Archive for May, 2010

Matlamat Hidup Seorang Muslim di Dunia

May 29, 2010

Mukadimah

Seorang muslim sudah seharusnya memahami hakikat hidupnya di dunia: Dari mana ia berasal, untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidupnya, serta kemana setelah mati? Sudah sewajarnya bila setiap muslim memahami hal ini. Pemahaman akan hakikat hidup sangatlah penting, oleh kerana ia akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang. Teramat pentingnya persoalan ini, sampai mungkin boleh dikatakan, janganlah kita hidup sebelum memahami apa sebenarnya hakikat hidup kita itu.
Tapi kebanyakan muslim masih tidak memahami, bahkan kehilangan makna hidupnya yang hakiki ini. Ada yang terhanyut oleh pola hidup sekular, ada pula yang acuh tak acuh menjalani hidupnya. Padahal, memahami hakikat hidup bukan hal yang sukar bagi seorang muslim. Allah SWT telah memberikan bekal dan potensi pada diri manusia, berupa daya fikir (akal) dan fitrah yang melekat pada manusia sejak dia diciptakan oleh Allah SWT. Allah SWT telah memberikan pancaindera, sebagai salah satu unsur penting untuk proses berfikir.
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An Nahl : 78)
Semua bekal ini semestinya digunakan dengan sebaik-baiknya, agar pada gilirannya ia dapat memahami hakikat hidupnya di dunia. Kegagalan manusia dalam memahami hakikat hidupnya, tiada lain kerana kelalaian dan keengganannya menggunakan bekal-bekal tersebut, sehingga arah dan orientasi hidupnya menjadi tidak jelas atau menyimpang dari jalan yang semestinya. Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yang dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Orang sesat seperti ini dicap oleh Allah SWT bagaikan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi daripada itu.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) , dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raaf : 179)
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahawa mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al Furqaan : 43-44)
Jelaslah, memahami hakikat hidup merupakan suatu hal yang sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup, akan membuat seseorang menjalani hidup bagaikan layang-layang putus yang bergerak mengikuti kemana angin berhembus, atau bagaikan kapal berlayar tanpa nakhoda yang mungkin saja ditumbuk karang, atau dihempaskan ombak ke mana saja tanpa tujuan. Ertinya, seorang muslim mudah sekali tersesat, atau bahkan tak mustahil menjadi murtad tanpa dia sedari, sehingga amalnya di dunia menjadi sia-sia bagaikan fatamorgana atau debu beterbangan.
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqaan : 24)
Definisi Hidup
Hidup dapat didefinisikan dari dua aspek. Pertama, aspek biologi dan kedua, aspek sosiologi. Dari aspek biologi, hidup (al- hayah) adalah sesuatu yang maujud (ada) dalam makhluk hidup (asy-syai`u al- qaa`im fi al- ka`ini al- hayyi). Dalam pengertian ini, hidup difahami sebagai esensi yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang membezakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu benda mati secara asli, seperti batu, mahupun benda mati dalam erti benda yang sebelumnya berasal dari benda hidup, seperti kayu. Hidup, dengan demikian, nampak dan eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti keperluan akan nutrisi, gerak, peka terhadap rangsangan, pertumbuhan, dan perkembang-biakan. Lawan dari hidup dalam pengertian biologi ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati kerana tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah membujur kaku di kamar jenazah disebut telah mati, kerana telah hilang darinya tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya.
Secara sosiologi, hidup berkait erat dengan segala perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Ketika menerangkan pengertian isti`naful hayatil Islamiyah (melanjutkan kehidupan Islam), Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Manhaj Hizbu al-Tahrir, menyebutkan bahawa hidup (al-hayah) adalah seluruh interaksi yang dilakukan manusia (jami’u alaaqati al-nas). Dalam perspektif ini, hidup bererti menyangkut seluruh aktiviti manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Tatkala manusia melakukan aktivitinya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain, bererti dia telah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Ertinya, dia telah menjalani atau “mengisi” hidupnya.
Keterbalikan dari hidup dalam pengertian ini, adalah tiadanya interaksi di antara manusia. Seseorang mungkin saja mengisolasi dirinya (beruzlah) dari masyarakat, atau boleh saja sebuah kota dibom sehingga seluruh penduduknya mati. Maka, kita dapat mengatakan bahawa orang yang beruzlah tadi telah “mati”, atau kota tadi telah “mati”, kerana pada keduanya tak terdapat interaksi antara manusia yang menjadi petanda adanya sebuah kehidupan.
Walaupun pengertian hidup dapat dibezakan dalam erti biologi dan sosiologi, namun keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebab, hidup dalam erti biologi, adalah syarat bagi adanya hidup dalam erti sosiologi. Tak akan ada hidup dalam pengertian sosiologi, kecuali dengan adanya hidup dalam pengertian biologi. Meskipun mungkin saja terdapat hidup dalam makna biologi, tetapi tidak terdapat hidup secara sosiologi.
Al Uqdatu al-Kubro : Pertanyaan Mendasar
Dalam hidupnya, manusia sedar atau tidak, akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini, diistilahkan oleh Taqiyyuddin An Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam dengan al-Uqdatu al-Kubro. Secara harfiah, al-Uqdatu al-Kubro ertinya adalah simpul yang besar. Pertanyaan mendasar ini berkisar tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, yang ada dalam kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), juga mengenai apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dan sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia sekarang, dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia itu.
Dalam ungkapan lain, pertanyaan mendasar tersebut dapat dihuraikan menjadi 3 pertanyaan utama. Pertanyaan pertama, “Darimanakah manusia, hidup, dan alam semesta ini berasal?” Apakah ketiga ini ada dengan sendirinya ataukah ada yang mengadakannya? Pertanyaan ini, sebagaimana uraian Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Al-Tafkir, berkaitan erat dengan fakta bahawa manusia itu hidup di alam semesta (li anna al-insaana yahya fi al-kaun). Maka wajar bila manusia menanyakan tentang dirinya, tentang hidup (dalam erti biologi) yang ada pada dirinya dan makhluk lainnya, dan tentang alam semesta yang merupakan tempat hidupnya. Pertanyaan pertama ini, menanyakan tentang hakikat apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya).
Pertanyaan kedua, “Untuk apa manusia hidup?” Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan eksis di dalam kehidupan dunia ini (al-hayatu al-dunya). Sehingga wajar bila dalam benaknya muncul pertanyaan mengenai untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup (dalam arti sosiologis). Dalam bahasa Hafizh Shalih dalam kitabnya An Nahdhah, pertanyaan ini berhubungan dengan makna keberadaan manusia dalam kehidupan (ma’na wujudi al- insaan fi al-hayah).
Pertanyaaan ketiga, “Kemana manusia pergi setelah mati nanti?” Pertanyaan ini juga sangat wajar, kerana setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam benaknya pasti terbit pertanyaan apakah setelah kematian bererti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataupun kematian itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fasa kehidupan yang baru? Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya).
Di samping ketiga pertanyaan utama tersebut, hal penting lain yang juga menjadi pertanyaan adalah adakah hubungan (‘alaaqah/shilah) antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya) dengan kehidupan dunia kini (al-hayatu al-dunya), serta hubungan antara kehidupan dunia kini (ba’da al-hayati al-dunya) dengan apa yang ada sesudah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya). Jika ada, hubungan apakah itu?
Inilah pertanyaan-pertanyaan utama yang tercakup dalam apa yang disebut dengan Al-Uqdatu al-Kubro.

Tak disangkal lagi, semua pertanyaan dalam simpul besar (al-uqdatu al- Kubro) itu memang merupakan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang memerlukan jawapan tuntas sebagaimana halnya simpul-simpul besar pada tali yang harus diuraikan terlebih dahulu agar tali itu dapat digunakan. Bila simpul besar ini berhasil diurai, seperti diungkapkan Taqiyuddin An Nabhani, nescaya simpul-simpul cabang berikutnya akan dengan mudah diuraikan. Simpul-simpul ini adalah pertanyaan-pertanyaan praktis yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, semisal mengapa dan bagaimana kita harus bekerja mencari nafkah, bagaimana kita harus membina sebuah keluarga yang bahagia, bagaimana kita harus berpolitik dalam kehidupan bernegara, dan sebagainya.
Menghadapi pertanyaan mendasar dalam Al-Uqdatu al-Kubro yang sangat mencabar fikiran itu, sikap manusia bermacam-macam. Ada yang lari atau tak acuh terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga akhirnya mereka menjalani hidup sekadarnya saja. Tanpa makna, tanpa visi, tanpa misi. Kosong. Namun ada pula yang berhasil menjawabnya setelah berusaha mencari jawapannya dengan serius, terlepas dari benar tidaknya jawaban tersebut.
Jawapan-jawapan terhadap al-Uqdatu al-Kubro ini menurut Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami disebut dengan fikrah kulliyah (pemikiran menyeluruh) kerana jawapannya mencakup segala sesuatu yang maujud (alam semesta, manusia, dan kehidupan) di samping mencakup ketiga-tiga fasa kehidupan yang dilalui manusia, beserta hubungan-hubungan di antara ketiganya. Jawaban itu disebutnya juga sebagai aqidah (pemikiran yang mendasar) dan qa’idah fikriyah (landasan pemikiran). Disebut aqidah, kerana sememangnya jawapan terhadap al-Uqdatu al-Kubro merupakan pemikiran yang mendasar. Dan disebut qa’idah fikriyah, kerana jawapan itu merupakan basis pemikiran yang di atasnya dapat dibangun pemikiran-pemikiran cabang tentang kehidupan.
Maka, jawaban terhadap al-Uqdatu al-Kubro bisa beraneka macam, bergantung kepada aqidah (keyakinan) yang dianut seseorang.
Jawaban Islam Terhadap Al-Uqdatu al-Kubro

Jawaban Islam terhadap al-Uqdatu al-Kubro bersumber Al Qur`an dan As Sunnah. Keduanya keduanya merupakan wahyu yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad sebagai petunjuk hidup.
1. Jawaban pertanyaan “Dari Mana Manusia Hidup?”
Terhadap pertanyaan “Dari manakah manusia, hidup, dan alam semesta berasal?”, maka Islam memberikan jawapan bahawa ketiga hal tersebut diciptakan oleh Allah SWT, tidak maujud dengan sendirinya. Dengan kata lain, apa yang ada sebelum kehidupan dunia (qabla al-hayati al-dunya), adalah Allah SWT. Jawapan ini diterangkan dalam banyak nash, di antaranya,
“Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al Baqarah : 21)
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al Infithaar : 6-7)
“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati lalu Allah menghidupkan kalian; kemudian Allah mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?” (QS Al Baqarah : 28)
Ayat-ayat di atas menegaskan dengan jelas bahawa asal manusia adalah kerana diciptakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya, tercipta semata-mata kerana proses-proses alam, atau tercipta melalui evolusi dari organisme lain yang lebih sederhana. Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan membuatnya hidup di dunia sampai batas waktu tertentu untuk kemudian nanti dikembalikan lagi kepada-Nya.

2. Jawaban pertanyaan “Untuk Apa Manusia Hidup?”
Terhadap pertanyaan “Untuk apa manusia hidup?” Islam menjawab, bahawa manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Iaitu untuk mentaati Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Misi hidup manusia ini dijelaskan Allah:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyaat : 56)
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS Al Bayyinah : 5)
Ibadah menurut kamus Al Muhith karya Imam Al Fairuz Abadi, secara bahasa ertinya adalah taat (patuh, tunduk). Sedang menurut istilah, sebagaimana dihuraikan oleh Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islami ibadah memiliki dua erti: erti umum dan erti khusus. Erti secara umum – ini pula yang dimaksud dengan ibadah dalam kedua ayat di atas – adalah mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Adapun arti ibadah secara khusus adalah ketaatan kepada hukum syara’ yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya, seperti solat, zakat, haji, do’a, dan sebagainya.
Merealisasikan ibadah dalam erti umum inilah yang secara konkrit merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakikat hidup manusia di dunia, dan ini pula yang wajib menjadi landasan segala aktivitinya. Realisasi ibadah terwujud ketika seorang muslim mengikatkan dirinya dengan hukum-hukum syara’ dalam segala aktivitinya, baik ketika berhubungan dengan Rabb-nya dalam bidang aqidah dan ibadah, berhubungan dengan dirinya sendiri dalam bidang akhlak, makanan, minuman, dan pakaian, mahupun berinteraksi dengan sesamanya dalam bidang mu’amalah dan uqubat (hukuman dan sanksi).
Ketika seorang muslim menjalankan solat lima waktu, mengeluarkan zakat setiap tahun, berpuasa di bulan Ramadhan, beribadah haji, bertaubat, atau membaca Al Qur`an disebut sedang melaksanakan ibadah (dalam erti khusus). Begitu pula tatkala dia bekerja secara profesional dengan etos kerja tinggi didukung keahlian dan sikap amanah, mendidik anak dengan cara Islam, menepati janji, mengkaji ajaran Islam, mempedulikan keadaan kaum muslimin yang lain, aktif berdakwah atau dalam kegiatan keIslaman, bersabar tatkala mendapat musibah, memerintahkan isteri atau anak perempuannya berjilbab, menziarahi teman yang sakit, bermusyawarah, menjaga kesihatan dan kebersihan dan sebagagiannya dia pun juga tengah menjalankan misi ibadah.
Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas, melakukan korupsi dan manipulasi, memberi atau menerima suap, berbohong, berzina, meneguk minuman keras, menagih dadah, mengunjungi pub/disko, membantu terjadinya penzinaan, suka menzalimi orang lain dan sebagainya, dikatakan ia telah telah melakukan maksiat kepada Allah. Bererti ia telah lupa terhadap hakikat keberadaannya di dunia. Demikian pula halnya bila dia menentang dakwah Islam, berjudi, menyatakan bahwa hukum Islam tidak layak kerana dinilai kejam, merayakan Natal bersama, melakukan pelecehan seksual, berhutang tak mau bayar, meninggalkan shalat lima waktu atau shalat Jum’at, tidak memakai jilbab; berarti dia telah lalai dari arti hakikat hidupnya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah.

3. Jawaban pertanyaan “Kemana Manusia Setelah Mati?”
Terhadap pertanyaan, “Kemana manusia setelah mati?”, Islam menjawab, bahawa setelah kematian akan ada Hari Kiamat (Yaumu al- Qiyamah). Islam menegaskan bahawa kehidupan tidaklah hanya ada di dunia saja, tapi juga di akhirat, yang mahu tidak mahu pasti akan dilalui manusia. Manusia adalah mahluk Allah, berasal dari Dia dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pada hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan lagi dari kuburnya untuk dihisab amal perbuatannya oleh Allah SWT, lalu ditentukan tempat selanjutnya: di sorga atau neraka.
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di Hari Kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16)
“Apakah manusia mengira, bahawa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS Al Qiyaamah : 3-4)
Ketika dibangkitkan dari kuburnya, manusia dalam keadaan telanjang bulat. Sabda Nabi SAW :

“Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat tanpa alas kaki, telanjang bulat, dan tidak berkhitan. ‘Aisyah bertanya,’Ya Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?’ Rasulullah menjawab,’Hai ‘Aisyah, pada saat itu perkara (Hari Kiamat) sangat dahsyat sehingga orang tidak akan memperhatikan hal itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Pada Hari Kiamat itu keadaan manusia yang dibangkitkan beraneka ragam sesuai dengan iman dan amal perbuatannya di dunia.
“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS Al Zalzalah : 6-8).
Orang-orang kafir yang tak mempercayai Hari Kiamat akan benar-benar terkejut dibuatnya.
“Dan ditiupkan sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan Dzat yang Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya” (QS Yasin : 51-52)
Kerana penyesalan yang teramat sangat, sampai-sampai orang-orang kafir saat itu berharap alangkah baiknya seandainya dulu di dunia menjadi tanah saja !
“Dia mengatakan,’Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS Al Fajr : 24)
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (hai orang kafir) seksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang orang kafir berkata,”Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (QS An Naba` : 40)
Adapun orang muslim yang banyak berbuat dosa juga akan menyesal mengapa semasa hidup di dunia tidak menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya dan telah mengambil teman (panutan) yang sesat dan menyesatkan.
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata,’Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur`an ketika Al Qur`an itu telah datang kepadaku…” (QS Al Furqaan : 27-29)
Sedangkan orang-orang muslim yang taat menjalankan ketentuan-ketentuan ajaran Islam ketika di dunia tidak mengalami kegoncangan atau kekerasan pada Hari Kiamat. Nabi Muhammad SAW menyabdakan :
“Orang-orang ahli Laa ilaaha illallah (yang mengucapkan kalimat tersebut dan menunaikan haknya/konsekuensinya) tidak akan mengalami kegoncangan tatkala wafat, di alam kubur, dan tatkala dia dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka–ketika ditiup sangkakala yang kedua (saat dibangkitkan dari kubur)— sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata,’Segala puji bagi Allah, yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (HR. Abu Ya’la)
Setelah dibangkitkan, manusia kemudian dihisab oleh Allah SWT. Pada saat itu Allah SWT akan menanyakan segala amal baik dan amal buruk yang pernah dilakukan manusia di dunia, baik amal yang kecil dan remeh, maupun amal yang besar dan agung. Pada saat itu, tiap manusia bahkan dapat membaca sendiri catatan amal perbuatannya dalam sebuah kitab yang diberikan kepada mereka.
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al Hijr : 92-93)
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Kedua telapak kaki seorang anak Adam di Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai 5 (lima perkara) : tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukannya, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR Ahmad).
Allah SWT berfirman bahwa manusia akan membaca catatan amalnya sendiri selama hidup di dunia :
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali pada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).“ (QS Al Insyiqaq : 7-12)
“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduh celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang mereka telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun jua.” (QS Al Kahfi : 49).
Setelah itu manusia akan digiring ke tempat dimana timbangan amal perbuatannya diletakkan.
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al Anbiyaa` : 47).
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS Al Qari’ah : 6-9).
Setelah tahapan ini selesai, manusia akan dimasukkan ke dalam neraka atau syurga. Orang kafir, baik dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) atau orang musyrik, akan dicampakkan ke neraka dengan diseret atas muka mereka selamanya. Orang muslim yang lebih banyak dosanya daripada amal baiknya, akan masuk neraka untuk sementara waktu sesuai yang dikehendaki Allah. Selanjutnya masuk surga. Sabda Nabi SAW :
“… Allah memerintahkan para malaikat mengentas dari neraka itu orang-orang yang tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan syirik. Iaitu mereka yang mengucap Laa ilaaha illallah. Orang-orang ini dapat diketahui melalui ciri khasnya, yakni di wajahnya ada bekas sujud. Api yang membakar tubuh manusia itu tidak sampai melahap bahagian-bahagian tubuh yang pernah bersujud. Dan itu memang dilarang Allah. Maka keluarlah mereka dalam keadaan terbakar. Untuk memadamkannya, disiramkanlah ke tubuh-tubuh yang hangus itu air kehidupan. Dari air itu bekas-bekas yang terbakar menjadi musnah dan membuat mereka tumbuh seperti biji-biji yang terbawa air bah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RA)
Adapun para Nabi, syuhada, ulama, shiddiqin, akan masuk ke dalam syurga-Nya dengan mendapat limpahan rahmat dan redha-Nya.
“Orang-orang (kafir) yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.” (QS Al Furqaan : 34)
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al Bayyinah : 6)
Siksa neraka begitu dahsyat. Amat berat penderitaan para penghuni neraka menanggung semua siksa. Rasul menggambarkan, siksa yang paling ringan saja cukup membuat otak mendidih.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS An Nisaa` : 56).
“Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” (QS Al Hajj : 19-20).
“Azab yang paling ringan di neraka pada Hari Kiamat adalah seseorang yang pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tersebut.” (HR. At Tirmidzi)
Adapun orang-orang mukmin, mereka akan masuk syurga yang penuh kenikmatan, seraya mendapatkan redha dari Allah Azza Wa Jalla.
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening kerananya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam syurga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al Waqi’ah : 17-24).
“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (iaitu segolongan besar dari orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.” (QS Al Waqi’ah : 25-40).
4. Hubungan Antar Fase-fase Kehidupan
Islam menjelaskan pula, antara sebelum kehidupan dunia dengan kehidupan dunia terdapat 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan penciptaan (shilatu al-khalqi). Yakni bahawa Allah SWT sajalah yang menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta ini. Kedua, hubungan perintah dan larangan (shilatu al-awamir wa al-nawahi). Ertinya Allah SWT tidak sekadar menciptakan, namun juga memberikan perintah dan larangan kepada manusia, yang termaktub dalam wahyu (Al Qur`an dan As Sunnah) yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Kedua bentuk hubungan itu dijelaskan dalam satu ayat suci Al Qur’an:
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah,Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raaf : 74)
Dalam ayat di atas, ditegaskan bahawa menciptakan (al-khalq) dan memerintah (al-amr) adalah hak Allah semata. Hak memerintah dari Allah ini terwujud dalam dua bentuk. Pertama, perintah untuk alam semesta (al-amru al-kauni) berupa hukum-hukum alam (sunnatullah) yang berlaku untuk alam semesta; Kedua, perintah hukum syara’ (al-amru al-tasyri’i) berupa hukum-hukum syara’ yang mengatur peri kehidupan manusia.
Hubungan antara kehidupan dunia (al-hayatu al-dunya) dengan apa yang ada setelah kehidupan dunia (ba’da al-hayati al-dunya) dijelaskan oleh Islam dalam 2 (dua) hubungan. Pertama, hubungan pembangkitan dan pengumpulan (shilatu al-ba’tsi wa al-nusyur). Yakni bahawa Allah SWT akan membangkitkan manusia dari kuburnya, kemudian mengumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Kedua, hubungan perhitungan amal (shilatu al- muhasabah). Yakni Allah SWT tidak sekedar membangkitkan dan mengumpulkan manusia, namun juga melakukan hisab (perhitungan) terhadap amal perbuatan manusia tatkala hidup dunia, apakah ia beriman kepada Allah atau tidak; bila beriman, apakah ia menjalankan perintah-Nya atau tidak serta menjauhi larangan-Nya atau malah mengerjakannya.
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat.” (QS Al Mukminun : 15-16).
Tentang hisab atau perhitungan amal baik dan buruk manusia, Allah menjelaskan:
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. (QS Al Hijr : 92-93).
Demikianlah jawaban Aqidah Islamiyah yang sangat jelas terhadap al-Uqdatu al-kubro.
Penutup
Jawaban Islam tentang al-uqdatu al-kubra yang bersumber dari wahyu Allah adalah jawaban yang sahih, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.
“Alif laam miim. Kitab (Al Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 1-2)
Dengan jawaban tuntas yang diberikan Islam tentang tiga pertanyaan mendasar “dari mana manusia berasal?”, “untuk apa manusia hidup?” dan “kemana setelah mati?”, tersingkaplah dengan begitu mudah hakikat hidup seorang muslim, yakni untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakannya di dunia, agar kelak bisa hidup bahagia kekal abadi di syurga. Maka, hidup seorang muslim adalah hidup dengan misi yang agung, hidup yang terarah dan mantap, serta hidup yang bermutu tinggi dengan keyakinan akan kegemilangan hidup hakiki yang abadi di akherat kelak.
Wallahu a’lam bi al-shawab

Aqidah Islam: Persoalan Tertinggi dalam Hidup

May 27, 2010

Sebelumnya datangnya Islam bangsa Arab adalah bangsa yang tidak diperhitungkan di mata dunia. Namun, setelah Rasulullah saw datang dengan risalah Islam mereka pun menjadi mulia dan terhormat; bukan hanya dari sisi keperibadian mereka, namun juga negara dan peradaban yang mereka bangunkan. Hal tersebut setidaknya tercermin dari pernyataan Umar bin al-Khaththab ra.:

إنَّا كنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِاِلإسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ أَذَلَّنَا اللهُ

Kami dulunya adalah kaum yang paling hina. Lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Kerana itu, jika kami mencari kemuliaan selain dari apa yang dengannya Allah telah muliakan kami maka Ia pasti menghinakan kami (HR al-Hakim; ia mensahihkannya dan disepakati oleh ad-Dzahabi).

Berbeza halnya dengan umat Islam saat ini. Meski akidah Islam tetap ada pada diri mereka, mereka masih mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan. Padahal mereka sesungguhnya adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia (lihat QS Ali Imran [3]: 110).

Salah satu penyebabnya adalah akidah Islam yang saat ini mereka anut tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Hal tersebut setidaknya terlihat pada tiga hal. Pertama: hilangnya ikatan akidah dengan pemikiran dan sistem Islam sehingga akidah tersebut tidak produktif. Kedua: hilangnya hubungan antara akidah dengan Hari Kiamat. Akibatnya, umat tidak berupaya agar kehidupan mereka diarahkan untuk menggapai indahnya kehidupan syurga dan menjauhi pedihnya azab neraka dengan berlomba-lomba meraih redha Allah SWT. Ketiga: akidah Islam juga tidak lagi dijadikan sebagai pengikat ukhuwah di kalangan umat Islam sehingga mereka terpecah-belah dalam berbagai bangsa dan negara.

Lalu bagaimana caranya menjadikan umat Islam kembali bangkit dengan akidah Islam yang mereka anut?

Pertanyaan tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam Kitab Nizhâm al-Islâm bab “Tharîq al-imân” karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, yang akan ditelaah lebih lanjut dalam tulisan ini.

Asas Kebangkitan

Bab “Tharîq al-Imân” dalam buku ini bermaksud menjelaskan bagaimana membangkitkan umat Islam dari kemudurannya dengan cara yang benar.

Kebangkitan yang hakiki menurut Syaikh An-Nabhani bukanlah berupa kemajuan dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, akhlak ataupun ketenteraan; namun pada peningkatan taraf berpikir. Pemikiran menjadi hal utama kerana ia yang menentukan baik-buruknya tingkah laku seseorang atau umat dalam menjalani kehidupannya. Selain itu, kemajuan dalam bidang-bidang di atas dapat dengan mudah diperoleh jika telah terjadi peningkatan taraf berpikir pada diri mereka.

Namun demikian, peningkatan taraf berpikir yang dimaksud bukan sekadar kerana adanya perubahan dan peningkatan apa yang difikirkan, misalnya dari sekadar memikirkan diri sendiri lalu meningkat dengan memikirkan keluarga atau umat manusia. Selama peningkatan taraf berfikir tersebut tidak dibangun oleh satu pandangan hidup tertentu maka perubahan yang dihasilkan tidak akan berkekalan kerana mudah berubah, tidak mampu memberikan ketenangan hidup serta tidak dapat memecahkan berbagai persoalan hidup manusia. Dengan demikian, orang tersebut tidak akan pernah bangkit.

Lalu pemikiran apa yang dapat membangkitkan manusia? An-Nabhani menjelaskan bahawa pemikiran tersebut adalah akidah, yakni pemikiran yang menyeluruh tentang:

a) Manusia, alam semesta dan kehidupan; apakah ketiganya diciptakan atau tidak.

b) Sebelum kehidupan; apakah ada pencipta atau tidak.

c) Setelah kehidupan; apakah ada Hari Kiamat atau tidak.

d) Hubungan manusia, alam dan kehidupan dengan sebelum dan setelah kehidupan; jika memang ada pencipta, bagaimana hubungannya dengan manusia di dunia; jika ada Hari kemudian, bagaimana hubungannya dengan kehidupan manusia di alam ini.

Dengan cakupan pemikiran yang mendasar (asâsiyyah) dan menyeluruh (syumûliyyah) tersebut, maka akan dapat dibangun di atasnya berbagai pemikiran cabang, yakni pemikiran dapat memberikan jawapan atas segala persoalan hidup manusia sehingga manusia dapat mengalami kemajuan dan kebangkitan.

Meski demikian, pemikiran yang menyeluruh tersebut belum menjamin bahawa kebangkitan yang dihasilkan adalah kebangkitan yang benar. Oleh kerana itu, pemikiran tersebut harus memenuhi dua kriteria. Pertama: harus sesuai dengan akal sehingga seseorang merasa puas dengan hujah (dalil) yang menjadi dasar pemikiran tersebut. Kedua: sesuai dengan fitrah manusia, yakni harus dapat memenuhi naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada diri manusia, yakni adanya sifat lemah dan terbatas pada dirinya sehingga ia memerlukan pelindung dan pengatur. Dengan demikian maka pemikiran tersebut mampu memberikan ketenangan pada dirinya.

Agar pemikiran di atas dapat memuaskan akal dan memenuhi naluri beragama pada diri manusia maka untuk mencapainya harus ditempuh dengan proses berpikir secara jernih (al-fikr al-mustanîr). Proses berfikir yang jernih adalah proses berfikir yang mendalam (‘amîq) tentang suatu objek di atas, dikaitkan dengan apa yang ada di sekitarnya, dan yang berhubungan dengannya untuk mencapai hasil yang benar. Pentingnya proses berfikir jernih tersebut kerana pemikiran yang akan diperoleh tersebut akan menjadi asas kehidupan dan pandangan hidup sehingga ia memustahilkan adanya kesalahan sekecil apapun. Kesalahan hanya mungkin terjadi pada pemikiran cabang yang berasal dari asas tersebut.

Dalil Akidah

Kerana objek akidah di atas berkaitan dengan penetapan (itsbât) tentang hakikat sesuatu secara pasti maka ia pun harus dilandasi oleh dalil yang menyakinkan (qath’i) sehingga apa yang diyakini tersebut memang sesuai dengan realiti. Oleh kerana itu, akidah yang juga diistilahkan dengan iman didefinisikan sebagai at-tashdîq al-jâzim al-muthâbiq li al-wâqi’ (pembenaran secara pasti yang sesuai dengan realiti dan didasarkan pada dalil).

Syaikh an-Nabhani kemudian menjelaskan bagaimana akidah Islam dibuktikan dengan proses berfikir yang jernih dengan mengetengahkan dalil yang meyakinkan (qath’i). Pemikiran tentang alam, manusia dan kehidupan akan menghasilkan jawapan bahwa ketiganya terbatas dan lemah. Segala sesuatu yang lemah pasti memerlukan yang lain. Jika demikian maka ia pasti diciptakan. Dengan hujah demikian maka manusia pasti akan sampai pada kesimpulan akan adanya pencipta sekaligus pengatur ketiga hal tersebut. Dengan kata lain, ia telah sampai pada pemikiran tentang sebelum kehidupan dunia bahwa ketiganya diciptakan oleh Al-Khâliq.

Di dalam kitab Syakhsiyyah Islamiyyah I dan Naqd al-Isytirâkiyyah al-Marksiyyah dihuraikan lebih jauh mengenai dalil tentang kepastian adanya pencipta dan bantahan terhadap pandangan pihak-pihak yang menafikannya. Metod pembuktian seperti ini sejalan dengan metod al-Quran dalam menuntun manusia mengimani Allah SWT dengan cara mengajak mereka memikirkan hal-hal yang dapat diindera manusia di alam ini.

Syaikh An-Nabhani kemudian menjelaskan bahawa manusia hanya dapat berfikir pada hal-hal yang berada dalam jangkauan inderawinya. Dengan demikian, nama, zat dan sifat pencipta dan pengatur tersebut mustahil dapat diketahui oleh akal. Jika dipaksakan maka hanya akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang spekulatif sehingga tidak dapat diyakini kebenarannya. Padahal Islam mewajibkan akidah diyakini secara penuh dan tidak boleh ada keraguan sedikit pun. Selain itu, terdapat sejumlah nash yang mengharamkan untuk meyakini hal-hal yang bersifat spekulatif.

Di sinilah pentingnya pemahaman yang benar terhadap hakikat akal sehingga ia dapat ia difungsikan dengan tepat. Kekeliruan dalam memahami hakikat akal akan berakibat fatal dalam memahami dan meyakini persoalan yang berkenaan dengan akidah sebagaimana yang menimpa para mutakallimin. Kekeliruan tersebut bukan hanya telah menjadikan pembahasan akidah menjadi berjele-jele dan sulit, namun juga telah memberikan dampak yang serius bagi kemunduran umat Islam.

Untuk meyakini hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal maka diperlukan sumber lain yang dapat menjelaskan hal tersebut. Namun demikian, sumber tersebut tentu harus diyakini kebenarannya oleh akal manusia agar penjelasannya dapat diyakini. Untuk itulah diutus seorang rasul yang dibekali mukjizat sehingga setiap orang yang menyaksikan mukjizat tersebut dengan proses berfikir yang jernih yakin bahawa ia adalah utusan sang pencipta. Kehadiran seorang rasul juga merupakan cara untuk memenuhi naluri pada manusia untuk beribadah kepada pencipta tersebut dan adanya aturan yang mengatur dirinya yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan.

Di dalam Islam, rasul yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw dan mukjizatnya adalah al-Quran. Al-Quran juga berfungsi sebagai petunjuk kepada umat manusia tentang bagaimana menjalani kehidupan ini sesuai dengan aturan Penciptanya, Allah SWT. Penetapan bahwa al-Quran berasal dari Allah juga dengan menggunakan akal kerana terbukti tidak seorang pun yang dapat menandingi kehebatan gaya bahasanya baik oleh orang Arab hatta Nabi Muhammad saw. sekalipun.

Setelah terbentuk keyakinan terhadap al-Quran maka secara automatik seluruh isi kandungannya akan diyakini; seperti keimanan terhadap para nabi dan rasul sebelum Muhammad saw beserta kitab suci mereka, keimanan kepada Malaikat, dan keimanan pada kehidupan setelah dunia ini, yakni Hari Kiamat. Dengan demikian, terjawab sudah pemikiran tentang kehidupan setelah dunia, yakni akhirat, dan hubungannya dengan kehidupan manusia di dunia, iaitu bahawa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan di dunia ini apakah sesuai dengan aturan Allah SWT atau tidak. Bagi yang taat diganjarkan syurga, sementara yang ingkar akan dibalas dengan siksa neraka.

Output

Kerana sifatnya yang mendasar dan menyeluruh serta diperoleh dengan proses berfikir yang jernih sehingga memberikan pembenaran yang pasti, maka akidah Islam merupakan landasan yang sangat kuat yang menghasilkan berbagai pemikiran cabang dalam seluruh kehidupan manusia. Dengan kata lain, akidah Islam merupakan landasan ideologi yang didefinisikan sebagai akidah yang diperoleh melalui proses berfikir yang melahirkan sistem kehidupan.

Dengan sifat tersebut, seseorang yang meyakini akidah Islam akan tunduk pada seluruh hukum-hukum yang bersumber dari akidah tersebut, yakni syariah Islam secara menyeluruh tanpa membezakan antara satu dengan yang lain seperti antara solat dan Khilafah, zakat dan jihad fi sabilillah, thaharah dan qishâsh, dll.

Seseorang yang meyakini akidah Islam yang benar akan menjadikan akidah tersebut sebagai dasar bagi seluruh pemikiran (’aqliyyah) dan kejiwaan (nafsiyyah)-nya. Ia pun akan berupaya untuk menerapkan seluruh hukum-hukum yang terpancar dari akidahnya dalam sebuah negara kerana metod kebangkitan hanya dapat diraih dengan menerapkan suatu pemerintahan yang berdasarkan akidah. Inilah yang terjadi pada bangsa Arab yang bangkit dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw yang kemudian diterapkan pada suatu negara. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Eropha dan Uni Soviet yang masing-masing bangkit dengan idea sekularisme dan materialisme yang diterapkan dalam pemerintahan—meski dua yang terakhir tidak menghasilkan kebangkitan yang benar, kerana akidah yang dijadikan asas adalah akidah yang salah. Namun yang pasti, hal tersebut menjadi bukti bahawa adanya akidah semata belum cukup untuk melahirkan kebangkitan tanpa adanya negara. Wallâhu a’lam bis shawâb. []

Keberadaan Sang Pencipta

May 27, 2010

Sememangnya, apabila berada di tengah-tengah keberadaan alam semesta yang sempurna ini kita pasti akan mempertanyakan tentang adanya pencipta. Sangat aneh dan tidak masuk akal, seakan- akan menjadi sebuah peryataan yang dipaksakan apabila kita mengatakan tidak ada pencipta dibalik semuanya ini. Namun, masih sering terjadi, banyak orang yang masih mempertanyakan keberadaan sang pencipta dan lebih menyedihkan lagi hal itu terjadi di kalangan ahli akademik dan ilmuwan yang harusnya lebih tunduk dan memahami keMahaBesaranNya.

Terdapat segolongan manusia yang mempertanyakan mengenai keberadaan tuhan. Ada atau tidak ada, berbagai anggapan muncul seperti pendapat yang mengatakan bahawa Tuhan itu tidak ada dan alam semesta tercipta dengan sendirinya.

Diskusi yang dilemparkan oleh golongan yang tidak percayakan tuhan ini, sesungguhnya tidak mungkin membuatkan kita sebagai seorang muslim terus diam. Terdapat orang yang berfikir sia-sia untuk mengadakan perbincangan dengan orang-orang seperti itu tetapi persoalan ini adalah soal keyakinan yang sangat penting dalam hidup  kita dan siapapun boleh terpengaruh dengan golongan yang rosak ini.

Maka dengan pengetahuan yang seadanya mengenai kepercayaan kita akan keberadaan tuhan, kita harus cuba untuk mengetengahkan pemikiran Islam yang ada pada kita dan berdoa serta berharap perbincangan seperti itu tidak menjadi pertengkaran lidah dan masih memakai kaedah perbincangan yang baik. Semoga perbincangan ang dilontarkan oleh kita menghasilkan kebaikan yang diredhai oleh Allah. Didalam situasi kita pada hari ini, kita berhadapan dengan umat Islam ang tidak kuat pegangan, non-muslim cina india dan juga sebahagian Orang Asli yang masih tidak percayakan Allah. SANGAT DIMOHON AGAR SEMUA TURUT  TERLIBAT BERDAKWAH agar umat Islam kembali bangkit dan lebih ramai manusia yang berbondong-bondong masuk Islam sehingga menjadi bekal bagi kita di akhirat kelak.

Buktikan Kewujudan Tuhan

Pembahasan tentang tuhan merupakan pembahasan sejarah peradaban, sejak manusia mulai bisa mengamati alam sekitarnya maka semenjak itulah pembahasan tentang tuhan dimulai. Namun sampai hari ini, pembahasan tentang tuhan selalu menjadi tanda tanya berlebihan yang sengaja diputar-belitkan oleh pihak tertentu.

Untuk mengetahui ada tidaknya The Creator maka kita harus menjawabnya secara mandiri (independen) dengan rasionaliti sebab dengan menjawab pertanyaan ada tidaknya The Creator akan membawa pemahaman baru akan pandangan kita terhadap segala sesuatu sepanjang hidup kita. Sehingga bila pencarian tersebut bersifat doktrin dan input yang dipaksakan dan diperoleh tanpa dibuktikan secara mandiri dengan akal kita sendiri maka akan menjadi sebuah kehampaan dan keraguan akan apa yang kita lakukan di dunia ini. Apa yang kita lakukan di dunia ini? apakah berkaitan dengan Sang pencipta kalaupun ia ada? Maka pertanyaan-pertanyaan ini akan menggelisahkan bila kita tidak mampu menjawabnya dengan tepat.

Untuk mengetahui ada tidaknya The Creator maka titik awal objek pembahasan kita adalah semua hal yang mampu kita indera, capai dan lihat kerana realiti yang berada di sekitar kita adalah realiti inderawi (keadaan yang tercipta kerana pencerapan indera terhadap objek dan diproses dalam otak dengan mengaitkan informasi sebelumnya mengenai objek tersebut). Bila kita melihat realiti benda yang ada di dunia ini, maka kita akan menemukan bahawa semua yang mampu diindera dan difikirkan memiliki sifat memerlukan suatu sistem atau peraturan. Contoh : Bila 2 atom hidrogen berinteraksi dengan 1 atom oksigen maka akan terbentuk air.

Pertanyaannya adalah “mengapa harus 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen”. Contoh lain : Air bila berinteraksi dengan panas dengan temperatur 99.63 C maka ia akan mendidih menjadi wap. pertanyaan lagi, “mengapa harus pada 99.63 C? ”. Itu hanyalah contoh dari 2 perkara (air dan wap air), apabila kita melihat seluruh benda yang mampu kita indera, maka semuanya terbentuk kerana interaksi unsur yang lebih kecil daripadanya dengan hukum dan ketentuan yang tertentu. Dari manakah hukum dan ketentuan ini datang? Mungkin kita akan meletakkan apa-apa/siapa saja yang menentukan hukum dan syarat-syarat pada interaksi ini:
1. Berasal dari salah satu zat yang berinteraksi. Dalam masalah air, apakah ia boleh terhasil dengan hidrogen saja atau oksigen saja? Maka hal ini adalah mustahal bin mustahil sebab kedua zat tersebut tunduk pada suatu hukum tertentu secara mutlak. Kedua zat tersebut, sekiranya oksigen dan hidrogen itu sendiri yang menentukan hukum dan ketentuan ini, maka ia pasti akan mampu mengingkari dan terlepas dari ketentuan ini. Sekiranya sedemikian, si Hidrogen boleh saja menawar pada proses interaksi ini misalnya hanya 1.5 atom saja yang ia berikan atau hanya satu saja pada interaksi ini atau bahkan apabila 2 atomnya digabungkan dengan 1 atom oksigen ia pasti mampu untuk menolak menjadi air namun pada kenyataannya tidak, si hidrogen dan oksigen “dipaksa” menjadi air bila ada 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen bertemu. Maka kemungkinan bahawa hukum dan ketentuan ini berasal dari salah satu zat adalah impossible.
2. Dari karakteristik kedua zat tersebut bila bertemu. Ini juga impossible sebab, sekiranya kenyataan ini benar maka kedua zat boleh besepakat untuk membentuk atau tidak membentuk air bila bertemu (2 atom H dan 1 atom O) tetapi masih juga tidak. Mereka “dipaksa” untuk menjadi air apabila syarat bilangan yang ada dipenuhi. jadi kemungkinan inipun mustahil.
3. Apabila tidak berasal dari hidrogen dan oksigen itu sendiri maka pasti dari luar hidrogen dan oksigen itu. Maka sistem hukum dan ketentuan alam ini haruslah berada di luar alam itu sendiri. Nah, dengan kesimpulan ini maka boleh dikatakan bahawa hidrogen dan oksigen itu dicipta oleh sesuatu yang menentukan hukum dan syarat-syarat tersebut. Perkara-perkara itu tidak mungkin secara sendirinya melahirkan apapun dari tidak ada menjadi ada, kerana ia memerlukan hukum dan ketentuan yang berasal dari luar dirinya untuk melahirkan sesuatu. Boleh kita katakan, bahawa yang menentukan ketentuan inilah yang menciptakannya. Sehingga, Dia-lah The Creator. Dia harus berada di luar daripada benda (hidrogen dan oksigen). Tidak terikat oleh semua ikatan dan ketentuan benda (waktu, ruang dan keadaan). Dia “independent”. Dia wajib azali (tidak terbatas) kerana apabila ia tidak azali maka ia adalah creature sebab kelahirannya diharuskan pada ketentuan batas tertentu. Keberadaan-Nya sebagai pencipta yang mewajibkan-Nya bersifat Azali.

AQIDAH YANG MEMUASKAN AKAL DAN SESUAI DENGAN FITRAH MANUSIA

May 27, 2010

AQIDAH YANG MEMUASKAN AKAL DAN SESUAI DENGAN FITRAH MANUSIA

Pendahuluan

Akal adalah perkara terpenting yang dimiliki oleh manusia. Dengan akal manusia mampu berfikir, dan dengan berfikir, manusia mampu menentukan sikap dan tindakannya. Pemikiran (fikrah) atau pengetahuan yang masuk pada diri seseorang kemudian difikirkan dan akhirnya menjadi suatu pemahaman yang berhubungan erat dengan sikap dan tindakan. Jadi Pemahaman (mafhum) seseorang terhadap sesuatu akan menentukan sikap dan tindakannya terhadap sesuatu.

Fikrah yang sudah menjadi mafhum ini merupakan kunci jatuh bangunnya seseorang atau sesebuah umat.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah keadaannya sendiri.”(QS. Ar-Ra’d : 11)

Adapun fikrah yang mampu membawa diri atau ummat untuk bangkit adalah fikrah yang mendasar, iaitu fikrah menyeluruh yang secara langsung mempertanyakan posisi manusia di alam semesta ini dan secara langsung menjawab masalah utama yang ada pada diri manusia, iaitu pertanyaan-pertanyaan yang dibawa sejak lahir. Darimana aku datang? Untuk apa aku lahir ke dunia? Dan akan kemana aku setelah mati?

Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, hanya fikrah yang paling mendasarlah yang mampu secara langsung menjawab dan memecahkan masalah kehidupan. Fikrah yang demikian disebut AQIDAH, iaitu pemikiran yang paling mendasar dan menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia serta hubungan ketiganya (alam semesta, kehidupan, dan manusia) dengan alam sebelum dan sesudah dunia. Kalau digunakan gagasan di atas, ada tiga aqidah yang mampu menjawab pertanyaan tadi, hanyalah Aqidah Komunis, Aqidah Sosialis dan Aqidah Islam. Sebagai contoh, jawapan Komunis terhadap tiga pertanyaan utama tadi adalah :

Pertama : Manusia berasal dari benda, dan manusia tidak diciptakan oleh siapapun.
Kedua : Kerana tidak diciptakan siapapun, maka manusia dalam menjalani kehidupan di dunia bebas dalam melakukan apa jua tindakan sekalipun.
Ketiga : Kerana manusia berasal dari benda, maka apabila manusia itu, setelah binasa akan kembali menjadi benda.

Dengan demikian, masalah hidup mereka terjawab, dan mereka menjadi betul-betul bangkit, meskipun kebangkitan mereka menuju jahanam.

Sedangkan Aqidah Islam mengatakan “Tiada Tuhan selain Allah”. Ertinya beriman bahawa alam semesta beserta isinya ada penciptanya, iaitu Allah SWT. Dan Allah pun menurunkan suatu aturan baik untuk alam, kehidupan, mahupun manusia. Alam dan kehidupan menerima aturan tanpa menolak sedikit pun, sedangkan manusia diberi pilihan untuk menolak dan  juga menerima. Oleh kerana itu Allah SWT menurunkan para Rasul, dimana Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad saw. Disamping itu manusia harus beriman kepada segala apa yang tercantum dalam Al-Quran yang merupakan firman Allah SWT. Tidak ada satupun yang patut ditolak, termasuk berita-berita mengenai alam ghaib, seperti malaikat, jin, iblis, hari kiamat, hari penghisaban, adanya sorga, neraka dan sebagainya.

Pengertian Mabda’ (Ideologi)

Pengertian Mabda’ dapat ditinjau dari dua segi, iaitu :
Segi bahasa, diambil dari bahasa aslinya iaitu bahasa Arab, mabda’ berasal dari suatu bentukan masydar mimy dari kata bada’a – yabda’u – bad’an –wa mabda’an, yang ertinya memulai.
Segi Istilah, mabda’ adalah aqidah yang berdasarkan akal (Aqidah Aqliyah) yang melahirkan aturan (nidzom). Dari makna istilah dapat difahami, bahawa mabda’ adalah aqidah aqliyah yang terpancar darinya aturan. Peraturan yang lahir dari aqidah ini tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai masalah hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengembang mabda. Serta penjelasan tentang tata cara pelaksanaan pemeliharaan aqidah dan pengembangan risalah da’wah, inilah yang dinamakan thariqah (metod). Adapun selain dari itu, iaitu aqidah dan berbagai pemecahan masalah hidup dinamakan fikrah, dengan demikian mabda’ mencakup dua bahagian iaitu fikrah dan thariqah.
Mabda’ hanya ada pada manusia yang merupakan satu-satunya makhluk yang mampu menerima dan menumbuhkan mabda’ tersebut. Mabda’ yang berkembang berdasarkan akal ada dua kelompok, iaitu :

1. Mabda’ yang berasal dari wahyu Allah SWT
2. Mabda’ yang berasal dari kegeniusan seorang manusia.

Keduanya merupakan asal muasal suatu mabda’. Mabda’ yang berasal dari wahyu Allah SWT, pasti kebenarannya (qath’i/pasti) sedangkan mabda’ yang lahir dari kegeniusan seorang manuisa patut diragukan (dzonni) kerana berasal dari benak manusia yang terbatas yang bersifat dugaan, kira-kira dan ada kemungkinan salah. Juga terpengaruh dengan lingkungan kehidupan yang manusia itu diami, misalnya marxisme yang membangkitkan komunisme dan sosialisme. Mabda’ ini lahir kerana terpengaruh yang ada saat itu, iaitu Eropah Barat pada Revolusi Industri. Jadi terbatas hanya pada zaman itu saja, perubahan zaman akan diikuti perubahan keadaan dan permasalahan yang timbul akan bertukar menjadi masalah lain. Oleh itu, mabda’ yang benar adalah mabda’ yang lahir dari wahyu Allah saja, sebagai Tuhan Pencipta alam semesta yang mengetahui segala sesuatu di dalamnya termasuk manusia, lengkap dengan penyelesaiannya.

Pengertian mabda’ yang mencakup fikrah dan thariqah di atas dapat digunakan untuk menguji apakah suatu fahaman termasuk mabda’ atau bukan. Kalau kita lihat di dunia ini, hanya ada tiga mabda’ iaitu: Sekularisme, Sosialisme/Komunisme dan Islam. Mabda’ Sekulerisme dikembangkan oleh Amerika Syarikat dan sekutu-sekutunya di Eropah Barat. Mabda’ Sosialisme/Komunisme yang dulu dikembangkan oleh Rusia dan sekutu-sekutunya di Eropah Timur. Sedangkan negara-negara dunia ketiga hanyalah daerah jajahan kedua kelompok tersebut. Adapun Mabda’ Islam sekarang belum dikembangkan oleh satu negarapun. Islam masih hidup dibenak umat pengembang da’wah, itupun hanya beberapa peratus sahaja, kerana ummat Islam yang lain benar-benar telah beriman kepada Sekularisme dan Sosialisme.

Adapun fikrah dan thariqah dalam suatu mabda’ tidak menentukan Kesahihan (benar atau salah) suatu mabda’. Tapi yang menjadi petunjuk kesahihan suatu mabda’ adalah kesahihan aqidahnya. Aqidah yang sahih memiliki tiga kriteria, iaitu : sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan memberikan ketenangan batin. Mabda’ yang berlandaskan pada aqidah yang sahih adalah mabda’ sahih yang akan memperoleh kebangkitan yang sahih, iaitu kebangkitan yang mengarah kepada kebahagiaan hakiki.

Perbandingan Mabda’
Untuk mengetahui hakikat dari setiap mabda’ yang ada saat ini, kita harus membuat perbandingan yang mencakup beberapa segi diantaranya :

Asas Sekularisme/Kapitalisme

Mabda’ ini muncul kerana dosa gereja masa lalu. Sejak berkuasa di kerajaan Romawi hingga abad pertengahan di Eropah, gereja bekerjasama dengan kaum bangsawan (feudalis) yang secara terus menerus menindas rakyat. Sebodoh-bodohnya bangsa Eropah, lama-kelamaan merasa muak terhadap gereja, khususnya ketika masa Renaissance (lahir kembali) mulai muncul dan berkembang di Eropa. Sehingga terkenal satu slogan Revolusi Perancis: “Gantunglah feudalis terakhir dengan usus pendeta terakhir.” Ertinya, kedua-duanya harus dihabisi (dibunuh).
Dari sinilah lahirnya perselisihan antara kaum intelektual dengan kaum gereja yang bekerja sama dengan kaum bangsawan. Kaum gereja sebagai kaum yang mengatasnamakan Tuhan, ingin untuk berkuasa penuh. Sebaliknya kaum intelektual menghendaki dihilangkannya agama, kerana menimbulkan malapetaka bagi ummat manusia. Pendapat intelektual tersebut tidak terlepas dari keterbatasan manusia yang dipengaruhi lingkungan keadaannya. Mereka menganggap bahawa agama itu hanya Kristian, dan mereka kenal Kristian itu rosak, sehingga mereka menganggap bahawa agama itu merosakkan. Oleh kerana itu mereka bersikap keras untuk menyingkirkan agama dari kehidupan rakyat. Pergelutan terus berlangsung kerana satu pihak ingin mempertahankan kekuasaan, dan yang lain ingin merebutnya.

Setelah sekian lama, terutama setelah kaum gereja semakin ditekan, akhirnya ditemukan jalan tengah berupa kompromi, iaitu dengan memenangkan kedua belah pihak. Eksistensi gereja (agama) masih diakui, tetapi tidak boleh mengatur kehidupan. Yang mengatur kehidupan adalah manusia. Mereka menganggap Tuhan hanya sebagai pencipta makluk (God is watch maker), setelah diciptakan, makhluk itu dibiarkan berjalan sendiri. Mereka percaya, bahawa Tuhan menciptakan alam semesta ini, namun alam ini kemudian berjalan dengan sendirinya. Mereka menunjukkan adanya hukum alam sebagai bukti. Para ahli falsafah mengambil data ilmiah yang ditemukan oleh Isaac Newton (setelah membaca literatur-literatur Islam) berupa hukum “Graviti”, kemudian menyimpulkan bahawa alam ini mengatur dirinya sendiri. Oleh kerana itu mereka berkesimpulan bahawa setelah menciptakan manusia, Tuhan beristirehat dan manusia dibiarkan mengatur dirinya sendiri. Dari sinilah lahirnya Sekularisme.

Jadi Asas dari Sekulerisme adalah memisahkan agama dari kehidupan. Ertinya memisahkan agama dari hal kenegaraan kerana negara adalah lambang atau wakil dari kehidupan ummat. Jadi Sekularisme ini juga merupakan satu aqidah, kerana fahaman ini percaya adanya dunia, adanya alam sebelum dunia (pencipta) dan alam sesudah dunia (akhirat), hanya saja menganggap ketiganya tidak ada hubungan. Jadi, apapun yang dilakukan didunia ini tidak akan ditanya di akhirat, terutama yang ada hubungannya dengan gereja, sebab kehidupan dunia telah terbebas dari agama.

Komunisme

Asas Komunisme adalah Materialisme, iaitu bahawa alam semesta terdiri dari material (benda) belaka, tidak ada unsur roh sedikitpun. Material itu sendiri yang menciptakan kehidupan. Material itu abadi bahkan azali. Alam sebelun dan sesudah kehidupan dunia adalah material, sedangkan kehidupan dunia itu sendiri adalah jelmaan dari material yang bernafas. Asal kehidupan terjadi dengan sendirinya secara spontan. (Generatio spontaniae).

Dongeng tentang kehidupan yang mereka buat adalah bahawa hidup itu berasal dari material, material membentuk atom, atom membentuk molekul, kemudian membentuk asam amino. Tiba-tiba ada eletrik dan terbentuklah makhluk hidup yang paling sederhana iaitu virus. Dari virus berkembang dan berevolusi menjadi makhluk bersel kemudian menjadi makhluk-makhluk lain yang lebih kompleks, misalnya ikan, tikus, anjing, monyet dan akhirnya menjadi manusia.

Mereka mengingkari sisi rohani, iaitu adanya pencipta dibalik kehidupan. Mereka menganggap bayi lahir sekadar adanya pertemuan sperma dengan sel telur. Sehingga Descrates mengatakan “Beri aku material, maka kuciptakan kehidupan”.

Aqidah Komunis ini memang berbeza dari Sekularisme namun dalam memandang kebahagiaan di dunia ini mereka sepakat, bahawa “kebahagiaan” itu adalah meneguk sebesar-besarnya kenikmatan dunia.

Islam

Asas dari mabda’ Islam adalah aqidah Islam iaitu: “Laa ilaaha ilaallah Muhammadarrasulullah”. Penjabarannya adalah, bahawa disebalik alam semesta, kehidupan dan manusia ini ada pencipta, iaitu Allah ‘Azza wa jalla, inilah sisi kerohanian. Ertinya mengakui bahawa benda-benda itu adalah makhluk Allah, sedangkan wujud dari benda-benda itu adalah sisi materi. Jadi dalam beriman kepada Allah harus disertai iman kepada kenabian Muhammad Rasulullah dan iman kepada Qur’an tanpa ragu sedikitpun, sehingga apa yang datang dari Al-Quran harus diterima.

Dalam memandang dunia, alam sebelum dan sesudah kehidupan didunia ini Islam menyatakan adanya hubungan. Iaitu adanya Allah yang memberikan perintah untuk beribadah di dunia serta adanya perhitungan dan balasan diakhirat terhadap amal ibadah yang dilakukan di dunia. Jadi harus terikat dengan Syari’at Allah.

Dalam beramal, Islam mengenal pandangan mencampurkan material dengan roh. Misalnya, seseorang yang berbicara dengan orang lain, unsur materialnya adalah perbuatan berbicara itu, sedangkan unsur rohnya adalah kesedaran dari pembicara bahawa apa yang ia bicarakan itu akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah SWT pada hari kiamat. Dalam masalah berdagang, unsur materialnya adalah perdagangan itu, sedangkan unsur rohnya adalah kesedaran pedagang, bahawa barang dagangannya dapat dipertanggungjawabkan kehalalan dan keharamannya menurut hukum Islam.

Proses Lahirnya Aturan Sekulerisme/Kapitalisme

Kerana asasnya memisahkan agama dari kehidupan, maka aturan harus lahir dari manusia. Manusialah yang berhak membuat aturan. Agama hanya tinggal di masjid-masjid atau gereja-gereja. Dilarang campur tangan agama dalam masalah kehidupan. Dikatakan bahawa agama tidak dilarang, tetapi hanya dibatasi. Agama adalah sesuatu yang suci, sehingga jangan sampai dicampur-adukkan dengan masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain.

Komunisme

Komunis menganggap bahawa aturan lahir dari perkembangan alat produksi. Ketika alat produksi berupa kapak, lahirlah feudalisme. Ketika kapak diganti dengan mesin-mesin, lahirlah kapitalisme. Setelah kelas-kelas itu hilang, lahirlah sosialisme, dan pada akhirnya nanti akan terwujud syurga untuk komunisme. Dari sana kita bisa menyimpulkan bahawa aturan dari mabda’ ini diambil dari evolusi material.

Islam

Sedangkan Islam mengakui bahawa Allah SWT sebagai pemegang keputusan hukum, maka aturannya lahir dari syari’at yang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya. Dalam memecahkan setiap masalah, seorang muslim mempunyai tiga langkah ketika akan menghukumi suatu permasalahan, iaitu: Mempelajari permasalahan yang muncul, Mempelajari hukum yang berkenaan dengan permasalahan tadi, dan akhirnya mengambil hukum baik secara langsug mahupun secara istimbath.

Mabda’ yang Sahih

Setelah kita membandingkan ketiga mabda’ yang ada saat ini, maka kita dapat membuktikan dari ketiganya mana yang dapat dikategorikan sebagai mabda’ yang sahih dengan melihat kesahihan aqidahnya. Aqidah yang sahih adalah aqidah yang :

1. Sesuai dengan Fitrah
2. Memuaskan Akal
3. Mententeramkan batin

Dari ketiga mabda’ ternyata hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, kerana secara fitrah keadaan manusia itu terbatas, lemah dan membutuhkan perlindungan kepada sesuatu yang memiliki kekuasaan ang luar biasa dan ini dibuktikan dengan mengakui adanya Pencipta dan kekuasaan-Nya, sehingga hanya aturan dari Penciptalah yang berhak dijadikan sebagai tolak ukur perbuatan manusia dalam kehidupan dunia. Berbeza dengan mabda Sekularisme/Kapitalisme yang mengakui adanya Pencipta, tetapi menafikan kemahakuasaannya sehingga dalam menjalankan kehidupan dunia tidak menerima aturan dari sang Pencipta, dengan begitu jelas bahawa mabda ini tidak sesuai dengan fitrah manusia dari sisi memisahkan agama dari kehidupan, sehingga mabda ini menghendaki aturan yang dipakai dalam kehidupan dunia adalah aturan buatan manusia yang berlandaskan manfaat yang tidak ada hubungannya dengan agama. Sedangkan Komunis nyata-nyata tidak mengakui adanya Pencipta.

Aqidah Islam pun menyatakan bahawa alam semesta, manusia dan kehidupan ini diciptakan oleh Allah SWT sesuai dengan akal baik melalui pengamatan mahupun dengan bukti-bukti yang nyata. Tentunya setiap yang lemah, terbatas, serba kurang dan saling memerlukan satu dengan yang lainnya itu ada Penciptanya. Sehingga jika ada orang komunis menyatakan bahawa pencipta itu tidak ada, adalah tidak logik dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan pengakuan Sekularisme/Kapitalisme terhadap adanya Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan tapi menyatakan bahawa pencipta tidak mampu mengaturnya adalah jelas tidak logik pula. Sehingga kecuali Islam, kedua mabda lainnya (Komunis dan Kapitalis) tidak dapat memuaskan akal.

Ketika menyedari bahawa alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada yang menciptakan dan Penciptanya pun menurunkan aturan (perintah dan larangan) yang tentunya harus dilaksanakan dalam seluruh aktiviti kehidupan yang pada akhirnya kita akan mempertanggungjawabkan seluruh aktiviti kehidupan kita dihadapan Pencipta, maka kita telah mendapatkan sedkit gambaran dari ketiga mabda yang ada saat ini dan Mabda’ Islamlah mabda’ yang sahih, ertinya dia memang sebuah mabda’ bukan ciptaan manusia. Bahkan dia ada lebih dahulu sebelum munculnya Kapitalisme dan Sosialisme. Jadi salah besar jika dikatakan bahawa Islam adalah hasil olahan Kapitalisme dan Sosialisme, dengan mengambil yang baik-baik saja dari keduanya. Islam adalah kepunyaan Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya dan Allah SWT hanya meredhai Islam untuk manusia, yang lain adalah bathil dan pasti akan lenyap, cepat atau lambat.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan kepadamu agama kamu dan telah Ku-cukupkan atas kamu nikmat-Ku, dan Aku telah redha Islam sebagai agamamu….” (QS. Al-Maidah:3)

“Sesungguhnya agama yang diredhai disisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran:19)

Cara Syaitan Menelanjangi Wanita

May 24, 2010

Artikel ini bertujuan untuk membuka pemikiran para muslimah agar berhati-hati dengan godaan syaitan laknatullah. Semoga terbuka minda anda semua.

Syaitan dalam menggoda manusia memiliki berbagai cara strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Syaitan seakan mengetahui kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut adalah cara bertahap: I. Menghilangkan Definisi Hijab Dalam tahap ini syaitan membisikkan kepada para wanita, bahawa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekadar pakaian atau gaya hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian, dengan apa pun bentuk dan namanya tetap pakaian. Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai. Berbeza halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahawa hijab adalah pakaian syar’i (identiti keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekadar gaya ( fesyen ). Biarpun hidup bila saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan. Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka syaitan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya? Pertama, Membuka Bahagian Tangan Telapak tangan mungkin sudah kebiasaannya terbuka, maka syaitan membisikkan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bahagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan syaitan. Dan benar si wanita akhirnya memakai pakaian model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki melihatnya juga seperti biasa saja. Maka syaitan berbisik,” Tu.. tidak apa-apa kan? Kedua, Membuka Leher dan Dada Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah syaitan untuk membisikkan perkara baru lagi. “Kini buka tangan sudah menjadi lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bahagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekadar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak panas. Cubalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya sebahagian kecil sahaja yang terbuka. Maka dipakailah pakaian fesyen terbaru yang terbuka bahagian leher dan dadanya dari yang fesyen setengah lingkaran hingga yang fesyen bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bahagian sensitif lagi dari dadanya. Ketiga, Berpakaian Tapi Telanjang Syaitan berbisik lagi, “Pakaian mu hanya gitu-gitu saja, yak “cool” cari fesyen atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Si wanita berfikir. “Banyak fesyen dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih sedap/cantik dipandang,” syaitan memberi idea baru. Maka tergodalah si wanita, di carilah fesyen pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparent. “Mungkin tak ada masalah, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan fesyennya saja yang agak berbeza, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menokok-nambah. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparent, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang). Keempat, Agak di Buka Sedikit Setelah para wanita muslimah mengenakan pakaian yang ketat, maka syaitan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan idea baru yang sepertinya “cool” dan “vogue”, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa tak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih selesa, lebih kelihatan lincah dan energik.” Lalu dicubalah idea baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai dari bahagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih selesa dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik kenderaan. “Yah…. tersingkap sedikit tak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya. Inilah tahapan awal syaitan merosak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya fesyen, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeza dengan hijab syar’i yang sebenarnya. Maka kini mulailah syaitan pada tahap berikutnya. II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit Kini syaitan melangkah lagi, dengan tipu daya lain yang lebih “power”, tujuannya agar para wanita menampakkan bahagian aurat tubuhnya. Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit Syaitan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar tidak selesa, kalau hanya dengan membelah sedikit bahagiannya masih kurang leluasa, lebih elok kalau dipotong sahaja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh…… ada yang yang terlupa, kalau kamu pakai baju sedemikian, maka jilbab yang besar tidak sepadan lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan sepadan, ala……. orang tetap menamakannya dengan jilbab.” Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini terburu-buru mencari fesyen pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan kasut tumit tinggi, yang kalau untuk berjalan, dapat menarik perhatian orang. Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang yang melihat juga tidak begitu ambil peduli. Maka syaitan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak ada reaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cubalah kamu cari fesyen lain yang lebih menarik, bukankah kini banyak skirt separuh betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu terdedah, hanya terlihat kira-kira sepuluh centimetre saja.” Nanti kalau sudah biasa, baru kamu cari fesyen baru yang terbuka hingga separuh betis.” Benar-benar bisikan syaitan dan hawa nafsu telah menjadi penasihat peribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan syaitan dalam jiwanya dia turutkan. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi. Ketiga, Terbuka Seluruh Betis Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, syaitan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang si wanita berfikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun bisikan syaitan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas tidak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak lelaki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka iaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.” Tetapi? apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum lelaki,” bersungut. “Fitnah? Ah…… itu kan zaman dulu, di masa itu kaum lelaki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeza, kini kaum lelaki kalau melihat bahagian tubuh wanita yang terbuka, malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini bererti sudah tidak ada lagi fitnah, kerana sama- sama suka? Lihat saja fesyen pakaian di sana-sini, dari yang di pasar malam hingga yang berjenama di pusat membeli belah, semuanya memperagakan fesyen yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikutinya, akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.” Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis akhirnya menjadi kebiasaan, apalagi ramai yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempersoalkannya. Kini tibalah saatnya syaitan melancarkan tahap terakhir dari tipu dayannya untuk melucuti hijab wanita. III. Serba Mini Setelah pakaian yang menampakkan betis menjadi pakaian sehari- harian dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan syaitan yang lain. “Pakaian memerlukan variasi, jangan yang itu-itu saja, sekarang ini fesyen skirt mini, dan agar sepadan, rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.” Maka akhirnya skirt mini yang menampakkan bahagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bahagian dada sekaligus bahagian punggungnya dan berbagai fesyen lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian untuk berpesta, bersosial, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, petang, musim panas, musim sejuk dan lain-lain, tak ketinggalan seluar pendek separuh paha pun dia miliki, fesyen dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicuba. Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh syaitan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia. Hingga suatu ketika, muncul idea untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bahagian paling ketara saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”. Kerana semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzubillah bisikan syaitan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan lelaki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu” Syaitan tak ingin ambil risiko. Penutup Demikian halus, cara yang digunakan syaitan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larutan, kerana kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sakan menjadi sukar bagi kita untuk mengatasinya. Membiarkan mereka membuka aurat bererti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyengsarakan, baik di dunia mahupun di akhirat. Wallahu a’lam bisshawab. Sumber idea dan buah fikiran: Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Thursyah Menyampaikan Kebenaran adalah kewajipan setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya. Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Al-Ahbash: Their History and Their Beliefs

May 13, 2010

Al-Ahbash:

Their History and Their Beliefs

All praise belongs to Allah, and the Salat and Salam upon the Messanger of Allah Muhammad bin Abdillah.

Habashi’s History:

This group called Ahbash relating to their first leader Abdullah Al-Harari Al-Habashi. He came to Lebanon from Ethiopia (Habashah), that’s why they called him Al-habashi/Al-Ahbash. He left Addis Ababa after he made a Fitnah there its called Qolob Fitnah. The Addis Ababa’s people know him as Shikh Al-Fitnah according to evidence from some of his relative. What he did there, he work with the ruler of Endraji -the son in law for the Ethiopia’s president Helaselasi – against Islamic Associations there, and he helped him to close all the Islamic National Association’s schools for memorizing the Holy Quran in Harar city in 1940 ( 1367 Hejrah), and they issued their judge on the schools’ manager – Ibrahim Hassan- to jail him twenty three years, also he helped that ruler to internment the scholars there. He did that for those people, because they are Wahabi. For that reason, the people called him after that is the Shikh Al-Fitnah.

When he came to Lebanon, his followers there forgot his history, and he still does there – in Lebanon – as what he did before in Ethiopia, if you disagree with him in any problem you will be Kafir automatically, he said Ikhwan, Al-Albani and Ibn Baz are Kuffars, Ibn Taymiyah is Kafir and Murtad and Zendeq and he asked his followers to lit Ibn Taymiyyah’s books, Imam Al-thahabi is wicked, Sayd Sabeq is Majusi (The people who worship the fire) and in the other side he praised Jamal AbdulNasir because he killed Syed Qutob! He asked his followers to hit or kill anyone who has beliefs different than their beliefs, to make sure ask the Lebanon’s Mosques Imams, ask Adnan Yasen, how many times they tried to kill him, ask Hassan Katuji, what he did for them to let them following him to hit an hurt him, ask Jamal Al-Thahabi and Abdul-Hamed Shanuha and others why they leave Lebanon. Try to listen to their Radio, and see what they described Shikh Muhammad Al-Juzo, they describe him as lewd man.

In front of all these things, we could not find him or his followers did something toward the Batiniyah, but what he did in one of his lectures, he encouraged the people to appeal the aid from AL-Albeit, and there is no problem to say O’ Ali or O’ Hussein ( Ya Ali , Ya Hussein).

He also, gave some strange fatwas for his followers, he allow Al-riba (the interest). Some people said he is Jew man, however there is no clear evidence for that, but at least he has a lot of the Jew’s characteristics.

Habashi’s Beliefs :

Al-Ahbash claimed that they follow Al-Shafi’e. To make sure about that let us see their beliefs to know if they follow Al-Shafi’s Beliefs or not.

1- They change the meaning of Allah’s attributes based on the desire. But Al-Shafi as all Ahlu-sunnah beliefs Allah’s attributes as what Allah (S.W.T) mentions them in His book and in the Sunnah of His Messengers without any meaning’s changing, exchanging, or misconstruction. Look what Al-Habashi and his followers said about ‘ Al-Istiwa’ ” Al-rahman ala al’arsh istawa” translation ” The most Beneficent (Allah) Istawa (rose over) the mighty Throne (in a manner that suits His Majesty) -Taha verse 5- , what they – Ahbash- said about the meaning of this word ‘Istawa’ they said it means take possession of the Throne, that means there was a god before Allah , then Allah possessed the throne from that first god, which no Muslim will believe or accept that , Ta-a’la-Allah Oluwan Kabera. The meaning of Istawa we believe it as, according Imam Malik, when someone ask him about Al-Istiwa he – may Allah have mercy on him- Al-Istiwa’s meaning is known, how is unknown, believe it is obligation, and to ask about is Bed’ah, then he asked this man to go because he is Mubtad’a.

2- He -Al-Habashi- encourage people to go to the graves and appeal for aid from dead, also he allows to seek the protection from other than Allah (look Al-Daleel Al-Qaweem P.173, Bwghyat Al-Talib P.8, Sareeh Al-Bayan P.57-62). Also, he said Al-Awleya come from their graves to do people’s needs, then they go back to their graves ! (look Khalid Kanan’s tape /b/70). Also, he ask people to have Tabaruk by stone ( look Sareh Al-Byan P. 58, Ithhar Al-Aqedah Al-Sunnyah P.244). Do you think Al-Shafi does or believe these garbage?!

3- He is Jabri, he said Allah help the Kuffars on their Kufer, if Allah did not help them they will not be Kuffar ( look Al-Nahj Al-Saleem P. 67).

4-  He- Al-Habashi- said that Syed Qutub is Kafer, because he prohibit Judges to judge between people using the human’s law (against Islam).

5- He tries to get Shi’ah’s agree by talking a lot about the Fitans which happened between companions, and he insult Mua’wyah (R.A.A) a lot and he – Al-Habashi – made him -Mua’wyah – of Fire’s people, also he mention a lot of Shia’h’s stories about Mua’wyah (R.A.A).

6- He insult the scholars beginning with the companions especially Mua’wyah (R.A.A) ( look Ethhar Al-Aqeedah AlSunnyah P. 182). look to some of his tape like (tape No. 13/A/94) to see what he said about Shaikh Al-Islam Ibn Taymiyah, also, look at (Al-Magalat Al-Sunnyah P. 15, 24, 26, 57, 62, 75). Look what he said about Imam Al-Thahabi, he said he is wicked, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab murder and Kafer (look at their Manar Al-Huda Magazine Issue 3 P.34). Shaikh Syed Sabiq is Majosi Kafir (tape No. 1/A/181). Syed Qutub is one of Al-Khawarij’s heads, he is Kafir, and he is journal’s communist (look Al-Nahj Al-Sawi fi Al-Rad ala Syed Qutub Wa Tabi’eh Fiysal Muwlawi P. 3)

(Note : I forget to mention that in first part, all these information I got from Shikh Abdul-Rahman Demashqiyyah’s book about this bad group).

Some of Al-Habashi’s (Abdullah Al-Harari – Al-Habashi) Fatawa ( Beliefs and practice):

Allah said in the Quran ” They could not thus harm anyone except by Allah’s leave” (Al-Imran verse 102).

1- He pretends that, he has the prophet’s finger ring, and he shows it to the people, and they jump to kiss it.

2- Al-Habashi divides the Islamic resources to facts, Share’ah, inner (Baten), outer (thaher), he pretends that, he gets the knowledge from Allah by some kind of knowledge its name (Al-Elm Al-Ladoni), also, he pretends that, he meets Nabi Khidir.

Did you believe these garbage?

Look how many great association they have in Lebanon. Also, when you look at the rulers in Lebanon you will find them like this group and fight with it. This gives evidence of that they have some political goal as well as beliefs goals.

BEBASKAN MALAYSIA DARI NEO-AHBASH

May 13, 2010

Golongan takfiriyah (mengkafirkan orang) dalam perkara yang tidak jelas sememangnya wujud. Di Lubnan, wujud satu golongan yang disebut sebagai Ahbash. Pemikiran asya’irah dan bermazhab Syafie, tidak menjadi sebarang masalah. Tetapi, apabila mereka mengkafirkan orang yang tidak sealiran dengan mereka, ia merupakan satu tindakan yang tidak sewajarnya berlaku.

Di Malaysia, pemikiran sealiran ini semakin wujud. Golongan ini, mengulas agama bukan dengan ilmu, sebaliknya dengan sentimen kemelayuan.

“bimbang melayu hilang di Malaysia” itulah ayat yang sering kedengaran.

“peduli hapa dengan melayu nak hilang. Yang penting, Islam berjaya disebar-luaskan kepada semua bangsa di malaysia!” bisik benak hatiku.

“Aku lebih rela melihat bangsa india muslim dan cina muslim memimpin Islam, jika mereka mampu, berbanding melihat melayu sekular yang sudah terbukti gagal memimpin Islam di malaysia” sambung bisikan hatiku lagi.

Justeru, apabila wujud golongan yang menyatakan bahawa Islam perlu disebarluaskan kepada bangsa selain melayu, mereka akan memberi label-label berwajah islamik kepada golongan tersebut.

“anta ni kafir, munafiq, Tak Wala’” adalah perkataan biasa didengari dari mereka yang tidak sebulu.

Islam mereka, Islam label, bukan Islam ajaran nabi. Nabi SAW menyeru manusia dengan pelbagai gaya dan cara. Yang pastinya, semuanya berasaskan kepada ilmu dan hujjah. Adapun golongan ini, mereka berhujjah atas emosi.

Mujur mereka ini tidak menjadi pemerintah yang menguasai Kerajaan yang mempunyai polis, tentera dan penjara. jika tidak, sudah pasti mereka lebih zalim dari kerajaan Amerika yang menangkap musuh-musuh politik, lalu disumbat dalam penjara goantonamo.

BUDAYA ILMU

« Ana masa belajar di UK dulu, ana dapat lihat banyak masjid-masjid yang asalnya adalah gereja.. » salah seorang kawan bekas pelajar di UK memberi komentar dikala isu melibatkan agama di Malaysia sedang dibicarakan.

« isy.. macam mana boleh jadi macam tu ? » soalku kepelikkan.

« syaikh… sejak isu 11 september, Bush pergi tuduh Islam ganas, menyebabkan ramai orang barat dah kaji Islam. Mereka berhujjah dengan ulama-ulama Islam di sana… bila ulama sana bagi hujjah yang baik, mereka terpegun dan ramai-ramai memeluk islam » jawabnya ringkas tetapi menarik.

“kami di Sarawak pula, semenjak merdeka lagi, Kristian di sana guna kalimah Allah. Mengikut kiraan, yang ramai masuk Islam lebih ramai berbanding yang murtad. Kalau ada yang murtad, bukan kerana kalimah Allah, tapi kerana pendakwah tidak follow up” sampuk seorang kawan yang berasal dari sarawak ketika berbual tentang isu kalimah Allah yang sedang diperhangatkan kini.

Menarik apabila mendengar dari mereka yang pernah duduk di barat bercerita tentang perkembangan Islam di sana. Kita yang tidak pernah sampai di bumi barat, tidak dapat merasakan perkembangan itu. Lebih-lebih lagi, kita ini hidup di bumi arab yang mundur dari banyak sudut. Jika mereka hebat segi keilmuan, tetapi ilmu mereka hanya berlegar di dalam kitab, tidak seperti barat yang dilihat mempunyai keilmuan teknologi, tetapi banyak pendakwahan Islam berlaku di barat.

“macam mana yee.. perkembangan sebegitu menarik boleh berlaku” soalku kepada kawan yang pernah belajar di UK, kerana ingin mengetahui lebih mendalam.

“syaikh… di sana mereka mengamalkan perdebatan islam secara ilmiyah. Ulama di sana, bukan macam orang-orang Melayu di malaysia ni. Asyik-asyik melabel. Kafir sana, kafir sini.. last-last sekali, bukan orang kafir yang nak masuk Islam… orang islam sendiri meluat dengan islam.. salah ustaz tu juga” jawab kawan yang pernah menuntut di UK.

Mendengar celoteh-celoteh sebegini, menyebabkan aku terfikir tentang cara yang terbaik untuk mengembangkan Islam. Sudah pasti, pemikiran Ahbash ini tidak relevan. Ini kerana, pemikiran sebegini bukan boleh mendekatkan manusia dengan Islam, sebaliknya memberi kerugian dengan menjauhkan manusia dengan islam.

Demi kemajuan dan peningkatan umat Islam, Nyah pemikiran neo-ahbash dari Malaysia.

sekian

Wallahu ’Alam.

Bahaya pemikiran kelompok Ahbash

May 13, 2010

SUKA mengkafir dan menyesatkan orang lain bukan akhlak muslim. Ahlul Sunnah wal Jamaah berpegang kepada asas tidak mengkafirkan individu Muslim lain melainkan terdapat bukti yang yakin tanpa syak dan tidak keuzuran lagi yang boleh diberikan kepadanya.
Sabda Nabi SAW:” Sesiapa yang memanggil orang lain dengan ‘kafir’ atau ‘musuh Allah’ sedang dia tidak begitu, maka tuduhan itu kembali kepadanya (penuduh)” (riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Sikap suka menuduh orang lain kafir atau sesat sewenang-wenangnya merupakan penyakit jiwa yang terpendam dalam dada si penuduh yang berpunca daripada keegoan, sikap pantang berbeza pendapat, suka monopoli kuasa dan suka menyalahgunakan agama. Lebih bahaya daripada itu, sikap suka mengkafir ini akan membawa kepada perbalahan yang meruncing dalam masyarakat Islam, bahkan sering membawa kepada tumpah darah yang banyak terjadi dalam sejarah umat ini.
Kebelakangan ini kita dapati ada pihak yang tidak menerima beberapa pandangan jumhur ulamak Islam. Tidak dapat menerima itu tidak menjadi masalah, kerana memang adat kehidupan untuk manusia berbeza pendapat. Tetapi apabila mereka yang enggan menerima pandangan yang dianggap berbeza dengan tradisi yang mereka pertahankan itu mula menggunakan pendekatan kafir mengkafir dan sesat menyesat, ini amatlah merbahaya.
Antara aliran yang terkenal suka mengkafirkan orang lain ialah aliran Ahbash. Ahbash adalah aliran atau puak yang berpusat di Lebanon yang diasaskan oleh seorang lelaki Habsyi atau Afrika yang dikenali dengan nama Abdullah al-Harari. Mereka mendakwa sebagai Ahlul Sunnah Wal Jamaah sejati dan sesiapa yang berbeza pendapat dengan mereka menjadi sesat atau kafir.  Dr. Yusuf al-Qaradawi mengulas tentang puak ini dengan katanya: “Semenjak beberapa tahun yang lalu aku ada mendengar tentang satu jemaah yang zahir di Lebanon, ia menimbulkan masalah kepada umat Islam di sana dengan pendapat- pendapat yang pelik, menyeleweng dan pandangan yang merbahaya dalam persoalan akidah, fiqh dan akhlak dan yang lebih dahsyat bahayanya apabila mereka mengkafirkan setiap orang yang berbeza dengan mereka dalam kalangan umat Islam hari ini atau yang terdahulu.
Mereka mengkafirkan Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah, anak muridnya al-Imam Ibn al-Qayyim, dan sesiapa saja yang mengikut dua tokoh ini. Demikian juga mereka mengkafirkan ramai daripada ulama semasa seperti al-‘Allamah al-Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Pemikir Islam Syed Qutb, dan selainnya. Golongan Ahbash yang pelampau dan menyeleweng ini mendakwa mereka adalah dari mazhab al-Imam Abu al-Hasan al-‘Asy‘ariy segi aqidah, mazhab al-Imam al-Syafie segi fiqh dan mengikut Tarikat al-Rifa‘iyyah dalam berakhlak. Akan tetapi hakikatnya mereka amat jauh dari manhaj kesemua para imam itu sama ada dalam pemikiran, adab dan akhlak.
Kumpulan ini yang mulanya timbul di Lebanon, dinamakan sebagai al-Ahbash, kerana tuan milik dakwah dan pemegang bendera mereka adalah seorang lelaki dari Habsyah (Ethiopia) berasal dari Harara, dia mendakwa dakwahnya ini adalah dakwah yang baru, padahal hasrat utamanya ialah memecah belahkan kesatuan umat Islam, mengkucar-kacirkan mereka dan menyalakan api fitnah antara barisan umat Islam dan menghalang setiap usaha untuk membantu perkembangan agama ini. (Dr Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Muasarah 3/685-686, Dar al-Qalam). Al-Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi juga menyebut: “Termasuk perkara yang pelik, mereka golongan Ahbash ini mentohmah aku ini wahabi dan taksub dengan para imam Wahabi, seringkali aku apabila bercakap mengambil daripada Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim dan madrasah mereka berdua, mereka (Ahbash) menuduh Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim ini menyalahi ijma’ dalam persoalan ini dan itu..”
Timbalan Presiden The European Council for Fatwa and Research (ECFR), al-Syeikh Faisal Maulawi menyebut: “al-Ahbash atau (Jam‘iyyah al-Masyari’ al-Khairiyyah al-Islamiyyah) mereka adalah anak-anak murid al-Syeikh Abdullah al-Harari. Mereka memiliki jalan tersendiri dalam perkara akidah yang menjadikan mereka mengkafirkan umat Islam dan para ulamanya hanya kerana sebab-sebab yang remeh-temeh. Sama halnya, mereka memiliki jalan tersendiri dalam perkara fiqh yang berbeza dengan kebanyakan para ulama hari ini. Perbincangan dengan mereka tidak mendatangkan faedah, kerana mereka tidak akan menerima melainkan pandangan-pandangan syeikh mereka. Jika kamu (orang yang meminta fatwa) menjauhi masjid-masjid mereka (golongan Ahbash), itulah yang lebih utama bagi mengelak berlakunya perbalahan yang tidak berfaedah”.
Kementerian Wakaf Mesir, Bahagian Dakwah pula membuat kenyataan berikut: “Maka untuk pertama kalinya muncul seorang lelaki yang pelik dari Habsyah, pelik dari segi pemikiran dan metod yang diikutinya dalam menyebarkan fitnah di kalangan Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Pertama kali juga tersebarnya kalimah takfir (pengkafiran) melalui lisan sebahagian mereka. Juga pertama kalinya terjadi masalah kekeluargaan lalu anak-anak mengkafirkan ayah-ayah mereka dan berlakunya persengketaan dan perpecahan antara ayah dengan anak-anak.
Pertama kalinya muncul mereka yang melampau ke atas ulama besar Ahlul Sunah wal Jamaah yang beramal dan berjuang di atas agama dengan cara yang dipenuhi dengan hasad dengki dan menghukum para ulama sebagai kafir. Sesungguhnya al-Habasyi (pengasas Ahbash) mengkafirkan ulama besar seperti Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Sayyid Qutb, Muhammad Mutawalli al-Sya‘rawi, Muhammad al-Ghazali dan Sayyid Sabiq. Di antara ulama Lebanon yang mereka kafirkan ialah Hassan Khalid, Subhi Salih, dan Faisal Maulawi dan banyak lagi yang mereka kafirkan dari ulama-ulama Al-Azhar al-Syarif”.
Antara perkara menakutkan yang digunakan oleh puak Ahbash ini, selain dari maki-hamun, cerca, fitnah dan serangan peribadi, mereka juga menggunakan pendekatan menghalalkan darah orang yang mereka musuhi. Sebab itu di Lebanon, sebelum ini mereka begitu bermaharajalela sehinggalah mereka dikaitkan dengan pembunuhan Presiden Rafiq Hariri. Ini apabila Ulil Amri yang dirasakan sudah tidak dapat bekerjasama dengan mereka. Sebelum itu mereka juga mengkafirkan bekas Mufti Lebanon Hasan Khalid dan membunuhnya. Mereka menulis di dinding-dinding di Lebanon: “Katakan tidak kepada Hassan Khalid yang kafir”.

Tabiat
Menjadi tabiat puak Ahbash ini suka memfitnah mengada-adakan cerita bohong dan mempersendakan gambar dan mengubah fakta. The Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA) menyebut bagaimana pengasas mereka Abdullah Harari berpakat menghasut pihak berkuasa Habsyah sehingga menyebabkan pengetua Pusat Tahfiz al-Quran di sana di penjarakan selama 23 tahun. (http://www.amjaonline.com/ar). Pendekatan menggunakan pihak berkuasa dan mendampingi pemerintah dengan menyebarkan racun fitnah, cerca, mengkafir merupakan jalan yang dipilih oleh Ahbash di negara-negara yang mereka cuba bertapak.
akhbar al-Watan ketika melaporkan kematian pengasas Ahbash itu menyebut: “Kelmarin (2/9/2008) Abdullah al-Harari, Pengasas dan Mursyid kerohanian bagi gerakan al-Ahbash telah meninggal dunia di Lebanon ketika umurnya 98 tahun…Al-Harari (Abdullah al-Harari) dilahirkan di Harara pada tahun 1910M, seterusnya berpindah-randah di beberapa negara Arab sebelum menetap di Lebanon pada tahun 1950M, beliau sering mengkafirkan para ulama umat Islam.” (Akhbar al-Watan: Rabu 3 Ramadan 1429, bersamaan 3 September 2008, bil. 2896 tahun kelapan).

BAHAYA AHBASH-Kejahilan Membawa kesesatan

May 13, 2010

Kementerian Wakaf Mesir- Dr Fikri Ismail mengulas tentang AHBASH

Dr. Fikri Ismail wakil kementerian Wakaf Mesir bahagian Dakwah berkata:

Tidak pernah lagi sepanjang sejarah di dalam ahli sunnah wal jamaah mereka berbeza di dalam masalah Aqidah. Dan tidak pernah berlaku juga mereka mengkafirkan salah seorang dari ulamak yang dikenali kerana ketaqwaan, kewarakan, keluasan ilmu dan keikhlasan mereka kepada agama sama ada di dalam atau di luar Lubnan.

Dan untuk pertama kalinya muncul seorang lelaki yang pelik dari Habsyah, pelik dari segi pemikiran dan method yang diikutinya di dalam menyebarkan fitnah di kalangan ahli sunnah wal jamaah. Pertama kali juga tersebarnya kalimah takfir (pengkafiran) melalui lisan sebahagian mereka. Juga pertama kalinya terjadi masalah kekeluargaan lalu anak-anak mengkafirkan ayah-ayah mereka dan berlakunya persengketaan dan perpecahan antara ayah dengan anak-anak. Dan pertama kali juga berlaku pengkafiran diantara isteri dan suami yang menimbulkan pergaduhan rumahtangga sehingga isteri menuntut cerai dari suami. Dan pertama kalinya muncul mereka yang melampau ke atas ulamak besar ahli sunnah wal jamaah yang beramal dan berjuang di atas agama dengan cara yang dipenuhi dengan hasad dengki dan menghukum para ulamak sebagai kafir.

Sesungguhnya al-Habasyi mengkafirkan ulamak besar seperti Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Sayyid Qutub, Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Muhammad al-Ghazali, Sayyid Sabiq dan Syaikh Taqiuddin An-Nabhani. Di antara ulamak Lubnan yang mereka kafirkan Hassan Khalid, Subhi Soleh, dan Faisal Maulawi dan banyak lagi yang mereka kafirkan dari ulamak-ulamak Al-Azhar al-Syarif. Tetapi persoalannya kenapa mereka menyerang ulamak besar yang mereka ini dii’tiraf dengan keilmuan di sepanjang sejarah ahli sunnah wal Jamaah baik dalam aqidah dan pemikiran?

Sebabnya iri hati dan hasad dengki dan suka untuk menonjolkan diri dengan menganggap sebagai ulamak besar. Maka al-Habasyi dari satu sudut seorang ta’asub kepada bangsa lalu dia ini membenci orang arab, dari sudut yang lain pula dia ini secara batinnya berhasad dengki dengan ahli sunnah.Walaupun dia ini mendakwa ahli sunnah tetapi dakwaan ini memerlukan kepada dalil atau bukti.Dan tidak ada maklumat yang kukuh yang menyatakan apakah tujuan sebenar disebalik kedatangannya ke Lubnan dan menghimpunkan orang-orang yang jahil di sekelilingnya…

Fatwa Sheikh Abu Muhammad Al-Maqdisi: Bahawasanya Ahbash lebih Teruk Dari Khawarij Malah Mereka Sesat.

Begitu juga fatwa al-Syeikh Abu Qatadah Umar bin Mahmud Abu ‘Umar Jawapan kepada soalan dari umat Islam di Australia

Namun apa yang aneh dan Peliknya bagaimanakah Ulama Malaysia boleh memberi pengiktirafan kepada Jamaah Sesat Ahbash?saya terpanggil untuk bertanya dengan beberapa Ulama pengkhususan Aqidah di Malaysia tentang hal ini .

Alhamdulilah jawapan yang diberikan amat memuaskan iaitu “kami Para-para ahli ilmu tidak mengenali abdullah harari sekalipun bertemu dengannya , Yang kami kedengaran hanyalah daripada beberapa anak-anak muridnya yang cuba membawa Anasir firqah Takfir ini ke malaysia yang kononya bertopengkan Aqidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah.Manakala mereka ini hanyalah kambing Hitam beberapa Badan Swasta yang membencikan Ahli Sunnah.

Menjawab isu Pengiktirafan yang diberi oleh Ulama malaysia adalah satu pengiktirafan rambang tanpa mengenali individu tersebut bagaikan “Ayah Pin diiktirafkan Ulama Indonesia dan Thailand.Ini kerana mereka hanya mendengar tanpa mengenali dengan lebih dekat .

Sepatutnya dan sewajibnya Tazkiyah(pengiktirafan) diberi dengan cara yang “tsiqah”benar” dengan mengenali puak atau individu dengan lebih dekat dan sekurang-kurangnya bertanyakan Ulama-Ulama Didalam negaranya dan Ulama yang berjiran dengannya .

Permasalahan timbul adalah ulama-ulama hatta Mufti Lubnan menyatakan Ahbash sesat dan Mufti Syria juga menyatakan pendiriannya akan kesesatan Ahbash .

Fatwa Dr wahbah Zuhaily

س: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
تقدم لأختي شاب ووافقنا، وبعد أن خطبها قال لها: إنه من جماعة الأحباش. فما أهم معتقدات هذه الجماعة؟
وإذا تزوجت أختي منه فما حكم هذا الزواج؟

ج: بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
نحن نقول بأن المسلمين الذين ثبتت صحة ديانتهم هم مسلمون، ويجوز الزواج منهم والتزويج إليهم، لكني أنصحك بعدم الموافقة على هذا الزواج؛ لأن هؤلاء الجماعة لديهم أفكار وآراء لا تتفق مع ما هو مقرر لدى جماهير الأمة الإسلامية.
فيكون هناك احتمال للوقوع في مشاكل ومصادمات وخصومات بسبب هذه الآراء الشاذة التي يقررونها ويعتقدون بها.
هذا من قبيل النصيحة. والله يتولى

الصالحين. والله أعلم.

soalan:
Seorang pemuda meminang adik perempuan saya. Selepas peminangan, pemuda ini berkata kepada adik saya bahawa dia dari dari golongan al-Ahbasy. Apakah i’tiqad-i’tiqad mereka yang penting. Apabila adik saya berkahwin dengan pemuda ini, apakah hukum perkahwinannya?

Jawapan al-Zuhailiy: Kita mengatakan, bahawa muslimin apabila sabit benar agamanya maka mereka adalah dari kalangan muslimin. Boleh perkahwinan dengan mereka. Namun, saya menasihati anda agar tidak bersetuju atas perkahwinan ini (dgn pemuda al-Ahbasy). Kerana mereka (al-Ahbasy) mempunyai pandangan dan pendapat yang tidak menepati apa yang telah ditetapkan oleh jumhur umat Islam.

Di sana barangkali akan berlaku masalah dan pertelagahan disebabkan pendapat-pendapat ganjil (syaz) yang mereka pegang dan i’tiqadkan.

DR WAHBAH AL-ZUHAILY merupakan Ulama terkemuka di Syria dan merupakan ulama Junjungan dan dihormati Dunia, pernah menjadi Ketua Ulama Dunia dan masih menganggotai Majlis Ulama dunia bukan seperti “Ahbash Sheikhul Fitnah”!

Katanya : Mereka adalah kumpulan sesat lagi menyesatkan wajib menjauhkan diri daripada mereka dan berhati2 dgn mereka.Kumpulan mereka adalah kumpulan fitnah dan berfatwa mengikut hawa nafsu..Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Meraka juga dibimbangi mempunyai hubungan dgn negara luar Amerika..