurnakan dan mempercanggih kekuatan materi (mesin peranang).

Adapun kekuatan rohani adalah suatu kekuatan yang memberikan pengaruh yang paling besar pada diri manusia dibandingkan dengan kekuatan moral ataupun kekuatan materi.  Sebab, kekuatan rohani lahir dari kesedaran manusia akan hubungannya dengan Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk Pencipta segala kekuatan.  Kesedaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT ini, baik yang muncul dari proses berfikir ataupun yang muncul dari perasaan yang timbul dari dalam (naluri) menghasilkan dorongan kepada manusia sesuai dengan apa yang dituntut oleh Allah SWT dan tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki atau yang berhasil dihimpunnya.  Kekuatan ini hanya bergantung pada tuntutan dan seruan Allah SWT, apakah jenis tuntutan itu, apakan sesuai dengan kadar kemampuannya, lebih besar, atau lebih kecil dari kadar kemampuannya.  Kadang-kadang tuntutan itu berupa penyerahan hidupnya dan mengorbankan nyawanya, atau mungkin berupa sesuatu yang akan mempertaruhkan nyawanya.  Ia pun akan melakukannya, walaupun tuntutan Allah tersebut lebih besar dibanding kekuatan yang dimiliki atau mampu diusahakannya.  Dari sini terlihat bahwa kekuatan rohani memberikan dorongan dan pengaruh terbesar diantara kekuatan-kekuatan lain pada diri manusia.  Tetapi, jika kekuatan rohani muncul dari perasaan yang timbul dari naluri semata, maka dikhawatirkan ia akan mengalami kemunduran atau perubahan, kerana dilindas oleh perasaan lain atau dialihkan secara keliru pada perbuatan-perbuatan lain yang tidak menjadi sasaran dorongannya.  Oleh kerana itu kekuatan rohani ini harus berupa kesedaran dan perasaan yang berdasarkan keyakinan akan hubungannya dengan Allah SWT.  Saat itu, menjadi kokohlah kekuatan tersebut dan senantiasa memberikan dorongan (yang dinamis) sesuai dengan tuntutan kekuatan tersebut, tanpa ada kebimbangan sedikitpun.

Seandainya dalam diri seseorang telah menghujam kekuatan rohani, maka kekuatan moral tidak akan berpengaruh apa-apa kerana manusia saat itu akan terdorong oleh kekuatan rohani bukan kekuatan moral.  Apabila ia memerangi musuh, maka ia tidak melakukan peperanangan untuk mencari harta rampasan atau kemasyuran setelah mendapat kemenangan.  Dia melakukan peperanangan kerana hal itu semata-mata perintah Allah.  Tidak peduli, apakah akan mendapatkan harta rampasan atau tidak, akan dikenal orang atau tidak, sebab ia melakukannya hanya sekadar menjalankan perintah Allah, sedangkan kekuatan materi hanya merupakan sarana saja, bukan pendorong.

Demikianlah, Islam telah menjadikan kekuatan rohani sebagai kekuatan pendorong dalam berbuat bagi seorang muslim, walaupun penampakannya berupa kekuatan materi atau moral. Islam menjadikan kekuatan rohani sebagai satu-satunya dasar bagi kehidupan, yakni menjadikan aqidah Islam sebagai landasan kehidupan, halal dan haram sebagai tolak ukur perbuatan, serta mencapai keridloan Allah sebagai tujuan dari segala tujuan (ghayatul ghayah).  Disamping itu, dengan menjadikan kekuatan rohani sebagai dasar kehidupan, berarti setiap amal perbuatannya, baik kecil atau besar senantiasa dikaitkan dengan perintah   dan larangan Allah SWT,  serta dibangun berdasarkan kesedarannya akan hubungannya dengan Allah SWT yang disertai dengan perasaan dan   keyakinannya, adalah dasar tegaknya kehidupan seorang muslim.  Ia adalah kekuatan yang mampu mendorong untuk berbuat sesuatu, baik perbuatan itu kecil ataupun besar.  Ia merupakan spirit yang mendasari seluruh aspek perbuatan manusia dalam kehidupan.  Kadar kekuatan kesedaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT, menentukan seberapa  besar kekuatan rohani yang dimilikinya.  Oleh sebab itu, setiap muslim wajib menjadikan kekuatan rohani sebagai harta simpanan yang takkan sirna, dan rahasia mencapai keberhasilan dan kemenangan

HUKUM TIDAK BERUBAH KERANA PERUBAHAN WAKTU DAN TEMPAT

September 17, 2010

Dewasa ini otak kaum Muslimin dicengkeram oleh suatu keyakinan/anggapan bahwa Islam itu bersifat fleksibel/elastis, dan berjalan sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi atau politik pada setiap waktu dan tempat.  Artinya, Islam berkembang agar penerapan hukum-hukumnya sesuai dengan kejadian dan kondisi  serta tuntutan manusia dan yang telah menjadi kebiasaan dewasa ini.

Mereka berdalih bahwa anggapan-angggapan itu didasarkan pada suatu kaidah, yang menurut mereka merupakan kaidah syara’. Kaidah itu yang berbunyi:

“Tidak bisa ditolak adanya perubahan hukum kerana adanya perubahan zaman”.

Berdasarkan kaidah yang keliru inilah mereka kemudian melakukan aktifitas berlandaskan realita yang ada. Mereka bertindak sesuai dengan tuntutan keadaan.  Apabila mereka diingatkan dengan hukum-hukum Syara’, mereka mengatakan bahwa hukum-hukum itu hanya khusus untuk waktu tertentu, sedangkan Islam mengharuskan ummatnya untuk terus menyesuaikan diri dengan zaman dan bertindak dengan hal-hal yang sesuai dengan zaman dan tempat.  Akibatnya mereka membolehkan adanya bank-bank yang menjalankan sistem riba, dan perusahaan-perusahaan terbatas (PT).  Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah suatu bentuk kemaslahatan yang realistis/nyata. Kerana itu Islam harus luwes menerimanya, sebab Islam itu (adalah ajaran yang) fleksibel seperti yang mereka dakwakan.

Para wanita bersolek dan bercampur dengan laki-laki asing (bukan mahram), tanpa ada suatu keperluan yang diijinkan oleh syara’.  Kemudian begadang bersama laki-laki asing hingga larut malam pada acara pesta-pesta.  Semua ini (menurut mereka) adalah suatu hal yang harus diterima dan ditolerir oleh Islam, sebab sudah menjadi tuntutan zaman. Mereka mengatakan: Bagaimana mungkin Islam itu bertentangan dengan zaman, padahal kaidah syara’ menyatakan bahwa: ‘Islam itu dapat berubah kerana perubahan waktu dan tempat!?‘ Itulah yang mereka dakwakan.

Mereka juga mengatakan bahwa hukum poligami kini tidak berlaku lagi, sebab zaman tidak dapat menerimanya lagi.  Hukum potong Tangan, atau hukum rajam tidak lagi perlu dibahas dan dipelajari, kerana hukum-hukum itu sudah basi, tidak layak lagi dengan tuntutan zaman…

Demikianlah ‘kaidah-kaidah’ ini terus dibicarakan di tengah-tengah ummat Islam, ketika mereka mulai berpaling dari Islam, merobohkan pondasi dan sendi-sendinya, serta melenyapkan peraturan-peraturan dan syia’r-syi’arnya.  Ide-ide seperti ini mulai muncul pada akhir abad kesembilan belas, pada saat pemikiran ummat ini anjlok dari puncak kejayaannya. Kaum Imperialispun seperti mendapatkan santapan yang lezat, hingga akhirnya pemahaman mereka sampai ke tingkat seperti ini.

Hukum-hukum Syari’at Islam adalah tata-aturan dari Allah untuk memecahkan problematika kehidupan manusia, tatkala manusia hendak memenuhi keperluan-keperluan naluriah dan jasmaniyahnya. Hukum-hukum itu telah diberikan Syari’ (Allah) melalui Al Quran dan As Sunnah, yang dua hal ini merupakan satu-satunya sumber hukum syari’at dalam Islam.  Kerana itu hukum syara’ didefinisikan sebagaiSeruan Syari’ (Allah) yang berkaitan dengan perbuatan hamba.  Dengan demikian hukum syara’ haruslah digali dan dipastikan bahwa hal itu merupakan seruan dari Syari’.  Berarti harus digali dari nash, yang tidak lain adalah Al Quran dan As Sunnah atau sumber yang telah disahkan oleh keduanya, yaitu ijma’ Shahabat dan Qiyas.

Atas dasar inilah sumber hukum Syari’at Islam itu hanya ada satu, yaitu kitabullah dan Sunnah rasulNya, yang dari dua sumber ini digali pemecahan-pemecahan yang dihadapi manusia dan mengatasi perselisihan di antara mereka.  Apakah zaman dan tempat itu (menjadi sumber hukum) sebagaimana Kitab atau sunnah??  Atas dasar apa, seorang manusia dapat mengatur problematikanya sendiri atau suatu masyarakat dapat mengatur hubungan sesama anggotanya, sedangkan Allah SWT telah mewajibkan agar mereka mengambil pemecahan problema (kehidupannya) dengan hukum-hukum yang digali dari Kitabullah dan sunnah RasulNya??

Sesungguhnya Syari’at Islam, dalam rangka menyelesaikan problematika manusia, telah mengharuskan manusia untuk mempelajari fakta/realita problema itu, kemudian mencari hukum Allah yang berkaitan dengan masalah itu dengan cara menggalinya dari Al Quran dan As-Sunnah atau dari sumber yang telah disahkan oleh keduanya.

Oleh kerana itu wajib bagi setiap individu Muslim, ketika merealisasikan syari’at Islam dalam masyarakat, hendaknya mempelajari realita masyarakat itu secara teliti, kemudian dipecahkan dengan syari’at Allah.  Dia harus melakukan perobahan secara mendasar, berdasarkan mabda’ Islam, tanpa memperhatikan lagi tolok ukur yang lainnya, baik situasi ataupun kondisi yang menyimpang dari Islam. Setiap hal yang menyimpang dari Islam haruslah dihilangkan, dan setiap perbuatan yang diperintahkan Islam wajib diupayakan dan diterapkan.  Sedangkan realita masyarakat hendaknya selalu terikat  dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Kaum Muslimin dilarang menyesuaikan tindakannya dengan waktu dan tempat, akan tetapi harus selalu merujuk kepada kitabullah dan sunnah RasulNya

TIADA KEMATIAN TANPA DATANGNYA AJAL

September 17, 2010

Banyak orang yang menyangka bahwa penyebab kematian itu bermacam-macam. Kadang-kadang suatu kematian didahului oleh suatu penyakit yang mematikan seperti AIDS, leuchemia, penyakit sampar atau kerana tertusuk pisau, tertembak, terbakar api, terpenggal kepalanya, serangan jantung (stroke) dan sebagainya.  Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah sebab-sebab yang secara langsung menyebabkan datangnya kematian.  Artinya, kematian itu datang kerana sebab-sebab tersebut.  Berdasarkan kenyataan seperti itu terkenal di kalangan mereka sebuah pepatah: “Banyak sebab untuk mati tapi hasilnya satu, yaitu mati”.

Pada hakekatnya kematian dan sebab kematian adalah satu, yaitu sampainya ajal, tidak ada sebab yang lainnya.  Bebagai contoh di atas yang seringkali terjadi dan dapat menghantarkan kepada kematian hanya merupakan suatu kondisi yang menghantarkan kepada kematian, dan bukan sebab-sebab kematian itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, suatu sebab akan menghasilkan musabab atau akibat secara pasti; dan satu musabab tidak akan terjadi melainkan dengan hanya satu sebab bagi musabab sendiri.  Berlainan dengan keadaan/kondisi, ia merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal ikhwal tertentu (pembunuhan, hukuman mati, penyakit yang mematikan dan sebagainya) yang dapat menghasilkan sesuatu berdasarkan kebiasaan.  Tetapi keadaan/kondisi kadang-kadang menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan atau bahkan tidak menghasilkan sesuatu apapun.  Kadang-kadang ditemukan adanya keadaan (yang mematikan) tetapi kematian tidak terjadi, dan terkadang ditemukan kematian tanpa didahului oleh suatu keadaanpun.

Memang banyak hal/kasus yang dapat menghantarkan kepada kematian. Tetapi hubungan keduanya itu tidak bisa dijadikan sebagai postulat kausalitas, kerana  kadang-kadang ‘kasus/peristiwa’ berbahaya itu terjadi tetapi tidak mengakibatkan kematian. Dan sebaliknya,  kematian bisa datang tanpa didahului oleh suatu peristiwa/kasus semacam itu.  Sebagai contoh orang yang tertusuk pisau dan menderita luka parah sehingga –menurut analisa medis–  seharusnya ia mati, tetapi ternyata ia tidak mati, bahkan kemudian sembuh dan sehat wal afiat.  Begitu juga kadang-kadang terjadi kematian tanpa sebab yang jelas, yaitu di luar perhitungan medis, seperti serangan jantung yang membawa kematian seseorang secara mendadak.

Kejadian-kejadian di atas tadi banyak ditemui dan diketahui oleh para dokter, ribuan kasus yang diterima oleh rumah sakit-rumah sakit, suatu sebab yang biasanya secara pasti dan lazim dapat menghantarkan kematian pada seseorang ternyata orang tersebut tidak mati, sebaliknya malah kematian itu bisa datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebab-sebabnya.  Berdasarkan hal ini para dokter umumnya menggambarkan keadaan pasien yang “hidup segan mati tak mau” sebagai: seseorang (yang menderita penyakit mematikan) yang menurut ilmu kedokteran tidak memiliki harapan (hidup) lagi tetapi memiliki kemungkinan sembuh, namun hal ini berada di luar pengetahuan kita.  Begitu pula pendapat mereka terhadap seseorang yang keadaannya tidak membahayakan atau dalam keadaan sehat, namun secara tiba-tiba keadaannya bertambah parah.

Semua itu adalah fakta kehidupan yang telah disaksikan oleh manusia maupun ahli-ahli kedokteran dengan mata kepalanya sendiri.  Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa sesuatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kematian bukan merupakan sebab kematian.  Andaikan hal itu dianggap sebagai sebab, tentu akan menghasilkan kematian secara pasti.  Dan kematian tidak dapat terjadi dengan kasus yang lain, oleh kerana tidak dapat menghasilkan kematian secara pasti, meskipun dalam satu kasus saja dan kematian bisa datang kerana berbagai macam cara, walaupun dalam satu kasus/peristiwa saja, maka hal ini menunjukkan secara pasti bahwa hal itu bukan sebab melainkan “kondisi” saja.  Sedangkan sebab kematian yang sebenarnya yang menghasilkan musabab adalah sesuatu hal yang lain bukan seperti yang dijelaskan dalam “kasus/kondisi” diatas.  Adapun sebab kematian yang sebenarnya, hal itu berada di luar kemampuan akal untuk mengetahuinya kerana berada di luar jangkauan indera manusia. Maka manusia harus mencari petunjuk dari Allah SWT tentang masalah ini.  Hendaknya hal ini dapat dibuktikan dengan dalil yang qath’i baik dalalahnya maupun sumbernya.  Allah SWT melalui beberapa ayat dalam Al Qur’an telah memberitakan kepada kita bahwa sebab dari kematian adalah sampainya ajal, dan bahwasanya (Dzat) yang mematikan adalah Allah SWT.  Kematian hanya datang kerana ajal dan hanya Allahlah yang mematikan.  Sebagaimana firman Allah:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin  Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (QS Al Imron: 145).

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa   (orang) yang belum mati ketika tidurnya maka Dia tahanlah jiwa  (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan  jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.  Sesungguhnya pada  yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum  yang berfikir”

(QS. Az Zumar: 42)

“… Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan”

(QS Al Baqarah: 258).

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu,  kendatipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh”

(QS An Nisaa’: 78)

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,  maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”

(QS Al Jumuah: 8).

“Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat  mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat memajukannya”

(QS Al A’raf: 34)

Semua ayat-ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya adalah qath’i tsubut yaitu bersumber pasti dari Allah dan qath’i dilalah yaitu bahwasanya Allahlah yang mematikan (makhluq).  Dan sesungguhnya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal bukan berupa “keadaan/kondisi” yang dapat menghantarkan pada kematian.

Oleh kerana itu, seorang muslim wajib beriman berdasarkan akal dan syara’ bahwa apa yang disangkanya sebagai sebab kematian hanya merupakan “keadaan” bukan berupa sebab, dan bahwa sebab itu suatu hal yang berbeda.  Juga syara’ telah menetapkan melalui dalil yang qath’i bahwasanya kematian itu berada di tangan Allah.  Dan Allah SWT adalah Dzat yang berhak mematikan dan sebab kematian adalah datangnya ajal.  Apabila ajal datang, maka kematian tidak dapat diundurkan ataupun dimajukan walaupun sedetik, dan manusia tidak akan mampu menghindarinya atau lari dari kematian secara mutlak.  Dan mati pasti akan menjemputnya.

Adapun yang diperintahkan kepada manusia adalah agar bersikap waspada dan menjauhkan dirinya dari “keadaan/kondisi” yang biasanya dapat menghantarkan pada kematian, yaitu dengan cara menjauhkan/ menghindari dari suatu keadaan/kondisi yang biasanya mengakibatkan kematian.  Adapun mati maka manusia tidak perlu takut atau lari dari kematian.  Sebab tidak mungkin ia mampu menghindarinya secara mutlak.

Manusia tidak akan mati kecuali jika telah sampai padanya ajal.  Tak ada bedanya apakah ia mati biasa, terbunuh, terbakar, atau yang lainnya.  Yang jelas, kematian dan ajal berada di tangan Allah SWT

REZEKI SEMATA-MATA DARI SISI ALLAH

September 17, 2010

Rezeki tidak identik dengan pemilikan, sebab rezeki adalah pemberian.  Dalam bahasa Arab Razaqa berarti A’tha, yaitu memberikan sesuatu.  Sedangkan yang dinamakan pemilikan adalah penguasaan terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh harta yang diperbolehkan syara’.  Rezeki dapat berupa rezeki halal ataupun haram; tetapi kedua duanya dinamakan rezeki juga. Misalnya, harta yang diperoleh seorang pekerja sebagai upah kerjanya.  Begitu pula harta yang diperoleh seorang penjudi dari perjudian yang dilakukannya.  Semuanya adalah harta yang diberikan Allah SWT kepada kedua orang itu, tatkala mereka memeras tenaganya dalam mengusahakan suatu pekerjaan yang biasanya dapat mendatangkan rezeki.

Banyak orang yang menyangka bahwa mereka sendirilah yang memberikan rezeki untuk dirinya.  Sebagai contoh seorang pegawai yang menerima gaji tertentu kerana telah menguras tenaganya, menyangka bahwa dialah yang mendatangkan rezeki kepada dirinya sendiri.  Dan tatkala orang itu mendapatkan kenaikan gaji kerana bekerja lebih keras atau kerana memang berusaha memperoleh kenaikan gaji, dia pun menyangka bahwa dirinyalah yang mendatangkan rezeki itu (berupa kenaikan gaji).  Seorang pedagang yang memperoleh keuntungan dari usahanya menyangka pula bahwa dialah yang mendatangkan rezeki bagi dirinya sendiri.  Demikian juga dengan seorang dokter yang mengobati pasien lalu menerima upah, menyangka bahwa ia memberikan rezeki kepada dirinya sendiri, dan lain sebagainya.  Banyak orang menyangka demikian kerana mereka belum memahami hakekat “keadaan” (usaha) yang dapat mendatangkan padanya rezeki.  Sehingga mereka menyangka usahanya itu sebagai sebab (datangnya rezeki).

Seorang muslim meyakini dengan pasti bahwasanya rezeki itu berasal dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari manusia.  Dan bahwasanya setiap keadaan (usaha) yang biasanya mendatangkan rezeki tidak lain adalah kondisi tertentu yang berpeluang menghasilkan rezeki.  Tetapi ia bukan merupakan sebab datangnya rezeki.  Apabila usaha dianggap sebagai sebab,  maka setiap usaha pasti akan menghasilkan rezeki. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kadang-kadang “keadaan”  (usaha) itu ada diupayakan, tetapi rezeki tidak datang.  Ini menunjukkan bahwa usaha bukan merupakan sebab, melainkan hanya berupa “cara/usaha” untuk memperoleh rezeki.

Disamping itu tidak mungkin kita menganggap bahwa “keadaan/ usaha” yang biasanya dapat mendatangkan rezeki, adalah sebab untuk mendatang rezeki.  Demikian juga tidak bisa dikatakan bahwa orang yang mengupayakan suatu usaha, dialah yang mendatangkan rezeki pada dirinya sendiri melalui usaha tersebut, sebab pengertian ini bertentangan dengan nash-nash Al Quir’an yang qath’i, baik ditinjau dari dalalahnya (penunjukannya maknanya) dan tsubutnya (sumbernya).  Dan apabila setiap sesuatu (pengertian) bertentangan dengan nash yang qath’i, baik dalalahnya maupun sumbernya maka harus dipilih nash yang qath’i, kemudian  mengambilnya dan menolak selainnya.  Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menunjukkan dengan keterangan yang jelas dan gamblang serta tidak dapat menerima ta’wil lain bahwasanya rezeki adalah semata-mata dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari manusia.

Semua yang dijelaskan tadi memberi kepastian kepada kita bahwasanya apa yang kita saksikan berupa sarana atau cara yang dapat mendatangkan rezeki, maka hal itu semata-mata adalah berupa “cara (usaha/keadaan)” yang dapat mendatangkan rezeki.  Allah SWT berfirman:

“(Dan) makanlah dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu”

(QS Al Maidah: 88).

“Allahlah yang menciptakan kamu, kemudan memberikan rezeki”

(QS Ar Ruum: 40).

“Nafkahkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu”

(QS Yaasiin: 47).

“Sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya” (QS Ali Imran: 37).

“Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”

(QS  Al Ankabuut: 60).

“Kamilah yang memberi rezeki kepadamu” (QS At Thaha: 132)

“Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”

(QS Al An’aam: 151).

“Kamilah yang akan memberi rezeki pada mereka dan kepadamu”

(QS Al Israa’: 31).

“Benar-benar Allah akan memberi rezeki kepada mereka”

(QS Al Hajj: 58)

“Allah meluaskan rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya”

(QS Ar Ra’ad: 26)

“Maka mintalah rezeki itu dari sisi Allah” (QS Al Ankabuut: 17)

“(Dan) tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (QS Huud: 6)

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki”

(QS Ad Dzariyat: 58)

Ayat-ayat tersebut diatas begitu pula ayat-ayat lain yang amat banyak jumlahnya penunjukan maknanya bersifat qath’i, tidak terkandung di dalamnya kecuali makna yang satu dan tidak mempunyai ta’wil yang lain,  bahwasanya rezeki semata-mata berasal dari sisi Allah bukan dari yang lain.

Meskipun demikian Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan setelah diberikan (oleh Allah) pada diri mereka kesanggupan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki.  Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk cara/usaha yang dapat menghasilkan rezeki dengan ikhtiar mereka, akan tetapi bukan mereka yang mendatangkan rezeki, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat-ayat diatas.  Bahkan hanya Allahlah yang memberikan rezeki kepada mereka dalam berbagai keadaan/cara, tanpa memandang apakah rezeki itu halal ataukah haram, dan tanpa melihat apakah cara/usaha itu termasuk suatu hal yang dibolehkan, diharamkan atau diwajibkan oleh Allah.  Begitu juga tanpa memandang apakah dengan usaha/cara itu dapat menghasilkan rezeki atau tidak.

Walaupun begitu Islam telah menjelaskan tata cara mana bagi seorang muslim diperbolehkan dan mana yang dilarang mengusahakan usaha/cara yang dapat mendatangkan rezeki.  Dalam hal ini Islam menjelaskan sebab-sebab pemilikan, bukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki, dan membatasi pemilikan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan.  Tidak boleh seorangpun berhak memiliki suatu rezeki kecuali dengan sebab-sebab yang telah ditentukan oleh syara’, kerana hal itu merupakan rezeki yang halal.  Selain itu ada rezeki yang haram, walaupun semuanya (baik rezeki yang halal maupun yang haram) berasal dari sisi Allah SWT

Al QADRIYATU AL GHAIBIYAH

September 17, 2010

Al Qadriyatul Ghaibiyah adalah sikap berserah diri kepada qadar dan mengembalikan segala sesuatu yang dihadapi manusia dalam kehidupan ini kepada ketentuan yang bersifat ghaib, dan bahwasanya perbuatan manusia itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa.  Perbuatan manusia tidak lain adalah musayyar, diarahkan oleh kekuatan ghaib, tanpa dapat memilih bagaikan bulu yang diterbangkan oleh angin ke arah manapun.

Ide tersebut di atas telah menyebar dan merasuk ke dalam pembahasan aqidah, semenjak akhir masa  Khilafah Abbasiyyah dan berlanjut terus hingga sekarang.  Kewajiban beriman kepada qadla dan qadar telah dijadikan sebagai sarana memasukkan ide ini ke tengah-tengah kaum muslimin.  Akibatnya, muncullah orang-orang yang gagal usahanya dengan menyandarkan diri kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai alasan kegagalan mereka.  Begitu pula orang-orang yang malas dan bodoh, telah menyandarkan diri kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai dalih kemalasan dan kebodohan mereka, sehingga banyak orang yang bersikap pasrah terhadap kezhaliman yang menimpa mereka, kemiskinan yang mencabik-cabik kehidupan mereka, kehinaan yang melanda mereka dan kemaksiatan yang mendominasi perbuatan mereka.  Sikap ini disebabkan merasuknya ide tersebut yang dijadikan sebagai aqidah, dimana mereka menganggap bahwa tindakan ini merupakan penyerahan diri kepada qadla dan qadar yang berasal dari Allah.

Ide ini masih terus mendominasi pemikiran dan tingkah laku kaum muslimin.  Padahal apabila masalah ini diamati, akan diketahui bahwa ide qadriyatul ghaibiyah tidak pernah muncul pada masa shahabat, bahkan tidak pernah terfikirkan sama sekali.  Seandainya para shahabat mengikuti ide ini, tentulah mereka tidak pernah mengembangkan Islam dan menaklukkan negeri/daerah baru, dan tidak akan mempersulit diri serta membiarkannya diarahkan kemana saja.  Merekapun akan berkata sebagaimana apa yang dikatakan orang-orang sesudahnya, “Apa yang telah ditaqdirkan pasti akan terjadi baik anda berbuat maupun tidak”.  Namun demikian, kaum muslimin yang bijaksana dari kalangan shahabat saat itu, telah menyadari bahwa suatu benteng tidak akan bisa ditaklukkan tanpa adanya pedang (peranang); musuh hanya akan dapat dikalahkan dengan kekuatan; rezeki akan diperoleh dengan suatu usaha; penyakit harus dihindari; peminum khamr (yang muslim) wajib didera; pencuri harus dipotong tangannya; penguasa harus dimintai tanggung jawabnya dan manuver-manuver politik harus direkayasa dan dilakukan terhadap musuh.  Tidak mungkin mereka meyakini selain itu, sedangkan mereka telah melihat langsung pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW telah dikalahkan pada peranang Uhud, akibat detasemen panah menyalahi perintah pimpinan (komando Rasul) serta menyaksikan pula kemenangan pada peranang Hunain, setelah mereka kalah sebab pasukan yang lari dari medan peranang kerana takut dari serangan panah telah kembali bertempur, ketika dipanggil oleh Rasulullah, yang saat itu tetap teguh dalam medan peperanangan bersama beberapa gelintir orang, di hadapan tentara-tentara yang melarikan diri.

Sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan kepada kita untuk selalu mengikatkan setiap sebab dengan musababnya, serta menjadikan sebab menghasilkan musabab (akibat), seperti misalnya api mempunyai sifat membakar sehingga tidak terjadi pembakaran tanpa sebab api, begitu pula dengan pisau yang digunakan untuk memotong, tentu tidak akan terjadi pemotongan tanpa adanya pisau.  Allah SWT telah menciptakan manusia, lalu dalam dirinya dijadikan kemampuan untuk melakukan sesuatu.  Begitu pula Allah SWT telah memberikan ikhtiar kepada manusia untuk memilih jalan yang dikehendaki. Dia bisa makan ataupun berjalan kapan saja ia kehendaki.  Ia belajar lalu mengerti, ia membunuh lalu dikenakan hukuman (qishash), ia meninggalkan jihad sehingga menjadi hina dan ia meninggalkan usaha mencari nafkah lalu jadilah ia miskin.  Oleh kerana itu tidak ada Qadriyah ghaibiyah, baik dalam realita kehidupan ini ataupun dalam syari’at Allah (Islam).

Adapun masalah  qadla dan qadar sama sekali tidak ada kaitannya dengan ide qadriyatul ghaibiyah di atas, sebab yang dimaksudkan dengan qadla adalah segala perbuatan atau kejadian yang dilakukan atau menimpa manusia secara terpaksa.  Misalnya manusia melihat dengan mata bukan dengan hidung; mendengar dengan telinga bukan dengan mulut dan tidak mempunyai kekuasaan atas denyut jantung, atau petir yang menyambar di langit, gempa bumi yang menggoncang sehingga menimbulkan malapetaka bagi manusia, atau jatuhnya seseorang dari atas genteng atau rumah kemudian menimpa orang lain sehingga mati.  Semua perbuatan tersebut termasuk ke dalam pengertian qadla.  Oleh kerana itu manusia tidak akan dihisab atau dimintai tanggungjawab atas semua kejadian tersebut di atas, dan hal itu tidak ada kaitannya dengan perbuatan manusia yang bersifat ikhtiariyah (atas kehendaknya sendiri).

Sedangkan qadar adalah khasiyat suatu benda yang menghasilkan sesuatu atau mengakibatkan terjadinya sesuatu.  Misalnya kemampuan membakar yang dimiliki oleh api; kemampuan memotong yang dimiliki oleh pisau, naluri mempertahankan jenis yang diperuntukkan bagi manusia dan sebagainya.

Namun demikian, semua khasiyat-khasiyat tersebut tidak mampu melakukan suatu perbuatan kecuali dengan adanya si pelaku yang menggunakan khasiyat-khasiyat benda tersebut.  Sehingga bila ia melakukan sesuatu atas kehendaknya sendiri maka yang bertindak sebagai pelaku adalah manusia itu sendiri, bukan qadar yang terdapat pada sesuatu yang dimanfaatkannya.  Sebagai contoh, jika seseorang membakar rumah dengan api, maka dialah yang dikatakan sebagai pembakar, jadi pelakunya bukan api yang mempunyai khasiyat membakar.  Maka manusia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan pembakaran tersebut, sebab dialah yang telah memanfaatkan qadar/khasiyat, lalu mengerjakan sesuatu menurut kehendaknya sendiri.  Qadar tak mampu melakukan perbuatan tanpa adanya seorang pelaku, begitu pula qadla, tak ada kaitannya dengan perbuatan manusia yang sifatnya ikhtiariah.  Jadi keduanya tidak ada hubungan dengan perbuatan manusia yang bersifat ikhtiariah.  Begitu pula tidak ada kaitannya dengan nidzamul wujud (hukum alam) dari segi penguasaannya terhadap manusia, melainkan keduanya termasuk dalam sistem alam ini yang berjalan sesuai dengan peraturan yang telah diciptakan oleh Allah SWT bagi alam semesta, manusia dan kehidupan.

Dengan demikian berarti manusia mampu memberikan pengaruh dalam usaha mencari nafkah hidup atau dalam perjalanan hidupnya. Dia mampu pula meluruskan penguasa yang zhalim atau memberhentikannya. Dia juga mampu mempengaruhi setiap perbuatannya yang tergolong dalam perbuatan yang ikhtiariyah.

Oleh kerana itu Ide Al Qadriyah al Ghaibiyah tidak lain merupakan salah satu bentuk khurafat dan khayalan/imajinasi belaka.