DEFINISI Bai al-inah secara umum dapat digambarkan sebagai berikut : seorang pedagang menjual barang dagangannya dengan diansur sampai batas waktu yang telah disepakati. Setelah itu, ia membelinya kembali pada majlis yang sama secara kontan dengan harga yang lebih rendah dari harga jual pertama.
Imam Ash-Shanani berkata, Ketahuilah bahawa yang dimaksud bai al-inah ialah seseorang menjual barang dagangannya kepada orang lain dengan harga yang sudah diketahui, diansur sampai batas waktu tertentu, lalu ia membelinya kembali dari pihak pembeli dengan harga yang lebih murah. Dengan demikian, barang dagangan semula tetap kembali ke pihak penjual.
Sebagai contoh yang lebih mudah, si A memerlukan dana cash sebesar RM 10 ribu untuk biaya operasional bisnesnya. Ia kemudian mendatangi bank islam dimana pihak bank setuju untuk menjual aset kepada si A senilai RM 10 ribu dengan sistem pembayaran ansuran (installment payment). Setelah itu, segera si A membuat perjanjian baru dengan bank islam untuk menjual asetnya kembali kepada pihak bank secara tunai seharga RM 8 ribu. Dalam hal ini, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan : si A memperoleh pinjaman RM 10 ribu dan bank mendapatkan keuntungan RM 2 ribu (RM 10 ribu - RM 8 ribu).
PERBEZAAN PENDAPAT DIANTARA PARA ULAMA
Jumhur ulama menyatakan bahawa bai al-inah dilarang sebab ia mengandung suatu cara (zariah) untuk melegitimasi riba. Hanafi berpendapat bahawa bai al-inah diperbolehkan hanya jika melibatkan pihak ketiga.
Diriwayatkan dari Anas bahwa ia pernah ditanya perihal bai al-inah maka jawabnya, Sesungguhnya Allah tidak pernah menipu (hamba-Nya), (bai al-inah) termasuk hal-hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.
Ibnu Abbas pernah berkata, Waspadalah kalian terhadap bai al-inah ini. Janganlah menukar dirham dengan dirham yang lain yang diantara keduanya ada sutera.
Maliki dan Hambali secara tegas menolak bai al-inah kerana ia adalah suatu cara untuk memanipulasi riba.
Diriwayatkan oleh Imam ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dari Abu ishaq, dari isterinya Aliyyah bahawa ia pernah menemui Aisyah ra. Bersama dengan Ummu Walad Zaid bin Arqam serta seorang wanita lain. Ummu Walad Zaid berkata, Aku pernah menjual budak kepada Zaid seharga 800 dirham dengan pembayaran tertunda. Dan aku membelinya kembali seharga 600 dirham kontan. Aisyah berkata, Sungguh tidak bagus cara engkau berjualan dan cara engkau membeli. Katakan kepada Zaid bahwa ia telah membatalkan pahala jihad dan hajinya bersama Rasulullah kecuali jika ia bertaubat !. Wanita itu berkata, Bagaimana kalau yang kuambil hanya modalku saja ?. Aisyah menjawab, Allah berfirman : Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-Nya lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) (QS.Al-Baqarah 275).