Keberadaan Sang Pencipta

Sememangnya, apabila berada di tengah-tengah keberadaan alam semesta yang sempurna ini kita pasti akan mempertanyakan tentang adanya pencipta. Sangat aneh dan tidak masuk akal, seakan- akan menjadi sebuah peryataan yang dipaksakan apabila kita mengatakan tidak ada pencipta dibalik semuanya ini. Namun, masih sering terjadi, banyak orang yang masih mempertanyakan keberadaan sang pencipta dan lebih menyedihkan lagi hal itu terjadi di kalangan ahli akademik dan ilmuwan yang harusnya lebih tunduk dan memahami keMahaBesaranNya.

Terdapat segolongan manusia yang mempertanyakan mengenai keberadaan tuhan. Ada atau tidak ada, berbagai anggapan muncul seperti pendapat yang mengatakan bahawa Tuhan itu tidak ada dan alam semesta tercipta dengan sendirinya.

Diskusi yang dilemparkan oleh golongan yang tidak percayakan tuhan ini, sesungguhnya tidak mungkin membuatkan kita sebagai seorang muslim terus diam. Terdapat orang yang berfikir sia-sia untuk mengadakan perbincangan dengan orang-orang seperti itu tetapi persoalan ini adalah soal keyakinan yang sangat penting dalam hidup  kita dan siapapun boleh terpengaruh dengan golongan yang rosak ini.

Maka dengan pengetahuan yang seadanya mengenai kepercayaan kita akan keberadaan tuhan, kita harus cuba untuk mengetengahkan pemikiran Islam yang ada pada kita dan berdoa serta berharap perbincangan seperti itu tidak menjadi pertengkaran lidah dan masih memakai kaedah perbincangan yang baik. Semoga perbincangan ang dilontarkan oleh kita menghasilkan kebaikan yang diredhai oleh Allah. Didalam situasi kita pada hari ini, kita berhadapan dengan umat Islam ang tidak kuat pegangan, non-muslim cina india dan juga sebahagian Orang Asli yang masih tidak percayakan Allah. SANGAT DIMOHON AGAR SEMUA TURUT  TERLIBAT BERDAKWAH agar umat Islam kembali bangkit dan lebih ramai manusia yang berbondong-bondong masuk Islam sehingga menjadi bekal bagi kita di akhirat kelak.

Buktikan Kewujudan Tuhan

Pembahasan tentang tuhan merupakan pembahasan sejarah peradaban, sejak manusia mulai bisa mengamati alam sekitarnya maka semenjak itulah pembahasan tentang tuhan dimulai. Namun sampai hari ini, pembahasan tentang tuhan selalu menjadi tanda tanya berlebihan yang sengaja diputar-belitkan oleh pihak tertentu.

Untuk mengetahui ada tidaknya The Creator maka kita harus menjawabnya secara mandiri (independen) dengan rasionaliti sebab dengan menjawab pertanyaan ada tidaknya The Creator akan membawa pemahaman baru akan pandangan kita terhadap segala sesuatu sepanjang hidup kita. Sehingga bila pencarian tersebut bersifat doktrin dan input yang dipaksakan dan diperoleh tanpa dibuktikan secara mandiri dengan akal kita sendiri maka akan menjadi sebuah kehampaan dan keraguan akan apa yang kita lakukan di dunia ini. Apa yang kita lakukan di dunia ini? apakah berkaitan dengan Sang pencipta kalaupun ia ada? Maka pertanyaan-pertanyaan ini akan menggelisahkan bila kita tidak mampu menjawabnya dengan tepat.

Untuk mengetahui ada tidaknya The Creator maka titik awal objek pembahasan kita adalah semua hal yang mampu kita indera, capai dan lihat kerana realiti yang berada di sekitar kita adalah realiti inderawi (keadaan yang tercipta kerana pencerapan indera terhadap objek dan diproses dalam otak dengan mengaitkan informasi sebelumnya mengenai objek tersebut). Bila kita melihat realiti benda yang ada di dunia ini, maka kita akan menemukan bahawa semua yang mampu diindera dan difikirkan memiliki sifat memerlukan suatu sistem atau peraturan. Contoh : Bila 2 atom hidrogen berinteraksi dengan 1 atom oksigen maka akan terbentuk air.

Pertanyaannya adalah “mengapa harus 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen”. Contoh lain : Air bila berinteraksi dengan panas dengan temperatur 99.63 C maka ia akan mendidih menjadi wap. pertanyaan lagi, “mengapa harus pada 99.63 C? ”. Itu hanyalah contoh dari 2 perkara (air dan wap air), apabila kita melihat seluruh benda yang mampu kita indera, maka semuanya terbentuk kerana interaksi unsur yang lebih kecil daripadanya dengan hukum dan ketentuan yang tertentu. Dari manakah hukum dan ketentuan ini datang? Mungkin kita akan meletakkan apa-apa/siapa saja yang menentukan hukum dan syarat-syarat pada interaksi ini:
1. Berasal dari salah satu zat yang berinteraksi. Dalam masalah air, apakah ia boleh terhasil dengan hidrogen saja atau oksigen saja? Maka hal ini adalah mustahal bin mustahil sebab kedua zat tersebut tunduk pada suatu hukum tertentu secara mutlak. Kedua zat tersebut, sekiranya oksigen dan hidrogen itu sendiri yang menentukan hukum dan ketentuan ini, maka ia pasti akan mampu mengingkari dan terlepas dari ketentuan ini. Sekiranya sedemikian, si Hidrogen boleh saja menawar pada proses interaksi ini misalnya hanya 1.5 atom saja yang ia berikan atau hanya satu saja pada interaksi ini atau bahkan apabila 2 atomnya digabungkan dengan 1 atom oksigen ia pasti mampu untuk menolak menjadi air namun pada kenyataannya tidak, si hidrogen dan oksigen “dipaksa” menjadi air bila ada 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen bertemu. Maka kemungkinan bahawa hukum dan ketentuan ini berasal dari salah satu zat adalah impossible.
2. Dari karakteristik kedua zat tersebut bila bertemu. Ini juga impossible sebab, sekiranya kenyataan ini benar maka kedua zat boleh besepakat untuk membentuk atau tidak membentuk air bila bertemu (2 atom H dan 1 atom O) tetapi masih juga tidak. Mereka “dipaksa” untuk menjadi air apabila syarat bilangan yang ada dipenuhi. jadi kemungkinan inipun mustahil.
3. Apabila tidak berasal dari hidrogen dan oksigen itu sendiri maka pasti dari luar hidrogen dan oksigen itu. Maka sistem hukum dan ketentuan alam ini haruslah berada di luar alam itu sendiri. Nah, dengan kesimpulan ini maka boleh dikatakan bahawa hidrogen dan oksigen itu dicipta oleh sesuatu yang menentukan hukum dan syarat-syarat tersebut. Perkara-perkara itu tidak mungkin secara sendirinya melahirkan apapun dari tidak ada menjadi ada, kerana ia memerlukan hukum dan ketentuan yang berasal dari luar dirinya untuk melahirkan sesuatu. Boleh kita katakan, bahawa yang menentukan ketentuan inilah yang menciptakannya. Sehingga, Dia-lah The Creator. Dia harus berada di luar daripada benda (hidrogen dan oksigen). Tidak terikat oleh semua ikatan dan ketentuan benda (waktu, ruang dan keadaan). Dia “independent”. Dia wajib azali (tidak terbatas) kerana apabila ia tidak azali maka ia adalah creature sebab kelahirannya diharuskan pada ketentuan batas tertentu. Keberadaan-Nya sebagai pencipta yang mewajibkan-Nya bersifat Azali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: