Hegemoni Barat Dalam Kurikulum Pendidikan

Diskusi-diskusi menggugat otentisitas Al-Qur’an, merendahkan sahabat Nabi dan mendekonstruksi syari’ah menjadi hal biasa di beberapa perguruan tinggi Islam

Oktober lalu, sebuah pesantren yang cukup terkenal di Jakarta ditawari kerjasama dalam bidang kurikulum pendidikan oleh pemerintah Inggris. Sebelumnya, lembaga pendidikan Islam yang cukup maju itu sering ditamui pejabat-pejabat Inggris. Di internal pengurus, terjadi pro-kontra. Hingga sebuah majalah mingguan Jakarta menyebut, pesantren tersebut termasuk penganut Islam modern.

Pada awal November, ketika penulis mempresentasikan workshop tantangan pemikiran global di hadapan mahasiswa IAIN Mataram, seorang mahasiswi menceritakan pengalaman studi bandingnya di Australia. Singkat cerita, menurut si mahasiswi tersebut, selama studi ia dikenalkan nilai-nilai modernisme dan pluralisme. Dua fakta tersebut cukup menunjukkan, bahwa negara-negara Barat ingin menghegemoni pemikiran umat melalui pendidikan, terutama lembaga pendidikan pesantren.

Menyimak kasus pesantren di Jakarta tersebut, perlu ditegaskan bahwa Islam modern yang dimaksudkan Barat, adalah Islam yang mengajarkan nilai-nilai toleran terhadap modernisme atau tunduk pada nilai-nilai global. Tegasnya, yaitu Islam yang mengajarkan liberalisme. Penulis pada pertengahan November lalu berkesempatan mengunjungi pesantren tersebut, ternyata pimpinan pesantren menolak Islam Liberal. Kurikulum dan ajarannya pun shahih, tidak ada yang menyimpang. Meskipun, terdapat dosen di situ yang – mungkin tidak sadar – terjangkiti virus liberalisme. Penulis menyimpulkan, pesantren itu sengaja akan dijadikan target menanam paham liberal. Pesantren tersebut adalah pesantren modern. Akan tetapi bukanlah berarti mengajarkan Islam modern. Pesantren modern maksudnya adalah pesantren yang managemen dan metode pengajarannya tidak seperti pesantren tradisional, materi yang diajarkan pun sama dengan pesantren tradisional. Sedangkan Islam modern adalah Islam yang tunduk pada nilai-nilai Barat.

LSM-LSM asing terutama dari AS saat ini bergerak cukup masif. Di kota Pasuruan, kota yang berjuluk kota santri menjadi jujugan. Beberapa bulan lalu mereka memasuki sekolah-sekolah Islam untuk menawarkan bantuan dan training kurikulum pendidikan. Cukup jelas, tidak ada makan siang gratis. Artinya, bisa dipastikan bantuan-bantuan tersebut secara perlahan ditukar dengan memasukkan nilai-nilai peradaban Barat.

Hegemoni Barat

Hegemoni Barat pada era modern dan postmodern kini tampaknya sulit dibendung kehadirannya. Hampir semua aspek kehidupan tak mudah melepaskan dari hegemoni Barat. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, gaya hidup, tradisi dan pemikiran Barat, semuanya telah menusuk jantung masyarakat dunia. Bagi dunia Islam, yang paling berbahaya adalah hegemoni dalam bidang keagaamaan dan pemikiran. Sebagaimana selalu ditegaskan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil – seorang peneliti peradaban Islam dan Barat – bahwa tantangan terberat yang dihadapi umat saat ini bukanlah tantangan ekonomi dan politik, akan tetapi tantangan pemikiran keagamaan. Karena sejatinya, krisis politik dan ekonomi yang dilanda umat berembrio dari pemikiran dan worldview yang problematik.

Sekulerisme, pluralisme, feminisme dan liberalisme (sering disingkat SePilis) dan paham lainya yang berasal dari postmoderinsme Barat adalah bagian dari hegemoni yang telah merambah dunia Islam – termasuk Indonesia. Dominannya hegemoni ini bukan berarti tidak bisa ditolak. Akan tetapi inilah tantangan pemikiran global yang harus dihadapi dengan penanganan serius.

Adalah Petrus Venerabilis (1094-1156), seorang kepala Biara Cluny di Prancis, barangkali yang pertama menggerakkan Barat untuk menghegemoni pemikiran bangsa Timur (Islam). Ia pernah mengatakan perlunya digagas sebuah gerakan untuk menyerang pemikiran Islam pasca Perang Salib. Gagasan ini ia wujudkan dengan mengorganisir sebuah Islamic Studies (studi Islam) di Toledo Spanyol. Atas usulan Petrus, untuk pertama kalinya, pada tahun 1143 M Al-Qur’an berhasil diterjemahkan oleh Robert Ketton ke dalam bahasa Latin. Hasil terjemahannya ini kemudian menjadi rujukan untuk mengkaji Islam.

Venerabilis pada masa itu bisa dikatakan tidak terlalu sukses menyerang pemikiran Islam. Dunia Islam masih kuat membentengi arus pemikiran, bahkan pada masa itu Islam masih dapat menikmati era keemasan. Peradaban Islam saat itu berada pada masa emasnya. Kemajuan Sains dan teknologi masih dikuasai oleh ilmuan-ilmuan muslim.

Namun, ‘perjuangan’ Venerabilis baru bisa dirasakan pada abad ke-19. Studi Islam dan kajian Orientalisme marak di perguruan tinggi di Barat. Bukan hanya orang Barat, cendekiawan-cendekiawan muslim juga masuk pos-pos studi Islam di negara-negara Eropa dan Amerika dengan matrik framework Barat.

Studi Islam dengan Framework Barat ini sukses mencetak generasi baru ‘orientalis’ Timur. Setelah meluluskan sarjana-sarjana muslim, tugas Barat lebih ringan. Karena untuk mengglobalkan ide-ide sekulerisme, pluralisme, feminisme dan lain-lain tidak perlu dari orang Barat sendiri.

‘Orientalis’ Timur tidak kalah fasih dengan Barat berbicara sekluerisasi dan liberalisasi keagamaan. Efek pengaruhnya pun lebih ampuh. Karena mereka adalah orang-orang muslim sendiri dan justifikasi pemikirannya diambil dari Al-Qur’an dan Hadis.

Tantangan internal ini justru yang paling berat – khususnya di Indonesia. Jika dulu yang menghujat Islam adalah hanya orang-orang Barat seperti Johannes dari Damaskus (± 652-750), Petrus Venerabilis (Peter the Venerable 1094-1156), Ricoldo da Monte Croce (±1243-1320), Martin Luther (1483-1546) dan lain-lain. Tapi kini, cendekiawan dan mahasiswa muslim sendiri yang menggugat dan menghujat dasar-dasar teologi Islam, bahkan dengan sangat terang-terangan dan vulgar.

Diskusi-diskusi menggugat otentisitas Al-Qur’an, merendahkan sahabat Nabi dan mendekonstruksi syari’ah yang telah mapan tampaknya bukan hal tabu di beberapa perguruan tinggi Islam. Seperti contoh dalam Jurnal Justisia yang diberi judul “Indahnya Kawin Sejenis” Edisi 25 Th. XI 2004 dikatakan: “Lantas, kenapa pernikahan homoseksual mesti dilarang padahal justru ada unsur kemaslahatan”. Pada pertengahan November 2009 lalu, ketika diadakan workshop pemikiran Islam di IAIN Mataram, saat bertanya seorang mahasiswa tanpa beban menyatakan bahwa Allah plin-plan ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad.

Liberalisasi kurikulum pendidikan – terutama di perguruan tinggi Islam – adalah bukti nyata arus hegemoni Barat begitu kuat. Dalam mata kuliah Orientalisme terhadap Al-Qur’an dan Hadis di UIN Jakarta disebutkan tujuan mata kuliah ini adalah mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap Al-Qur’an dan Hadis. Artinya, metodologi kajian Orientalis digunakan untuk mempelajari Al-Qur’an dan Hadis. Pendekatan Hermeneutika digunakan untuk menafsiri Al-Qur’an. Dengan menggunakan framework Orientalis ini, mahasiswa diajari mendekonstruksi dan memepertanyakan keabsahan Al-Qur’an dan Hadis.

Kritik mereka terhadap Al-Qur’an sebenarnya dapat dilacak akarnya dari seorang Orientalis asal Austria, Arthur Jeffery. Dalam bukunya Progress in the Study the Qur’an Text Jeffery mengatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah tafsir kritis yang menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir Al-Qur’an. Yang dimaksud tafsir kritis oleh Jeffery adalah biblical criticism (kritik ilmiah Bibel), yaitu salah satu metode tafsir Bibel.

Liberalisasi kurikulum pun merambah pendidikan tingkat dasar dan menengah dengan konsep pendidikan multikulturalisme. Dalam sebuah buku diktat sekolah isu-isu gender dan persamaan (equality) antara laki-laki dan perempuan dimasukkan. Misalnya penyamaan hak waris, hak perempuan mengumandangkan azan, menjadi imam shalat, wali nikah, memberi mahar, hak mentalak dan pemberlakuan masa ‘iddah bagi suami, penyamaan batasan aurat, pakaian ihram, jumlah kambing aqiqah, dsb.

Selain melalui cendekiawan muslim, ide-ide liberalisasi dalam – bentuk yang berbeda – diusung melalui isu globalisasi. Jika ‘Orientalis’ Timur memasarkan ide-ide Barat dalam ruang terbatas, maka cakupan globalisasi lebih luas. Mulai dari akademisi sampai masyarakat akar rumput muatan-muatan globalisasi mudah dimasukkan.

Globalisasi sebenarnya bentuk lain dari westernisasi (pembaratan). Malcolm Waters mengatakan globalisasi adalah konsekuensi langsung dari ekspansi budaya Eropa yang melintasi seluruh dunia. Globalisasi tidak sekedar bermuatan kecanggihan teknologi dan informasi, namun juga mengusung teologi dan budaya Barat. Dan inilah bentuk imperialisme gaya baru. Arus budaya Barat ke dalam dunia Islam hampir tak dapat dibendung. Hampir segala yang berbau Barat dinilai maju dan modern. Bahkan pernah mengunjungi negara Barat dianggap suatu kebanggaan.

Banyak yang tidak tersadar bahwa globalisasi mengandung konsekuensi teologis. Globalisasi tidak saja mentransformasi teknologi, namun juga mentransfer budaya dan teologi ke dalam dunia Islam. Peradaban Barat yang kini menghegemoni dunia, melalui bermacam media teknologi, mengglobalkan budaya dan pemikiran termasuk di antaranya adalah agama.

Samuel Zwemmer, Direktur organisasi misionaris pada tahun 1935, mengatakan bahwa tugas gerakan misi adalah, menghancurkan peradaban lawan dan membina kembali bentuk peradaban Barat agar Muslim berdiri di barisan Barat (Kristen). Tugas misionaris tidak saja mengkristenkan Muslim, tapi juga menjauhkan Muslim dari agamanya – dengan tetap memeluk Islam – dan berdiri dalam budaya Barat.

Arus globalisasi tidak selamanya memajukan peradaban manusia, tapi juga membawa konsekuensi meminggirkan agama. Tantangan globalisasi ini tidak perlu sepenuhnya ditelan mentah-mentah. Setiap orang mesti memiliki reserve untuk menyelematakan agama dan budayanya.

Gerakan sekularisasi, liberalisasi, globalisasi dan kristenisasi tampaknya masing-masing memiliki benang merah. Masyarakat yang sekuler, liberal dan menerima nilai-nilai Barat sangat mudah untuk dikristenkan. Karena sekulerisme dan liberalisme membawa konsekuensi mereduksi ajaran agama Islam. Otomatis bangsa yang tereduksi pondasi teologinya mudah menerima ajaran baru (Kristen).

Tampak bahwa gerakan sekularisasi, liberalisasi, globalisasi dan kristenisasi adalah gerakan bersama, masing-masing bergerak yang mengarah pada pereduksian peradaban dan agama Islam. Memang, gerakan-gerakan ini cukup deras dalam dunia Islam, dan banyak yang terhegemoni.

Paham-pahama relativisme, feminisme dan pluralisme inilah saat ini yang gencar dipasarkan ke dalam pondok-pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam – melalui kegiatan training dan workshop—adalah tantangan serius yang harus dihadapi bersama secara profesional. Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: