Jangan Lihat Siapa yang Bicara Tapi Lihatlah Apa yang Dibicarakan

“Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan” (Ali bin Abi Thalib)

Ada seorang muslimah curhat bahwa dia dilarang memakai jilbab oleh orang tuanya. Maksud jilbab di sini adalah pakaian longgar terusan hingga menutup kaki tanpa potongan di tengah yang menutupi pakaian dalam. Dia hanya diperbolehkan memakai kerudung saja yang dalam hal ini seringkali salah kaprah disebut sebagai jilbab. Muslimah ini sedih karena ia sudah tahu beda jilbab dan kerudung. Kedua-duanya wajib dikenakan apabila seorang muslimah keluar dari rumah.

Orang tua muslimah ini selalu beralasan bahwa dilarangnya ia memakai jilbab karena pakaian ini identik dengan pakaian para istri teroris. Dan yang utama, karena para ibu nyai di kampung atau pondok pesantren tidak ada yang memakai pakaian seperti itu. Jadi pakai yang umum-umum saja, begitu si orang tua beralasan. Ketika si muslimah sebagai anak berusaha menjelaskan, orang tua merasa didurhakai karena si anak berani membantah perkataannya. Lagipula, biasanya selalu ada imbuhan ‘kamu kan masih kecil, masih bau kencur. Tahu apa?’

Sobat muda, banyak banget fenomena seperti itu di sekitar kita. Seolah-olah karena mudanya usia, ucapan seseorang dianggap tak penting. Ucapan orang yang lebih tua apalagi bila dia berstatus kyai, nyai, atau orang yang dianggap penting lainnya jauh lebih benar dan pantas diikuti. Padahal yang namanya manusia, pastilah tak luput dari salah dan dosa meskipun sekaliber kyai atau nyai.

Penulis sering kali bertemu dengan teman-teman yang suka mengambil jalan pintas ketika berdiskusi. “Pak Kyai dan Bu Nyai saya dulu bilangnya begitu. Saya kan tinggal ngikut saja.” Padahal, betapa Allah memberi kita kelebihan akal untuk bisa dimaksimalkan agar tidak sekadar mengekor kepada orang lain. Karena nanti di Yaumul Hisab, semua orang akan membawa amalnya sendiri-sendiri meskipun mereka saling tuding menimpakan kesalahan pada orang lain.

…Tidak pada tempatnya lagi kita beramal tanpa ilmu. Jangan melihat siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan…

Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa jangan melihat siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan. Karena bukan tidak mungkin hikmah atau kebaikan itu berasal dari lisan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Bukan tidak mungkin seorang yang masih muda usia bisa mengeluarkan kata-kata bijak dibandingkan dengan seorang yang sudah lebih tua secara umur. Karena sungguh, kebijakan seseorang itu bukan diukur dari segi usia semata tapi lebih kepada kematangan pemahanan dia memaknai kehidupan.

Tidak pada tempatnya lagi kita beramal tanpa ilmu. Tidak saatnya lagi kita berargumen katanya si A, si B, si C. Tidak saatnya lagi kita menutup mata bahwa ada kebenaran di luar sana yang mungkin saja lebih benar daripada apa yang kita yakini selama ini. Asal dasar dari semua alasan yang ada jelas, bukan sekadar mengikut kyai atau nyai tertentu. Dan bila kasus di atas terjadi pada dirimu, maka cobalah memahamkan ortu dengan baik dan sabar. Karena bagaimana pun kamu tidak boleh kasar terhadap mereka.

Hal itu bisa menjadi pembelajaran bagi kamu bahwa jangan sampai ke depannya meremehkan masukan dari siapa pun, bahkan bila orang itu secara usia lebih muda. Karena sesungguhnya setiap diri akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang diusahakannya. So, mulai sekarang jangan suka meremehkan kebenaran tak peduli dari lisan siapa kata-kata itu tersampaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: