Pendakwah Harus Berkorban!

kita selalu diingatkan kisah tentang ketundukan, ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan putranya dalam menjalankan perintah Allah SWT. Saat Nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as., keduanya segera bergegas melaksanakan perintah Allah. Tak tampak sama sekali keraguan, keengganan apalagi penolakan. Keduanya dengan ikhlas menunaikan perintah Allah SWT meski harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dan dicintai. Ibrahim rela kehilangan putranya. Ismail pun tak keberatan kehilangan nyawanya (Lihat: QS ash-Shaffat [37]: 102-104).

Ketundukan dan pengorbanan sesungguhnya telah menjadi tabiat para kekasih Allah (khalîlu-Llâh). Dalam menyebarkan risalahnya, Qudwatunâ wa Uswatunâ Rasulullah saw. telah mempertaruhkan semua yang dimilikinya. Berbagai penentangan dan perlawanan orang-orang kafir sama sekali tidak membuat beliau mundur. Bahkan beliau bersumpah tidak akan berhenti berjuang hingga Islam Allah menangkan atau beliau binasa karenanya.

Ketundukan dan pengorbanan juga ditunjukkan oleh para Sahabat Nabi saw. Lihatlah peristiwa heroik yang ditunjukkan oleh generasi awal umat terbaik ini. Di antaranya adalah Muhaishah, Sahabat Rasulullah saw., yang mengikuti perintah beliau untuk membunuh seorang Yahudi dalam sebuah peperangan. Yahudi yang dibunuhnya itu tak lain adalah pedagang yang biasa memberi pakaian kepadanya. Kakak Muhaishah, yang belum memeluk Islam, yaitu Huwaishah, marah kepada adiknya itu, seraya memukul dan menghardiknya, “Apakah kamu membunuhnya? Demi Allah, makanan di dalam perutmu itu berasal dari hartanya.” Muhaishah menjawab, “Demi Allah, sekiranya orang yang memerintahkan aku untuk membunuhnya memerintahkan pula untuk membunuhmu, pasti aku akan memenggal lehermu.” Dengan nada heran Huwaishah bertanya lagi, “Demi Allah, kalau Muhammad memerintahkan kamu membunuhku, kamu akan membunuhku?” Muhaishah menjawab dengan tegas, “Benar!”

Allahu Akbar! Inilah perwujudan ketaatan generasi emas: generasi para Sahabat Rasulullah saw.

Bercermin pada ketundukan mereka, kita pun patut bertanya kepada diri kita: Sudahkah kita memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Ataukah sebaliknya, kita hanya mau tunduk pada sebagian perintah-Nya, namun menolak sebagian perintah-Nya yang lain?

Saat Allah SWT memerintahkan shalat, puasa atau haji, kita segera bergegas mengerjakannya. Saat Allah SWT melarang berzina, mencuri atau memakan babi, kita pun tak keberatan untuk meninggalkannya. Namun, saat Allah SWT memerintahkan untuk menerapkan syariah-Nya dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan pidana, mengapa di antara kita masih ada yang mempertanyakan, merasa keberatan bahkan menyatakan penolakannya? Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah akidah yang kita yakini menuntut kita untuk memiliki ketundukan dan ketaatan total kepada seluruh syariah-Nya?

Apakah kita tidak tahu bahwa sikap mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, kehinaan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat? (Lihat QS al-Baqarah [2]: 85, al-Nisa [4]: 150-151).

Apakah kita juga tidak sadar dengan kalimat tauhid—Lâ ilâha illâl-Lâh—yang kita ucapkan berulang-ulang itu? Ketahuilah, bahwa kalimat tauhid itu bukan hanya berisi pengakuan tentang keesaan Allah SWT semata, namun di dalamnya terkandung ikrar bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat yang berhak dan wajib disembah dan ditaati. Konsekuensinya, kita harus tunduk dan patuh pada seluruh hukum-Nya. Ucapan yang keluar dari seorang Mukmin dalam merespon semua seruan-Nya hanyalah sami’nâ wa atha’nâ (Lihat: QS an-Nur [24]: 51).

Kita juga patut bertanya: Sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT? Sudahkah kita sanggup merelakan harta, jabatan, keluarga, bahkan jiwa dan raga kita demi menegakkan agama-Nya? Ataukah kita masih merasa berat dan enggan melakukannya? Jangankan nyawa; berkorban dengan sedikit tenaga, pikiran, harta dan waktu saja kadang masih terasa sulit. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah kita dituntut untuk meletakkan kecintaan kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya melebihi segalanya? (Lihat: QS at-Taubah [9]: 24).

Di antara kiat memupuk jiwa mudah berkorban adalah dengan memperkokoh keimanan pada akhirat. Kita harus meyakini bahwa besarnya pengorbanan yang kita berikan di dunia jauh lebih kecil dibandingkan dengan balasan yang bakal kita terima: surga beserta ragam kenikmatan di dalamnya. Sebaliknya, sikap mengabaikan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya hanya akan menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa neraka yang amat dahsyat.

Keyakinan inilah yang mampu menjadikan kaum Muhajirin terasa ringan melangkahkan kaki meninggalkan harta dan keluarga untuk berhijrah ke Madinah. Keyakinan ini pula yang membuat kaum Anshar bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada Rasulullah saw. dan menerima saudaranya dari kalangan Muhajirin dengan penuh rasa cinta. Karena keyakinan ini pula, kaum Muslim bersemangat melakukan futûhât hingga wilayah kekuasaan Islam terbentang luas dalam waktu yang amat cepat.

Kini telah 88 tahun umat Islam hidup tanpa Khilafah. Padahal umat Islam hanya diberi masa tenggang selama tiga hari hidup tanpa seorang khalifah. Ini berarti, ketiadaan khalifah telah jauh melampaui batas waktu yang dibolehkan. Keadaan ini harus semakin melecut semangat kita untuk terus berjuang menegakkan Khilafah dan mengangkat kembali seorang khalifah.

Maka dari itu, inilah saatnya kita berkorban! Saatnyalah kini kita tampil ke depan membawa panji-panji Islam, berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyongsong kemenangan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Hari ini kita diperintahkan untuk berkurban. Perintah ini semestinya menjadi ibrâh untuk mengorbankan apa saja yang bisa kita korbankan; tidak hanya berhenti pada berkorban dengan kambing, sapi atau unta. Lebih dari itu, kita harus sanggup mengorbankan harta, waktu jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi.

Sekaranglah saat yang tepat bagi kita untuk membuktikan ketundukan dan pengorbanan kita dalam berjuang menegakkan agama-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini karena Allah SWT telah melebihkan derajat orang yang berjuang sebelum tegaknya Khilafah. Allah SWT berfirman:

لاَ يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى

Tidaklah sama di antara kalian orang yang berinfak dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik (QS al-Hadid [57]: 10).

Akhirnya, semoga Allah SWT memberi kita kesabaran, kekuatan dan kekompakan dalam upaya kita menegakkan Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh kehidupan kaum Muslim sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: